Migrasi Burung Pemangsa, Setiap Tahun Perlu di Cek Populasinya

•November 11, 2009 • Leave a Comment

Tak bosan rasanya mendengar cerita di Obrolan Kamis Sore. Selalu ada berita baru yang terjadi di ranah konservasi. Pada pertemuan ketiga, tepatnya tanggal 15 Oktober 2009, Asman Adi Purwanto dari International Animal Rescue (IAR) bercerita tentang “Migrasi Burung Pemangsa”.Topik yang menarik. Pas betul dengan kondisi alam saat ini, Oktober adalah bulannya burung-burung pemangsa (raptor) dan burung pantai bermigrasi dari belahan bumi utara menuju selatan. Dalam presentasinya, Asman menjelaskan tentang migrasi raptor secara umum, pola migrasi, serta waktu migrasi. Beberapa jenis raptor yang setiap tahunnya melintas di kawasan Puncak, Bogor, seperti Sikep-madu asia (Pernis ptilorhynchus), Elang-alap cina (Accipiter soloensis), Elang-alap jepang (Accipiter gularis), Elang kelabu (Butastur indicus), dan Baza hitam (Aviceda leuphotes).

Berkaitan dengan fenomena alam tersebut, pengamat burung di Bogor mengadakan monitoring di Bukit Paralayang, Puncak, setiap Sabtu dan Minggu, selama bulan Oktober. Selain mengamati, mereka juga menghitung jumlah burung-burung pemangsa yang melintas di kawasan tersebut . Tergantung cuacanya, jika mendung, burung-burung tersebut seakan enggan menampakan diri, melewati Puncak. Tapi, saat cuaca cerah, dengan panas matahari, burung-burung itu, bisa puluhan sekali melintas di atas kepala.

“Mengamati migrasi burung pemangsa, sebetulnya bisa merupakan bisnis tersendiri, bila dikaitkan dengan kegiatan ekowisata,” jelas Asman, mengingat fenomena ini amat langka dan beberapa pengamat burung dari luar negeri sudah mulai ikut mengamati migrasi ini di kawasan Puncak. Selama pengamatan di Puncak kadang ditemukan pula jenis burung pantai seperti Terik asia dalam rombongan migrasi raptor tersebut, namun hal ini dimungkinkan (bahkan burung ini juga beberapa kali pernah terlihat di kawasan perkotaan di Bogor) karena jenis tersebut merupakan burung pemakan serangga yang banyak terdapat di daratan.

Penghitungan jumlah dan jenis raptor yang melintas di kawasan Puncak juga dilakukan. Penghitungan ini bisa dengan metode hitung langsung atau dengan pembandingan jumlah individu yang terlihat dalam bulatan lensa (binocular) vs jumlah bulatan lensa dalam suatu kelompok burung. Penghitungan dengan metode terakhir juga bisa dilakukan secara tidak langsung, artinya kelompok burung tersebut dibuat dokumentasinya (foto/video) terlebih dahulu. Namun bila menggunakan cara ini memerlukan jenis kamera/videocam yang cukup baik, agar kelompok burung tersebut bisa terlihat jelas.

Di Jawa, pada saat datang jalur migrasi kelompok raptor terpecah menjadi 2-3 jalur, tetapi saat kembali (spring migration), jalur migrasinya cenderung ke utara. Jalur yang dilalui raptor biasanya mengikuti punggungan bukit, agar memudahkan mereka mendapat makanan dan beristirahat di hutan-hutan. Informasi rinci mengenai jalur yang pasti dilalui oleh raptor ini masih dalam penyusunan dan masih memerlukan banyak informasi lagi. Karenanya diperlukan suatu koordinasi dalam melakukan pengamatan migrasi raptor ini pada seluruh pengamat burung di Indonesia.

Di Indonesia sendiri ada beberapa jenis raptor yang menetap (resindent). Jenis ini tidak melakukan migrasi, walaupun kadang mereka terlihat berbiak di suatu tempat, dan di saat lainnya tidak terlihat. Jenis-jenis ini hanya berkelana di dalam daerah teritorinya saja (home range). Bagi sebagian pengamat burung, perilaku ini dikategorikan dalam migrasi lokal. Kegiatan berpindah tempat itu sendiri bisa disebut migrasi bila ada tekanan (misalnya berkurangnya jumlah pakan saat musim dingin) dan sifatnya teratur.

Di penghujung Obrolan Kamis Sore, Hasudungan Pakpakan, menggelitik Raptor Indonesia [RAIN] melalui Asman tentang trend migrasi burung pemangsa, di mana saja lokasi singgahnya dan apakah setiap tahun populasinya bertambah atau berkurang? “Seperti halnya negara Cina, mereka lebih peduli dalam mengamati raptor, karena kalau jumlah populasi raptor yang kembali ke negaranya semakin menurun, mereka kuatir populasi tikusnya akan melonjak berkali lipat ….,”. Mungkin komentar ini patut dipertimbangkan bagi para pengamat raptor di Indonesia agar lebih serius dalam mengumpulkan informasi mengenai migrais raptor ini. [Irma Dana & Jeni Shannaz]

Kekurangan di Saat Kemarau, Kelebihan di Saat Hujan

•November 11, 2009 • Leave a Comment

Bulan Oktober selain waktunya burung-burung pemangsa dan burung pantai melakukan migrasi, juga merupakan bulan yang penuh dengan curahan air hujan, paling tidak itulah yang terjadi di kota Bogor.“Kekurangan di Saat Kemarau, Kelebihan di Saat Hujan”, ya, itulah isu yang disampaikan oleh Septiva Elin dari Indonesia Initiative for Social Ecology Studies (IISES) pada Obrolan Kamis Sore 15 Oktober lalu, yang menyinggung masalah air di Desa Cibanteng, Bogor.

IISES saat ini tengah memusatkan perhatiannya pada masalah air, karena air adalah salah satu hak manusia terkait dengan kebutuhan dasar manusia dan sebagai sumber kehidupan. Di sebagian daerah di Indonesia pun saat ini tengah mengalami kekeringan. Sebagai informasi, bahwa pada tahun 1995, Pulau Jawa mengalami defisit air sebesar 32,3 juta m3, pada 2000 sebanyak 52,8 juta m3, sedangkan pada 2005 sebanyak 34,1 juta m3. Hal ini disebabkan antara lain oleh menurunnya kualitas air, distribusi air yang tidak merata sepanjang tahun, distribusi air antar komunitas yang tidak merata dan akses masyarakat terhadap air tidak sama.

Desa Cibanteng diambil sebagai daerah contoh karena merupakan daerah sub-urban yang memiliki dua sisi kehidupan (kota/perdagangan dan tradisional/pertanian). Desa Cibanteng dilewati oleh Sungai Cinangneng dan memiliki Situ Cinangneng sebagai sumber airnya. Untuk keperluan rumah tangga, air didapat dari sumur-sumur maupun mata air, sedangkan untuk kegiatan pertanian dan perikanan air didapat dari sungai maupun situ yang dialirkan melalui susukan (selokan kecil). Di desa ini terdapat fenomena di mana pada bulan-bulan tertentu air mongering atau berlimpah.

IISES menganalisa, penyebab dari kekeringan dan kelimpahan air ini adalah adanya penurunan volume air di susukan karena volume air di situ yang berkurang, adanya kerusakan pada infrastruktur, distribusi air tidak adil (makin jauh orang tinggal dari situ, makin sedikit dia mendapat air), pengelolaan susukan yang tidak efektif, sampai ada perubahan pada tata guna lahan di desa tersebut, di mana banyak daerah resapan air berubah menjadi pemukiman atau usaha perindustrian.

Akibatnya adalah, “Pada saat musim kering, sumurnya kering, kalau hujan, airnya berlimpah, sampai harus mengangkat pompa air dari dalam sumur. Sedangkan saat kemarau datang, mereka harus menambah kedalaman sumur, bagi yang cukup mampu bisa membeli air dalam kemasan galon. Bagi yang tidak mampu, tetap harus ke sungai atau mata air untuk mencuci”, papar Elin. Artinya adalah terjadi peningkatan pengeluaran rumah tangga, beban kerja (bagi perempuan) bertambah, kesehatan dan sanitasi lingkungan menurun dan terjadi perubahan komoditas perikanan dan pertanian (jenis yang ditanam/disebar merupakan jenis yang dapat bertahan pada saat tersebut).

Kondisi kekeringan terparah di Cibanteng dimulai sejak tahun 2000. Tidak dapat dipungkiri bahwa pertumbuhan kota membawa dampak bagi penghidupan masyarakat Cibanteng, pemukiman (terutama untuk tempat kost) marak bermunculan dengan sendirinya ruang resapan air menyempit, yang artinya pasokan air untuk situ dan sungai semakin berkurang.

IISES sendiri yang peduli akan pelestarian sumber air melihat bahwa Situ Cinangneng tetap harus dijaga kelestariannya, tetapi kesejahteraan ekonomi masyarakat juga penting. Saat ini IISES berusaha bernegosiasi antara dua kepentingan di atas, dalam arti masyarakat tidak bisa serta merta dilarang untuk tidak mengubah fungsi lahan, tetapi jalan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya air bagi keberlanjutan hidup mereka perlu terus ditingkatkan. Karena dalam pikiran masyarakat, air Situ tidak akan mengering selama masih ada air yang mengalir di susukan.

IISES berupaya mengomunikasikan hal tersebut dengan pihak Desa, mulai dari tingkatan RT dan RW, kelompok-kelompok pengajian. Selain itu pula IISES melakukan dokumentasi (pembuatan film) tentang kehidupan warga Desa Cibanteng sehari-harinya dengan penekanan pada penggunaan dan kondisi sumber daya air yang dimilikinya, termasuk segala persoalan yang muncul dari padanya. Film tersebut kemudian diputar kembali pada berbagai pertemuan kelompok masyarakat. Masyarakat cukup terperangah dengan film tersebut, karena hal-hal yang mereka temukan sehari-hari, tampak sangat berbeda dalam film, bagaimana mereka melihat sampah maupun kerusakan infrastruktur perairan di desa mereka. Mungkin diperlukan pula gambaran berapa nilai Situ Cinangneng beserta fungsi ekologis dan sosialnya bila dirupiahkan, agar masyarakat menyadari arti penting Situ tersebut.

Saat ini beberapa mata air di Situ Cinangneng yang tersisa hanya berada pada area di sekitar sungai, telah mongering lebih dari 50%, sejak tahun 1990-an. Harapan IISES adalah, pada saat meninggalkan Desa Cibanteng telah ada program dan tersedia air bersih yang mandiri.

“Persoalan kelangkaan air, antara alin adalah semakin meningkatnya konsumen air. Indonesia sedang mengalami krisis energi, pangan dan air,” demikian Elin menutup tanya jawab di Obrolan Kamis Sore.
[Irma dana & Jeni Shannaz]