Pernah Jadi Minoritas?

Seringnya kerja ke daerah, banyak hikmah, merasakan menjadi kaum minoritas. Contohnya, saat di Bali, hampir 10 hari kerja di sana, penduduknya  mayoritas beragama Hindu. Tak terasa, dan merindukan alunan suara adzan, dan mustahil aku dengar. Kebetulan daerah tempaku bekerja, rata-rata di tengah penganut Hindu Bali, bukan di daerah penganut beragama Islam.

Dari situ, aku berpikir, memang hidup tak seperti apa yang diidamkan, juga soal ibadah. Di tengah mayoritas penganut Hindu Bali, saya dan beberapa teman yang muslim adalah minoritas di sana.

Selain di Bali, baru minggu lalu tugas ke daerah Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, di Pulau NTT. Mayoritas penduduknya beragama Khatolik. Dan agama-agama leluhur lainnya. Jangan berharap tidur di hotel ada tanda arah kiblat atau mendengarkan suara adzan. Teman sesama muslim pun rada susah. Sekali lagi, saya menjadi minoritas diantara mayoritas penganut Khatolik.

Saya pun tak harus bilang dan kasih tanda di jidat kalau saya muslim. Toh mereka juga tak bertanya apa agama saya. Tapi kami bisa duduk sama-sama, bercerita tentang kebudayaan serta cerita bersejarah lainnya. Bahkan setiap akan memulai acara, seorang masyarakat adat membacakan do’a dalam bahasa dawam, yang terdengar indah sekali. Walaupun saya tak mengerti, hanya sesekali terdengar kata “Jesus”. Ya, mereka penganut Khatolik, dan menyampaikan do’anya dalam salah satu bahasa daerah, bahasa Dawam tadi.

Peristiwa-peristiwa tadi mengingatkan pada carut marutnya negeri ini, banyak golongan dan kaum yang tidak menghargai kaum minoritas. Merasa mayoritas,  seringkali menyudutkan kaum minoritas, seolah mereka yang paling baik, benar dan bakalan masuk surga!

Sepertinnya  mereka tak pernah seorang menjadi minoritas, yang hanya bisa beribadah di dalam kamarnya sendiri. Jangan-jangan orang seperti itu tak pernah jalan-jalan keluar dari tempurung, hanya diam zona nyamanya saja, karena takut berada dalam posisi minoritas?

Tak heran, dalam hatinya tak ada rasa emphaty atau toleransi, yang ada sok berkuasa dan arogan…Aku bersyukur, pernah mengalaminya…. demikian juga dalam kehidupan sehari-hariku, aku adalah minoritas.

Semoga tahun 2011 nanti, banyak hati manusia di negeri ini lebih ber-emphaty dan toleransi terhadap sesamanya…..

 Namaste….

Menjaga Mata Air Mandala

Sumber mata air, bangunan kuno, hutan adat, dan kuliner sama-sama dilestarikan di  Desa Bayan, Lombok.

“Siapa pun yang mencemari mata air akan dikenakan denda,” seru pemandu       mewanti-wanti saya dan rombongan yang mengikuti field trip di Karang Bajo, Desa Bayan, Kecamatan Bayan. Mata air yang dimaksud sang pemandu adalah sumber mata air Mandala di desa yang terletak sekitar 75 km dari Kota Mataram dan dapat ditempuh dalam tempo tiga jam dari ibukota Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sekurangnya ada sembilan mata air di kaki Gunung Rinjani ini. 

Tampak di bawah rimbunnya pohon, air bening mengalir menuju persawahan seluas 600 hektare, serta melintasi Karang Bajo, Desa Bayan, dan Luluan. Daun-daun merah berguguran, menghampar bak karpet menutupi bantaran. Kami duduk di batu di bantaran yang dipenuhi vegetasi seraya menyimak penjelasan pemandu, dan menyaksikan anak-anak bermandi dengan riang di sungai berair dingin itu, sementara sebagian lain bermain sembari membelah biji kenari  tak jauh dari kami.

 Soal kejernihan, sumber mata air Mandala boleh dikatakan paling juara se-NTB. Hal ini tidak terlepas peran warga setempat dalam menjaga sumber mata air. Pemangku (pengelola) menegakkan awiq-awiq—aturan lokal bila terjadi pelanggaran oleh warga dalam menjaga dan melestarikan mata air. Ada dua ketentuan awiq-awiq yang berlaku di hutan adat (pawang). Pertama, setiap orang dilarang menebang pohon tanpa seizin pemangku. Kedua, setiap orang dilarang merambah dan membakar hutan adat. Pelanggar awiq-awiq dapat dikenakan denda seekor kambing, uang Rp 10.000, dan beras satu gantang (setara 3,125 kg).

 Mata air Mandala adalah berkah bagi warga Desa Bayan. Ketika musim hujan debit air akan tinggi, ketika musim kering debit air tetap.  Ritual adat saat musim panen tiba kerap dilakukan di hutan tempat mata air mengalir.

Selain mata air, warga setempat juga melestarikan bangunan. Salah satunya, Masjid Bayan Beleq, tertua di Desa Bayan. Kompleks masjid dan pemakaman menjadi satu berbatas pagar tembok berlumut. Kami menuruni tangga batu untuk melihat masjid berfondasi dari batu alam, berdinding bambu, beratap rumbia, serta bersisian dengan areal sawah ini. Sayang, setibanya di halaman masjid, penjaga melarang kami masuk. Oh, rupanya sedang dilangsungkan upacara pernikahan.

Tak lama, pemangku adat Desa Bayan, Rd. Kedarif, datang menemui kami. Pria yang biasa dipanggil Mamik ini mulai menceritakan sejarah masjid yang dibangun sejak abad ke-17 oleh Datuk Bayan, sang Raja Bayan sebelum agama Islam masuk desa ini.

“Bukan hanya masjid, bekas kerajaan Bayan pun masih ada di Bayan Timur. Pembawa Islam ke Bayan dari Wali Songo,” jelas Mamik seraya menerangkan betapa unik peleburan nuansa Islami dan budaya Jawa dari sang wali. “Sebagian warga asli Bayan masih mengucapkan dua kalimat syahadat menggunakan bahasa Jawa kuno, atau melafalkan doa berbahasa Arab bercampur bahasa Jawa Kuno.”

Beberapa ritual keagamaan masih dipegang teguh umat di sini. Salah satunya, maulid adat, yang dilakukan setiap tahun pada Rabiul Awal. Ritual ini melibatkan keseluruhan warga adat Wet Bayan dan berpusat di Mesjid Kuno Bayan Beleq.

Rumah-rumah adat tradisional pun tidak luput dari upaya pemeliharaan dan pelestarian oleh warga Desa Bayan. Biasanya rumah-rumah panggung yang disebut kampu ini menjadi hunian bagi para tokoh pranata adat setempat, seperti kiyai, lebe, pemangku, pembeker, dan melokak (tetua). Jadi tidak sembarang orang bisa masuk, kecuali dalam acara-acara tertentu dan mendapat izin dari pemangku atau melokak-nya.

Suatu kehormatan bagi kami dipersilakan memasuki salah satu rumah panggung, ramai-ramai duduk berlesehan untuk bersantap siang. Walau berdempet-dempet, tidak masalah. Yang penting, selama acara ini berlangsung, semua orang harus duduk. Bersama, kami menyantap masakan tradisional yang tersaji dalam piring-piring kecil di atas baki, dari sayur nangka, sayur bunga dan jantung pisang, ayam goreng, sampai urap. Tidak ketinggalan, arak yang dibuat dari fermentasi beras. Bagi orang Sunda atau Jawa, tentu saja makanan ini tidak asing. Tetapi tidak demikian halnya Andy White, rekan serombongan asal Amerika Serikat. Begitu takjubnya, hingga ia tidak henti menanyakan bahan baku setiap makanan yang terhidang.

Sebelum malam siap mengganti hari, kami pun beranjak dari desa ini, melewati lapangannya yang ditumbuhi pohon bayan tinggi besar berdaun lebat. Satu hal lagi yang membuat kami salut: upaya pelestarian yang dilakukan warga terhadap hutan adat yang disebut pawang. Hutan adat ini berfungsi sebagai mata air dan budaya, tempat melakukan upacara keagamaan, seperti ngaponin, upacara pencucian pusaka benda-benda bersejarah milik leluhur komunitas adat Karang Baji dilakukan dua tahun sekali; lebaran adat, ritual yang dilaksanakan setiap tahun diakhir bulan puasa sesuai dengan hitungan sereat alias syariat; asuh prusa, prosesi ritual pergantian mangku perumbaq (maq lokaq), pemangku yang menjaga hutan adat, mangku prumbaq daya di Pawang Bangket Bayan, dan mangku prumbaq lauq di kawasan Pawang Montong Gedeng. Ah, andai semua orang melakukan upaya pelestarian segigih warga Desa Bayan, alangkah lestari alam negeri ini.[Irma Susilawati Dana]

Tulisan ini dimuat di Majalah National Geographic Traveler  Vol. 3, No. 12 |Desember 2011 Rubrik : Kawasan Lestari di hal. 20-21