Komunitas Wiken Tanpa Ke Mall

•June 15, 2009 • 3 Comments

WTM_01Ragunan, di hari libur penuh dengan pengunjung yang hendak piknik. Apalagi menjelang akhir tahun ajaran sekolah. Di setiap ruang terbuka Ragunan, nampak anak-anak kecil berseragam taman kanak-kanak [TK] memadati lapangan rumput. Ya, Ragunan juga dijadikan ruang perpisahan atau pembagian buku rapot anak-anak TK di Jabodetabek.

Tak hanya anak-anak TK yang meramaikan Ragunan pada Sabtu, 13 Juni 2009 kemarin. Ada komunitas pencinta liburan alternatif, yang menamakan dirinya komunitas Wiken Tanpa Ke Mall [WTM] yang bermain di Ragunan. Nama yang unik dan menggelitik rasa ingin tahu. Komunitas ini diprakarsai oleh Iwan Esjepe dan Indah Esjepe, pasangan suami istri yang sama-sama menyukai kegiatan alam bebas dan peduli dengan Indonesia. Dibawah rimbunnya pohon, sambil duduk di atas tikar bekas banner, Indah Esjepe berbagi cerita tentang WTM ini.

“Awalnya sering ngumpul bareng. Seperti waktu 17 Agustus, kami buat Kemah Merah Putih. Terus, waktu Nopember ada Kemah Pelangi. Kegiatan ini dibuat tanpa membedakan SARA. Siapa pun boleh ikut. Orang kota kadang mengalami kejenuhan, liburan harus ke mall terus, mahal juga beli makannya. “ Kaos kuning, bertuliskan “Jangan Ragu Ragunan” dikenakan seluruh peserta WTM sangat pas dengan cuaca hari itu. Matahari menebarkan sinarnya di Ragunan. “Jangan Ragu Ragunan” adalah kegiatan perdana WTM.

Aditiyayoga, seorang graphic desain, hari itu didaulat menjadi ketua pelaksana kegiatan. Ia menjelaskan alasan kenapa Ragunan yang dipilih. “Ya, dulu orang beranggapan Ragunan itu buruk banget. Ternyata sekarang fasilitasnya sangat mendukung. Ragunan sudah beradab lah…Sudah ada halte-halte, jadi kalo ke ujanan bisa berteduh. Ruang terbukanya juga sudah banyak. Ya, Ragunana memberikan kemudahan, sanagt diluar perkiraan selama ini,” jelas Aditiya.

Lantas kemana saja rute WTM I di Ragunan ini?

Peserta datang sendiri-sendiri menuju Ragunan dan berkumpul di pintu utama, dekat halte Trans Jakarta. Kira-kira jam 07.30 mereka berangkat menuju pos pertama. Yaitu kandang ular.

“Di sini, ada SIOUX, komunitas pencinta ular yang membantu menjelaskan perihal ular. Selama ini ular dianggap menakutkan, padahal ular juga menjadi penyeimbang alam, terutama untuk hama tikus,” jelas pria berambut gondrong ini. Dari kandang ular, peserta WTM, melanjutkan perjalanannya ke kandang burung. Ada permainan ular tangga ukuran 4 x 4 meter yang dimainkan peserta di sana.

WTM_02Plus beberapa quiz yang jawabannya bisa ditemukan di kandang burung. Selepas dari kandang burung, peserta yang dibagi menjadi 10 kelompok ini, diajak melihat orangutan di rumah Ulrike von Mengden. Dari rumah orangutan, peserta WTM membuat mainan tradisional dari daun kelapa, yaitu keris. Dan bermain galah asin, untuk semua tim. Seru!  Lalu apalagi yang dilakukan pesertanya? Di pos terakhir, tepatnya di lapangan sebelah Pusat Primata Schmutzer, masing-masing kelompok melukis tong sampah.

Tong-tong sampah dari drum sudah disipakan panitia, berjejer di lapangan rumput. Juga kaleng-kaleng cat berwarna biru, merah dan kuning serta kuas. Setiap kelompok dengan asyiknya, melukis tong sampah bekas drum yang sudah diberi cat dasar berwarna putih. Ada jugaa yang mengganti cat dasarnya dengan warna kuning, baru membuat sketsa gambar binatang. Kelompok lain ada yang langsung menyapukan kuasnya ke atas tong sampah. Sekelompok anak-anak kecil yang ditemani oleh pendampingnya, Rangga , terlihat tak sabar dan ribut ingin segera menyapukan kuasnya ke atas tong sampah.

Kaleng-kaleng cat pun segera dibuka dan dicampur dengan warna-warna yang tersedia. Tetesan cat tumpah ke atas rumput. Sayang, tidak disediakan alas untuk kaleng-kaleng cat itu, sehingga mengotori rumput di Ragunan. Jalan-jalan ala Wiken Tanpa Ke Mall, relatif murah biayanya. Keliling di Ragunan, kemarin, biayanya Rp. 75.000,-/orang. Dewasa dan anak-anak sama harganya. Mereka dapat kaos, snack pagi dan makan siang. Banyak hal yang bermanfaat bisa dibawa pulang peserta.

Ya, sesuai dengan tujuan Wiken Tanpa Ke Mall, bahwa liburan tidak harus ke mall, tapi harus ada nilai pendidikannya. Seperti permainan tradisional dan melukis tong sampah tadi. Hasilnya mereka sumbangkan ke Ragunan. Lantas kemana acara Wiken Tanpa Ke Mall berikutnya? Kata Aditia masih rahasia, mungkin saja ke musium. Kalau tidak mau ketinggalan acara Wiken Tanpa Ke Mall, coba klik : http://wikentanpakemall.multiply.com. Kemana liburan weekend Anda kali ini? Ingat! Tidak harus ke mall!!!

Laskar Karung membersihkan Tjiliwoeng

•May 15, 2009 • 2 Comments

Author : Irma Dana

VIVAnews – Setiap Sabtu pasti ada SMS masuk ke handphone, isinya ajakan untuk bersih-bersih kali Ciliwung di hari Minggu setiap jam 7.30 pagi. Pengirimnya biasanya Hapsoro dan Hari Kikuk. Dua orang inilah yang pertama kali saya kenal di komunitas Tjiliwoeng Dreams.

Nah! Aksi mulung sampah plastik yang ke delapan, tepatnya tanggal 3 Mei 2009 lalu, lokasinya di bawah jembatan Lebak Kantin, persis di sebelah lapangan Sempur, Bogor. Tidak sulit menuju lapangan Sempur, cukup sekali naik angkot saja dari Jl. Ahmad Yani, Bogor tempat saya tinggal.

Paling sulit adalah mencari celah untuk parkir dan duduk saat tiba di lapangan Sempur. Kenapa? Karena setiap hari Minggu, di lapangan Sempur penuh sesak dengan tukang jualan segala macam barang. Semua warga Bogor seperti mau manasik haji di lapangan Sempur. Sambil menunggu Laskar Karung, sebutan untuk relawan yang mau gabung mengambil sampah plastik di bantaran sungai Ciliwung.

Nampak Hapsoro, Zaki dan Hendri berdiri dekat lapangan basket. Zaki menjadi koordinator lapangan aksi mulung ke delapan ini. Sambil menunggu relawan yang datang, saya sarapan bubur. Tapi, hampir satu jam lamanya menunggu, relawan Laskar Karung belum juga bertambah. Memang sih, setiap minggu jumlahnya selalu berubah. Seperti halnya saya, yang bisa dua minggu sekali ikut bersih-bersih Ciliwung.

Tak lama datang Muslih (26), salah satu relawan yang tinggal di Tegallega – Bogor. Dia sudah delapan tahun tinggal di Bogor. Sejak kuliah di Kehutanan – Institut Pertanian Bogor. Kenapa Muslih Peduli dengan Ciliwung, padahal dia bukan asli orang Bogor?

“Di mana kita tinggal kita harus aware dengan lingkungan dan memberikan sesuatu sama masyarakat sekitar. Ide awalnya kegiatan ini dari Hapsoro dan Hari Kikuk, mereka suka jalan-jalan di Ciliwung, karena sering ngobrol-ngobrol, terus mau ngapain? jadi tertantang untuk membuat aksi nyata di Ciliwung,” kata Muslih saat ditanya kenapa peduli dengan Ciliwung. Continue reading ‘Laskar Karung membersihkan Tjiliwoeng’