Cita-citaku Jadi Pemain Sepak Bola

10629878_10152636997002236_1690749556899551682_n
SD Tidung 03

“Selamat pagi anak-anak…..Assalamualaikum,” salamku si ruang kelas empat SD Tidung 03.

“Selamat pagi…waalaikum salam, “ serentak seisi kelas menjawab. Mereka baru saja selesai upacara dengan seragam putih-putih, masuk kelas menunggu guru-guru dari Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau (KIJP) yang akan mengajar satu hari saja.Selesai berdo’a, aku mengajak mereka memejamkan mata, untuk menarik napas yang dalam sebanyak tiga kali, untuk menenangkan pikiran, saat belajar. Rupanya, trik itu tak berhasil. Anak-anak kelas empat tetap berceloteh di meja masing-masing, terutama dibarisan belakang. Sementara dibarisan depan, ada Zahra, ketua kelas empat, berkerudung putih, kalau ditanya hanya menjawab dengan senyuman saja.

Pada 25 Agustus 2014, bersama lima orang relawan, dengan latar belakang profesi yanbg berbeda,  menjadi pengajar di SD Tidung 03.  Rona, Shani, Luddy, Henry, Adnan sang videografer, juga Bowo juru photo di Tidung 03. Total murid dari kelas I-VI hanya 120 orang. Dan pertama kalinya buatku bercerita soal konservasi di SD yang secara administrasi masuk dalam wilayah DKI Jakarta.

Continue reading “Cita-citaku Jadi Pemain Sepak Bola”

Program Training Sertifikat : Pembiayaan Kehutanan Inovatif Berkelanjutan Maret 2014

ImageProgram Sertifikat Mitigasi Perubahan Iklim dan Pembiayaan Hutan Berkelanjutan Inovatif ini adalah yang pertama di bidangnya di Indonesia serta menggabungkan ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, ekonomi, dan bisnis dalam rangka mempersiapkan para profesional untuk terlibat dalam upaya konservasi hutan skala besar. Termasuk untuk mengurangi kehilangan pohon, emisi karbon, penurunan keanekaragaman hayati, serta meningkatkan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan. Program sertifikat yang terdiri dari delapan kursus ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dasar dan keterampilan yang diperlukan untuk mengawasi dan atau berpartisipasi dalam proyek pengurangan deforestasi dan degradasi hutan di Indonesia. Meskipun para pengembang kurikulum berkomitmen untuk menggunakan The Rainforest StandardTM (RFSTM) sebagai mekanisme untuk mengurangi emisi karbon dari konversi hutan, namun kursus dan training ini lebih umum dan berlaku untuk semua jenis proyek konservasi hutan yang melibatkan kredit karbon atau intensif keuangan lainnya.

Persyaratan:

Program ini terbuka untuk mahasiswa pasca sarjana, serta para profesional dari sektor publik, privat, dan masyarakat sipil. Dalam upaya untuk memastikan relevansi program, contoh dan latihan yang digunakan dalam setiap kursus akan disesuaikan dengan realita yang para peserta alami pada institusi masing-masing.

Detail:

  • Program akan berlangsung hingga enam (6) hari penuh waktu, dan bertempat di kampus Universitas Indonesia Depok. Sebagian besar berlangsung empat (4) hari.
  • Materi kursus disampaikan dalam Bahasa Indonesia
  • Para peserta dapat mendaftar untuk beberapa kursus tertentu, namun harus menyelesaikan semua (delapan) kursus untuk menerima sertifikat. Para peserta akan menerima konfirmasi kehadiran kursus yang telah diselesaikan.
  • Biaya kursus antara Rp 1,375,000 per kursus jika terdaftar dalam semua (delapan) kursus, hingga Rp 4,000,000 per kursus bila hanya mengikuti satu kursus.
  • Lihat brosur berikut untuk mengetahui detail lebih lanjut http://rccc.ui.ac.id/event/trainings/124-training-mitigasi-adaptasi-perubahan-iklim.html

Jadwal  Maret 2014:

Semua (delapan) kursus akan ditawarkan selama awal 2014 yaitu bulan Maret hingga April 2014. Program ini dapat diselesaikan selama waktu tersebut.

  1. Pengantar Perubahan Iklim                                                                                3 – 6 Maret
  2. Penginderaan Jauh untuk Kehutanan dan Estimasi Stok Ka                              7 – 8 & 15 Maret
  3. Monitoring Keanekaragaman Hayati dan Kehutanan                                       10 – 13 Maret
  4. Pengantar GIS untuk Sektor Kehutanan dan Iklim                                            14 & 28 – 29 Maret, 11 – 12 & 19 April
  5. Aspek Sosial – Budaya dari Pengelolaan dan Konservasi Hutan                      17 – 20 Maret
  6. Ekonomi Lingkungan dan Sumber Daya Alam                                                   24 – 27 Maret
  7. Pertimbangan hukum dalam Konservasi dan Pembiayaan Hutan                       1 – 4 April
  8. Bisnis Pengelolaan dan Konservasi Hutan                                                           6 – 9 April

Kapan Kita Ketemu Lagi?

IMG_1709“Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh’” ucapan salam menggema dari dalam ruang kelas III A. Berseragam kaos olahraga warna kuning, merah maroon, anak-anak di dalam kelas hening setelah mengucapkan salam, menunggu balasan salam.

“Wa’alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh, selamat siang anak-anak….” jawabku.

“Nama saya Irma Susilawati, panggil saya Ibu Irma. Kita buat kesepakatan ya anak-anak. Kalau Ibu bicara, anak-anak diam, mendengarkan. Kalau anak-anak bicara, Ibu Irma diam, mendengarkan, sepakat?” tanyaku menatap mereka, sambil berdo’a semoga tak ada keributan besar dan mampu mengatasi kejahilan murid-murid kelas III A.

Setelah sekian lama tidak bergulat dengan dunia anak-anak, akhirnya mendapat kesematan di Kelas Inspirasi Bogor, tepatnya bersama  12 orang dari kelompok 14, mendapat jatah mengajar di SD Nanggewer 01 – Cibinong, Bogor.

Continue reading “Kapan Kita Ketemu Lagi?”

Mengejar Raptor Sampai ke Negeri Siam

Pada banyak pengamat burung, pesona jenis burung pemangsa (raptor) sulit sekali dihindari. Asman Adi Purwanto sampai rela meninggalkan pekerjaan tetapnya, demi memenuhi undangan untuk mengamati migrasi burung-burung pemangsa ini selama 3 bulan di Radar Hill, Thailand. Lokasi yang berketinggian 195 meter di atas permukaan laut, di antara Teluk Thailand (sebelah Timur) dan perbatasan Thailand dengan Myanmar (di sebelah barat), memang ideal sebagai tempat pengamatan, karena tempatnya terbuka, dikelilingi oleh perkebunan karet dan kelapa sawit, serta merupakan lokasi penempatan radar untuk keperluan militer.

Continue reading “Mengejar Raptor Sampai ke Negeri Siam”

Semangat Tanpa Batas Aleta Baun – Perempuan Mollo

Diskusi  “Semangat Tanpa Batas” di StoS Film Festival menghadirkan Aleta Baun dari Mollo, Abetnego Tarigan – Sawit Watch,  Melanie Subono dan Fadli PADI dari kalangan musisi.

Mollo sebuah kabupaten dengan 7 kecamatan dan 27 Desa ada di Pulau Timor, dan berada di kawasan Pegunungan Mutis. Lama perjalanan satu hari dari Kupang.  Sejak tahun 1990 Aleta Baun bersama warga Suku Mollo berjuang mengusir investor pertambangan batu dari wilayah mereka.

Continue reading “Semangat Tanpa Batas Aleta Baun – Perempuan Mollo”

Pernah Jadi Minoritas?

Seringnya kerja ke daerah, banyak hikmah, merasakan menjadi kaum minoritas. Contohnya, saat di Bali, hampir 10 hari kerja di sana, penduduknya  mayoritas beragama Hindu. Tak terasa, dan merindukan alunan suara adzan, dan mustahil aku dengar. Kebetulan daerah tempaku bekerja, rata-rata di tengah penganut Hindu Bali, bukan di daerah penganut beragama Islam.

Dari situ, aku berpikir, memang hidup tak seperti apa yang diidamkan, juga soal ibadah. Di tengah mayoritas penganut Hindu Bali, saya dan beberapa teman yang muslim adalah minoritas di sana.

Selain di Bali, baru minggu lalu tugas ke daerah Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, di Pulau NTT. Mayoritas penduduknya beragama Khatolik. Dan agama-agama leluhur lainnya. Jangan berharap tidur di hotel ada tanda arah kiblat atau mendengarkan suara adzan. Teman sesama muslim pun rada susah. Sekali lagi, saya menjadi minoritas diantara mayoritas penganut Khatolik.

Saya pun tak harus bilang dan kasih tanda di jidat kalau saya muslim. Toh mereka juga tak bertanya apa agama saya. Tapi kami bisa duduk sama-sama, bercerita tentang kebudayaan serta cerita bersejarah lainnya. Bahkan setiap akan memulai acara, seorang masyarakat adat membacakan do’a dalam bahasa dawam, yang terdengar indah sekali. Walaupun saya tak mengerti, hanya sesekali terdengar kata “Jesus”. Ya, mereka penganut Khatolik, dan menyampaikan do’anya dalam salah satu bahasa daerah, bahasa Dawam tadi.

Peristiwa-peristiwa tadi mengingatkan pada carut marutnya negeri ini, banyak golongan dan kaum yang tidak menghargai kaum minoritas. Merasa mayoritas,  seringkali menyudutkan kaum minoritas, seolah mereka yang paling baik, benar dan bakalan masuk surga!

Sepertinnya  mereka tak pernah seorang menjadi minoritas, yang hanya bisa beribadah di dalam kamarnya sendiri. Jangan-jangan orang seperti itu tak pernah jalan-jalan keluar dari tempurung, hanya diam zona nyamanya saja, karena takut berada dalam posisi minoritas?

Tak heran, dalam hatinya tak ada rasa emphaty atau toleransi, yang ada sok berkuasa dan arogan…Aku bersyukur, pernah mengalaminya…. demikian juga dalam kehidupan sehari-hariku, aku adalah minoritas.

Semoga tahun 2011 nanti, banyak hati manusia di negeri ini lebih ber-emphaty dan toleransi terhadap sesamanya…..

 Namaste….

Menjaga Mata Air Mandala

Sumber mata air, bangunan kuno, hutan adat, dan kuliner sama-sama dilestarikan di  Desa Bayan, Lombok.

“Siapa pun yang mencemari mata air akan dikenakan denda,” seru pemandu       mewanti-wanti saya dan rombongan yang mengikuti field trip di Karang Bajo, Desa Bayan, Kecamatan Bayan. Mata air yang dimaksud sang pemandu adalah sumber mata air Mandala di desa yang terletak sekitar 75 km dari Kota Mataram dan dapat ditempuh dalam tempo tiga jam dari ibukota Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sekurangnya ada sembilan mata air di kaki Gunung Rinjani ini. 

Tampak di bawah rimbunnya pohon, air bening mengalir menuju persawahan seluas 600 hektare, serta melintasi Karang Bajo, Desa Bayan, dan Luluan. Daun-daun merah berguguran, menghampar bak karpet menutupi bantaran. Kami duduk di batu di bantaran yang dipenuhi vegetasi seraya menyimak penjelasan pemandu, dan menyaksikan anak-anak bermandi dengan riang di sungai berair dingin itu, sementara sebagian lain bermain sembari membelah biji kenari  tak jauh dari kami.

 Soal kejernihan, sumber mata air Mandala boleh dikatakan paling juara se-NTB. Hal ini tidak terlepas peran warga setempat dalam menjaga sumber mata air. Pemangku (pengelola) menegakkan awiq-awiq—aturan lokal bila terjadi pelanggaran oleh warga dalam menjaga dan melestarikan mata air. Ada dua ketentuan awiq-awiq yang berlaku di hutan adat (pawang). Pertama, setiap orang dilarang menebang pohon tanpa seizin pemangku. Kedua, setiap orang dilarang merambah dan membakar hutan adat. Pelanggar awiq-awiq dapat dikenakan denda seekor kambing, uang Rp 10.000, dan beras satu gantang (setara 3,125 kg).

 Mata air Mandala adalah berkah bagi warga Desa Bayan. Ketika musim hujan debit air akan tinggi, ketika musim kering debit air tetap.  Ritual adat saat musim panen tiba kerap dilakukan di hutan tempat mata air mengalir.

Selain mata air, warga setempat juga melestarikan bangunan. Salah satunya, Masjid Bayan Beleq, tertua di Desa Bayan. Kompleks masjid dan pemakaman menjadi satu berbatas pagar tembok berlumut. Kami menuruni tangga batu untuk melihat masjid berfondasi dari batu alam, berdinding bambu, beratap rumbia, serta bersisian dengan areal sawah ini. Sayang, setibanya di halaman masjid, penjaga melarang kami masuk. Oh, rupanya sedang dilangsungkan upacara pernikahan.

Tak lama, pemangku adat Desa Bayan, Rd. Kedarif, datang menemui kami. Pria yang biasa dipanggil Mamik ini mulai menceritakan sejarah masjid yang dibangun sejak abad ke-17 oleh Datuk Bayan, sang Raja Bayan sebelum agama Islam masuk desa ini.

“Bukan hanya masjid, bekas kerajaan Bayan pun masih ada di Bayan Timur. Pembawa Islam ke Bayan dari Wali Songo,” jelas Mamik seraya menerangkan betapa unik peleburan nuansa Islami dan budaya Jawa dari sang wali. “Sebagian warga asli Bayan masih mengucapkan dua kalimat syahadat menggunakan bahasa Jawa kuno, atau melafalkan doa berbahasa Arab bercampur bahasa Jawa Kuno.”

Beberapa ritual keagamaan masih dipegang teguh umat di sini. Salah satunya, maulid adat, yang dilakukan setiap tahun pada Rabiul Awal. Ritual ini melibatkan keseluruhan warga adat Wet Bayan dan berpusat di Mesjid Kuno Bayan Beleq.

Rumah-rumah adat tradisional pun tidak luput dari upaya pemeliharaan dan pelestarian oleh warga Desa Bayan. Biasanya rumah-rumah panggung yang disebut kampu ini menjadi hunian bagi para tokoh pranata adat setempat, seperti kiyai, lebe, pemangku, pembeker, dan melokak (tetua). Jadi tidak sembarang orang bisa masuk, kecuali dalam acara-acara tertentu dan mendapat izin dari pemangku atau melokak-nya.

Suatu kehormatan bagi kami dipersilakan memasuki salah satu rumah panggung, ramai-ramai duduk berlesehan untuk bersantap siang. Walau berdempet-dempet, tidak masalah. Yang penting, selama acara ini berlangsung, semua orang harus duduk. Bersama, kami menyantap masakan tradisional yang tersaji dalam piring-piring kecil di atas baki, dari sayur nangka, sayur bunga dan jantung pisang, ayam goreng, sampai urap. Tidak ketinggalan, arak yang dibuat dari fermentasi beras. Bagi orang Sunda atau Jawa, tentu saja makanan ini tidak asing. Tetapi tidak demikian halnya Andy White, rekan serombongan asal Amerika Serikat. Begitu takjubnya, hingga ia tidak henti menanyakan bahan baku setiap makanan yang terhidang.

Sebelum malam siap mengganti hari, kami pun beranjak dari desa ini, melewati lapangannya yang ditumbuhi pohon bayan tinggi besar berdaun lebat. Satu hal lagi yang membuat kami salut: upaya pelestarian yang dilakukan warga terhadap hutan adat yang disebut pawang. Hutan adat ini berfungsi sebagai mata air dan budaya, tempat melakukan upacara keagamaan, seperti ngaponin, upacara pencucian pusaka benda-benda bersejarah milik leluhur komunitas adat Karang Baji dilakukan dua tahun sekali; lebaran adat, ritual yang dilaksanakan setiap tahun diakhir bulan puasa sesuai dengan hitungan sereat alias syariat; asuh prusa, prosesi ritual pergantian mangku perumbaq (maq lokaq), pemangku yang menjaga hutan adat, mangku prumbaq daya di Pawang Bangket Bayan, dan mangku prumbaq lauq di kawasan Pawang Montong Gedeng. Ah, andai semua orang melakukan upaya pelestarian segigih warga Desa Bayan, alangkah lestari alam negeri ini.[Irma Susilawati Dana]

Tulisan ini dimuat di Majalah National Geographic Traveler  Vol. 3, No. 12 |Desember 2011 Rubrik : Kawasan Lestari di hal. 20-21