Kepiting Saos Padang

whatsapp-image-2017-01-01-at-8-15-41-pmPas 1 Januari 2016, selain perayaan tahun baru, juga ulang tahun maminya Hadi Dana, suami saya. Tiga anak mertua plus menantu serta cucu pasti kumpul, dilanjutkan makan malam bersama.

Dan pilihan tadi malam, adalah Pondok Pangandaran, di kawasan boulevard Kelapa Gading. Rumah makan dengan menu seafood ini ramai pengunjung, bahkan sampai antri tempat duduk, termasuk kami.

Malam tadi makan, kepiting soka goreng tepung, ikan bawal bakar, udang goreng, udang saos Padang,  kepiting rebus dan kepiting saos Padang. juaranya, Kepiting soas Padang, pas pedasnya.

Luar biasa memang Pondok Pangandaran, begitu selesai makan, meja kami sudah ditunggu pelanggan. Memang enak!

90 Days Smoothie Challenge

image1Ceritanya, di tahun 2016 lalu ada challenge selama 90 hari untuk membuat dan minum smoothie, itu loh campuran buah dan sayuran diblender.  Ada Cindy, Ina, Pita dan Yuni. Berlima setiap hari posting minuman yang kami buat. Cindy dan Yuni memang sedang pemulihan setelah kemoterapi. Berdua haru menaikan lekosit. Saya sendiri sebelum ada challenge memang suka membuat smoothie.

Setiap hari melakukan eksperimen campuran minuman enak ini. Mulai dari beet,buah naga campur nenas. Sampai pokcoy campur mangga atau nenas pun dihajar. Bahkan lobak pakai nenas juga dicoba, karena bagus untuk penderita asam urat. Pita lebih gokil, dia bisa mencampur dengan oatmeal. Dan aku muali berani campur granola, chiaseed dan dry fig.

image2.jpgLantas apa yang dirasakan setelah 90 hari lulus menerima tantangan? Rambut yang biasa tiap disisir rontok banyak, sekarang berkurang. Kulit lebih lembab dan jarang terkena flu. Sampai waktu di India saya bela-belain nyari yang jualan smoothie, dan di India setiap cafe selalu ada smoothie. Bahkan yang jualan di pinggir jalan pun tak kalah enak, campuran delima, nenas dan jeruk, yuuummm!

Dan, kami pun kehilangan Yuni, tak tuntas smoothie challenge hingga 90 hari. Yuni meninggal saat akan menjalani kemoterapi kedua untuk kanker kelenjar getah bening.

 

Jajanan Enak di Pontianak

10941852_10153021466927236_2544450188231528531_n
Kepiting Asap Pondok Kakap

Pontianak, walau panas, buat saya bikin kangen, makannya serba enak. Makanan favorit adalah kepiting asap yang dijual di Pondok Kakap. Kepiting asap ini bumbunya mirip bumbu rendang, terasa aroma kemiri, dengan bumbu kental. Bisa dibawa untuk oleh-oleh, satu bungkus kepiting asap Rp. 145.000,-. Restoran Pondok Kakap ini berada di Jalan Ismail Marzuki No. 33A, Pontianak Selatan. Tak pernah bosan makan di Pondok Kakap ini, selalu menggugah selera makan. Apalagi ditambah tumis daun pakis bumbu terasi.

10930528_10153021833037236_3848731400771594856_n
Kepiting Lada Hitam – Abang Kepiting

Selain Pondok Kakap, saya pernah makan kepiting lada hitam di rumah makan Abang Kepiting. Makan disini relatif lebih murah dari Pondok Kakap. Selain kepiting lada hitam, ada ikan bakar yang tak kalah lezat, juga cumi. Abang Kepiting ada di Jl. Hijas, Pontianak Sel., Kota Pontianak. Di sini bisa memilih sendiri ikan apa yang menjadi pilihan dan sesuai selera. Abang kepiting ini tempat makan terbuka, dan bisa memilih duduk lesehan juga.

Selain makan kepiting, sempat makan bubus pedas. Isinya, ada kacang, dan taburan teri asin dan sayuran. Bubur ini enak untuk sarapan. Beli bubur pedas semangkuk bisa dimakan berdua, tentu jika masih ingin mencicipi jajanan Pontianak lainnya.

10401985_10153025374117236_4999533309310691400_n
Bubur Pedas

Setelah makan bubur pedas, kami mampir membeli Chai Kwe Siam. Melihat Chai Kwe Siam teringat makanan serupa saat di Nepal, yaitu Momo. Isinya, ada sayuran, bengkunga, kacang ijo. Chai Kwe Siam ini bisa digoreng atau kukus. Saya memilih makan yang kukus, lebih terasa dimulut, tanpa minyak.

Makan Chai Kwe ini dikucuri dengan sambal yang asam, atau serupa minyak ada taburan wijen. Bisa dibawa pulang Chai Kwe kalau memang belum puas. Saya sempat membawa 40 buah ke Bogor.

10947256_10153025150987236_1259145313589351814_n
Chai Kwe Siam

Selama tiga hari di Pontianak, sempat makan di warung mietiaw Apollo. Mietiaw Apollo ini terkenal enak. Serupa kwetiaw kalau di Bogor. Makan mietiaw berisi daging sapi ini pake perasaan jeruk, jadi pedas dan asam bercampur lezat di lidah.Mietiaw ini porsinya cukup besar, jika perut tak mampu menampung, sebaiknya makan berdua. Mietiaw Apollo ada di  Jl. Patimura No.63, Kota Pontianak.

10941824_10153017459447236_1470566500360801919_n
Mietiaw Apollo

Tak lupa mampir ke Kopi Aming. Warung kopi ini penuh dengan laki-laki dengan kepulan asap rokok. Sampai kami harus menunggu untuk mendapat meja. Segelelas kopi susu di kedai ini hanya 8000 ribu rupiah saja. Warung ini juga menjual kopi giling dan biji.

Nah! jika ke Pontianak, wajin makan dan mencicipi makanan diatas. Panas menyengat di siang hari, terobati makan enak, puas rasanya.

Liburan dan Kerja di Prana Dewi, Tabanan

Prana Dewi, di Desa Wongaya Gede, Tabanan sangat menyejukan jiwa. Begitu memasuki Desa Wongaya Gede, sepi, tatanan rumah yang teratur, jalanan aspal mulus. Tak jauh dari Desa Wongaya Gede, tepatnya menuju Pura Luhur Batukaru, sebelah kiri, itulah Prana Dewi, cocok untuk beristirahat, atau berkontemplasi, kata temanku.

Rumah-rumah di Prana Dewi demikain artistik arsitekturnya. Mulai dari tiang-taiang penyangga rumah hingga lantai, jendela, pintu juga atap kamar mandi yang dibiarkan terbuka. Tak heran, jika terang bulan, bisa dinikmati di dalam kamar mandi.

Setiap kamar berbeda susunan tempat tidurnya. Ada yang paling besar, tepat di sebelah restauran. Terdir dari dua lantai. Ada juga yang berisi dua  tempat  tidur dan kamar mandi.  Semua dari kayu baik tempat tidur dan kursinya.

Selama di Prana Dewi, kita jauh dari dunia hiburan. Tidak ada radio dan televisi. Sinyal hanphone pun kadang terputus, dan internet lama sekali. Hiburan yang bisa dinikmati selama menginap di Prana Dewi yang suara jangkrik  dan tonggeret yang akan bernyanyi begitu menjelang sore. Tak berhenti sampai malam. Apalagi saat padi di sawah menguning, sempurna sudah pemandangan di Prana Dewi. Begitu matahari pagi bersinar, padi di depan cottage berkilau kena siraman matahari.

Makanan di Prana Dewi, sehat. Sayurannya organik, dan ditanam di sekitar cottage.  Bumbunya juga tidak mengandung MSG. Menunya bervariasi, mau makan sereal dan salad saat sarapan, tersedia. Mau sarapan nasi goreng, mie goreng plus telor mata sapi tersedia juga.  Tak kan pernah lupa, sambal irisan honjenya… enak!

Udara di Prana Dewi dingin, karena dekat dengan Gunung Batu Karu. Setelah tiga kali ke Prana Dewi selalu turun hujan, jadi harus menyiapkan  jaket.  Tak usah takut, kalau mandi, ada air panas.

Bosen di kamar saja, bisa turun ke sungai di dekat cottage. Airnya  jernih! Bisa mandi dan bermain bersama anak-anak.  Tapi kalau airnya deras, tidak diijinkan untuk turun. Selama di Prana Dewi, kami juga yoga bersama dengan Fransisca, istri dari Pak Dehan, pemilik Prana Dewi.  Gerakan yoganya betul-betul menghilangkan penat di badan. Bagi yang suka berenang, selepas yoga, dilanjutkan berenang di dekat wantilan.

Tempat yang bisa dikunjungi di dekat Prana Dewi, dan bisa dilakukan sambil jalan kaki, kurang dari 30 menit, bisa ke Pura Luhur Batukaru. Dan seringkali Pura ini jadi tempat  upacara besar, sehingga terlihat banyak mobil berseliweran ke sana.

Ada juga Taman Kupu-Kupu Tabanan.  Harus keluar dari Desa Wongaya Gede, ada di jalan utama menuju Wongaya Gede. Koleksinya lumayan banyak. Ada kupu-kupu kecil, sebesar anggrek berwarna pink.

Selain mengunjungi Pura Luhur Batu Karu, juga bisa naik sepeda ke arah Jati Luwih, melihat tera sering sawah. Apalagi kalau padinya sedang menguning, bagus!

Nah! Liburan ini, jika main ke Bali, jangan lupa mampir ke daerah Wongaya Gede,  bisa mampir ke Pura Luhur Baturkaru, Taman Kupu-Kupu Tabanan.

Kaliandra, Kearifan Budaya Jawa


Begitu menginjakkan kaki di Kaliandra, yang terletak di bawah kaki Gunung Arjuno, Prigen Pasuruan, sejuk menerpa otakku. Kaliandra Sejati, tepatnya sebagai tempat pelatihan dan pendidikan. Dilengkapi dengan kebun organik dan tanaman obat.

Takjub! itu perasaan aku. Rumah dengan arsitektur jawa melengkapi semua villa di Kaliandra. Pintu, jendela dan kursi, betul-betul mencerminkan kebudayaan Jawa. Kaliandra Sejati, badan ini yang mengelola kawasan Kalindra, semua karyawan, 80% adalah penduduk lokal.

Pemandangannya sangat indah, hijau dengan aneka bunga. Ada dua komplek villa, yaitu Hastinapura di paling atas, dilengkapi dengan restoran Roro Ireng dan ruang meeting Parikesit.  Di komplek Hastinapura ini, ada lima villa, yaitu Yushistira, Nakula, Sadewa, Bima, Arjuna.

Ruang tidur di lantai I, adalah tiga tempat tidur berjejer, rapat dengan dinding kayu. Dilengkapi dengan kelambu dan lampur pijar hanya 5 watt, begitu kelambu diturunkan, lampu menyala, romantis. Persis kamar selir raja, ashram style.

Di lantai II villa Hastinapura, ada tempat tidur king size, tempat tidur kayu, dengan kasur empuk. Lengkap dengan kelambu dan perabotan dari kayu. Dindingnya berjendela, begitu matahari terbit, buka jendela, sinarnya menghangatkan tempat tidur.

Selain Komplek Hastinapura, juga ada komplek penginapan lain. Ada Ijen, Anjasmoro keduanya dormitori. Juga Tengger, Welirang, Ringgit, Arjuno. Deket dengan cottage tersebut ada restoran Penanggungan, Kamar pijat  dan ruang meeting Mahameru, serta kolam renang.

Jarak dari komplek Baharatapura ke Hastinapura lumayan jauh. Komplek Bharatapura yang terletak di bawah, sementara menuju Hastinapuran harus  menanjak. Ini bagus untuk mengencangkan otot paha. Pagi hari bisa berkeliling komplek Kaliandra, atau turun naik dari Hastinapura ke Bharatapura, melalui jalan berbatu. Dan melewati bangunan bergaya romawi, dengan tiang-tiang besar.

Enaknya di Kaliandra, menu makan di sana sehat. Tanpa penyedap rasa. Untuk kudapan, itu dibuat oleh penduduk sekitar komplek Kaliandra. Tak kalah nikmat, minumannya beraneka rasa. Mulai dari teh secang, teh teragon campuran madu dengan jeruk nipis serta daun teragon. Juga ada bandrek.

Saat menginap di Kaliandra, kami disuguhi gurame goreng bumbu rujak, juga sambel nangka. Dan sempat melihat upacara memanggil lebah di malam hari.

Pagi hari, saat matahari muncul, suara burung becicit cuwit meramaikan komplek Kaliandra. Kaliandra adalah wujud kearifan budaya jawa dan pendidikan.

Yayasan Kaliandra, tempatnya cocok untuk liburan keluarga, ataupun yang berbulan madu. Bisa menginap di salah satu villa Hastinapura. Interiornya sangat indah, terutama penataan tempat tidur dan juga kamar mandi yang terbagi dua. 

Menjelang sore, udaranya sejuk cenderung dingin. Jadi, saat menginap di Kaliandra, siapkan kaos kaki tebah. Karena betul-betul dingin saat malam hari. Walaupun sudah berselimut tebal. Air mandinya pun dingin!

Jika ada yang berminat mampir ke Kaliandra, cobal klik dulu  www.kaliandrasejati.org. Transportasi yang paling mudah, jika dari Jakarta, turun di Bandara Abdulrachman Saleh, Malang. Bisa juga naik Bis Jurusan Surabaya, turun di Pasar Palang. Lokasi Kaliandra dekat dengan Taman Safari Prigen.

Saat Imlek di Penang

Aku dan Hadi Dana, tiba di Penang, setelah menempuh perjalan kurang lebih 1,5 jam dari Soekarno – Hatta. Niatnya mau lihat perayaan Imlek di  Penang.

Begitu tiba di airport Penang, bingung mau naik apa untuk sampe ke Hotel. Walhasil, kami mampir ke tempat memesan taxi. Sepakat, dari Airport ke Hotel tempat kami menginap, ongkso taxinya RM 44

Tiba di hotel Grand Paradise di Jl. Macalister 101, Penang,  masih jam 9 pagi. Sarapan di pesawat sudah, tapi perut masih lapar. Kami pun menuju Nasi Kandar Pelita.  Tak jauh dari hotel, tepatnya masih di Jl. Macalister.  Makan nasi kandar, pake cumi dan udang, plus minum, berdua habis RM 36.

Selesai makan, kami pun menyusuri jalan, sesuai dengan peta, mencari jalan Lebuh Chulia.  Sepanjang jalan menuju Lebuh Chulia, banyak penjual manisan buah dan souvenir.  Kami berhenti sebentar di Medan Lebuh Campbell.  Minum teh tarik di kedai Toh Soon Café,  dua gelas teh tarik dan tiga roti bakar, harganya RM 7,4. Kedainya cukup ramai dikunjungi di sore hari  bersimbah sinar matahari. Hingga menjelang malam, kami makan di warung pinggir jalan, di sepanjang Jl. Macalister. Di sana ada penjual bubur ayam, laksa penang,  seafood, minuman serba ada. Rame sekali warung-warung makannya. Dan habis RM 12 berdua.

Keesokan hari, 2 Feb 2011

Kami kembali menuju ke Lebuh Chulia, mau melihat persiapan imlek di sana.  Sepanjang jalan, banyak kuil keluarga. Mampir dan melihat persiapan imlek. Tibalah di  kuil Kong Hock Keong. Suasananya sudah mulai ramai. Orang sembahyang, membakar dupa.Sesak napas, hidung mulai tersumbat mencium aroma dupa di penjuru kuil. Serta kepanasan, kami pun keluar, minum the longan. Tak mahal, 2 gelas longan cuma RM 3,6 saja.

Kembali menyusuri jalan-jalan di Penang. Tidak terlalu ramai oleh kendaraan umum.  Fasilitas umum untu transportasi ya cuma bis. Juga motor serta kendaraan pribadi yang lalu lalang.  Sayang, kalau sampe Lebuh Chulia tak mampir ke rumah makan Kassim Mustafa, di Lebuh Chulia 12.  Pas lapar, pas waktu menujukkan jam 12 siang.  Menu yang spesial katanya  Roti Canai dengan kari sapi.  Pesanan datang. Daging sapinya betul-betul empuk! 

Selesai  makan, kami berjalan menuju Komtar alias  terminal bis.  Tujuangnnya ke Batu Feringghi.  Dengan bis 101, dua orang bayar RM 5,4 dari Jl. Burma ke Batu Feringghi.

Gila! Dalam bis full AC, tidak terlalu penuh, dan ada wifi. Jadi bisa berselancar dengan iPad. Kira-kira 30 menit, sampai di pantai Batu Feringghi. Panas! Masih jam dua siang. Banyak juga yang mandi di pantai. Kami memilih duduk, makan cemilan di Beach Corner Seafood resto.  Lumayan  juga harganya, makan satu porsi menu ikan, cumi, udang panggang habis RM 72.  Tak berlama-lama di Batu Feringghi, segera pulang. Menuju hotel, menghalau panas terik, lumayan dalam bis AC.

 Esok hari, tanggal 3 Feb

Kembali ke kuil Kong Hock Keong di Lebuh Chulia. Mampir sebentar. Suasanya betul-betul rame. Orang minta sedekah, berbagi uang. Ada yang sembahyang, pengemis berjejer di depan jalan. Juga para bikhsu dari Thailand, meminta sedekah.

Sudah tak nyaman. Sebentar saja, cuma ambil beberapa foto. Setelah itu, kami memutuskan untuk mengunjungi Kek Lok Si Temple.  Dari Komtar, menggunakan bis alias Jetty  103. Masing-masing bayar  RM 2.8. naik Jetty ini harus uang pas, kalau tidak, tidak ada kembalian.

Melewati jalan berkelok-kelok, hampir satu jam lamanya perjalanan. Bis pun penuh sesak. Karena libuk Imlek, semua piknik ke sana. Tepat di depanku, terdengar logat Jawa, ngobrol,bercerita sambil tertawa-tawa. Rupanya TKW dari Indonesia.

Letak kuil Kek Lok Si memang di atas bukit. Setelah turun dari bis, melewati orang berjualan. menaiki tangga, bahkan dalam perjalan ke kuil, ada pertokoan khusus menjual souvenir.  Setibanya di Kek Lok Si, sudah penuh pengunjung!

Rupanya, liburan Imlek, semua pergi ke Kek Lok Si,  kuil pun tak lagi syahdu untuk berdo’a tapi ramai seperti pasar saja.   Lampion merah dan kuning terpasang dilangit-langit kuil. Bau dupa kembali tercium, orang hilir mudik berdo’a.

Kepala pusing, kepanasan, dan mencium bau dupa, juga lihat manusia begitu banyak, berseliweran di komplek Kek Lok Si. Kami pun turun, pulang ke Macalister. 

Selesai mandi, menghilangkan debu dan bau keringat, kami pun iseng jalan-jalan ke belakang hotel. Melewati rumah-rumah  dengan arsitek tempo dulu, jaman kolonial inggris.  Kusen pintu, jendela serta lantainya masih asli.

Dari situ, kami mampir ke kuil india. Kebetulan waktunya sembayang.  Menarik, melihat pendetanya sedang memberkati jemaah. Dan jemaatnya ada yang membawa yoghurt untuk sembahyang

Menebus rasa lelah,  mampir makan malam di Town View Seafood, Jalan Macalister. Pesan 1 porsi udang, 1 porsi calamary dan orange juice,  total jadi RM 64. Bayar makan kedua termahal, setelah di Batu Feringghi.

 Hari Keempat, 4 Feb 2011

Hari terakhir,  haluan pun berubah.  Harus cari lokasi yang menarik. Dan jatuhlah pada Penang Buterfly Farm, di Teluk Bahang.  Setiap orang dewasa, bayar RM 50. Taman kupu-kupunya tidak terlalu besar, tapi cukup menyenangkan lihat koleksinya. Kupu-kupu bermandi sinar matahari, terbang berseliweran. Juga ada yang hinggap di di atas bunga.

Sebagai penggemar kupu-kupu, panik plus seneng banget! Puas mengeliling taman, ternyata kami masuk ke toko souvenir, yang semuanya bertema kupu-kupu.  Betul-betul dengan desain kualitas yang bagus.

Dari taman kupu-kupu, berdua sepakat untuk mengunjungi  Dharmukarana Burmese Temple  dan Sleeping Budha.  Luar biasa! Di tengah panas terik, banyak pengunjung dan pedagang.

Sayangnya, setelah dari kuil burma, kendaraan selalu penuh. Kami pun sepakat untuk jalan kaki menuju Jl. Macalister. Dikira deket, ternyata jauh juga. Sampe gempor!

Dan kembali makan, menuju Komtar, sambil mencari souvenir. Dan mampirlah di warung nasi Briyani di belakang Komtar. Habis RM 13, 5 berdua.  Perlu dicatat, kalau niatnya belanjan pada libur Imlek, jangan ke Penang. Semua toko tutup sampe 3 hari, saat libur Imlek.

Hari Terakhir, 5 Feb 2011,

Usai sudah berlibur, waktunya pulang. Dan tak lagi bingung, harus naik kendaraan apa, dari Grand Paradise Hotel menuju bandara. Ada Jetty, bus yang siap mengantar dari Komtar ke bandara. Tentunya lebih murah, daripada naik taxi. berdua cuma habis, sekitar RM 7 saja.

Pengalaman yang baik, tapi semua makanan yang dicicipi, hanya roti canai di Lebuh Chulia 12 yang paling enak. Selebihnya, rasa makan biasa saja. Tetep makanan Indonesia yang enak dan kaya rasa. Satu hal lagi, di Penang, bisnya bersih, dan bisa sampe atas gunung, bis bersih, ber-AC dan ada wifi.

Kurangi Bahan Tambahan Pangan Sintetis, Gunakan yang Alami

“Kita punya makanan favorite. Apakah makanan favorite kita sudah sehat atau tidak?  Tidak hanya bahan baku, tapi tambahannya, karena itu tidak terlihat,”  kalimat pembuka  yang dilontarkan  Mega Ika Cahyani, dari Indonesia Initiative for Social Ecology (IISES), hadir di Obrolan Kamis Sore  (OKS)  edisi bulan Maret 2011.

OKS kali ini mengangkat isu Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang ada di dalam makanan kita sehari-hari, terutama pada jajanan yang dikonsumsi anak-anak. BTP atau bahan aditif yaitu bahan yang ditambahkan selam proses pengolahan makanan yang bertujuan selain memberikan gizi utama (karbohidrat, protein dan lemak).

Ada dua jenis BTP, yang alama dan sintetis (buatan). Contoh BTP alami yaitu garam dan gula bisa untuk mengawetkan makanan, kunyit dan daun suji untuk pewarna makanan. BTP sintetis dibuat dari bahan non alami, contohnya vetsin (monosodium glutamat) untuk penyedap rasa dan amaranth untuk memberi warna merah. Untuk penambah aroma alami bisa ditambahkan daun pandan.

Mengapa BTP ada dalam makanan kita?

Industri makan makin mewabah, industri ini perlu bahan pengawet agar makanannya tahan lama dan masa jualnya lebih lama agar dapat diedarkan seluas mungkin.  Supaya produknya menarik bagi konsumen, maka industri makanan menggunakan BTP sintetis, misalnya bahan penyedap rasa, pemantap rasa, perisa, aroma, pewarna dll. Selain pada industri, pengolahan makanan di rumah tangga juga sering  kali menambahkan BTP sintetis, seperti penyedap rasa dan pewarna.

Mengapa Kita perlu waspada?

Makanan yang beredar dipasaran umumnya mengandung BTP sintetis. BTP sintetis aman jika dikonsumsi sesuai dosis. Jika kita mengkonsumsi makanan/minuman yang mengandung BTP sintetis dan masuk ke dalam tubuh kita tanpa memperhatikan jumlahnya, kebiasaan ini dapat mengakibatkan penumpukan BTP sintetis dalam tubuh.

“Gula atau garam yang berlebihan pun berbahaya, tidak hanya pada orangtua, juga anak-anak. Jika makanan favorite itu bakso, kita tidak tahu di dalam bakso mengandung apa saja. Rasa gurihnya dari apa? Mie dari apa? Sausnya dari Apa?” Mega memaparkan kandungan BTP sintetis yang terdapat dalam makanan.

Jika makan semangkok bakso ditambah dengan sekantong sukro, berapa banyak bahan pengawet yang masuk dalam tubuh kita dalam sekali makan?

Selain itu, penyalahgunaan bahan tambahan non-pangan, misalnya formalin dan borax pada tahu, ikan dan bakso serta penggunaan pewarna textil ke dalam  makanan jajanan anak-anak.

Apa yang harus kita lakukan?

Mulai saat ini, kurangi mengkonsumsi bahan tambahan pangan sintetis dan mulai menggunakan bahan tambahan pangan alami. Bumbu masakan yang dibuat dari bahan alami, misalnya rempah-rempah, mengandung zat-zat yang menyehatkan dan menyembuhkan gangguan yang terdapat dalam tubuh serta melezatkan makanan.

Untuk membantu masyarakat mengetahui kandungan zat aditif yang terdapat dalam makanan. IISES sudah sudah membuat kamus aditif untuk memudahkan orang lain membaca kandungan zat aditif tadi. Misal, aspartam, pemanis buatan itu ada di minuman yang mengandung soda.

Mega juga menjelaskan rasa gurih alami  yang bisa dicampur ke dalam makanan di rumah. Bahannya dari udang rebon. Rebon dikeringkan, lalu dihaluskan. Rebon yang sudah dihaluskan bisa dicampur ke dalam nasi goreng. Selain rebon bisa juga ayam atau ikan tongkol sebagai penambah rasa alami.

Bumbu alami yang sudah dibuat oleh IISES ada bumbu ayam goreng dan tempe goreng. Bahan-bahanya berasalah dari kunyit dan bahan alami lainnya. Dan masa kadaluarsanya hanya enam bulan saja.

Elin Septiva, rekan Mega di IISES menjelaskan bahwa rempah-rempah yang mereka gunakan berasal dari Kelompok Tani Tapak Dara di Sindang barang, Bogor. Petani ini memanfaatkan lahan kosong.  Dan IISES membeli hasil kebun dari petani, seperti kunyit.

Untuk kesehatan anda dan keluarga, tak ada salahnya sejak dini sudah mengurangi BTP sintetis, gunakan yang alami. Jika Anda berminat untuk membeli atau mendapatkan bumbu alami, silahkan kontak ke ises.indonesia@gmail.com. [irma dana]