Kepiting Saos Padang

whatsapp-image-2017-01-01-at-8-15-41-pmPas 1 Januari 2016, selain perayaan tahun baru, juga ulang tahun maminya Hadi Dana, suami saya. Tiga anak mertua plus menantu serta cucu pasti kumpul, dilanjutkan makan malam bersama.

Dan pilihan tadi malam, adalah Pondok Pangandaran, di kawasan boulevard Kelapa Gading. Rumah makan dengan menu seafood ini ramai pengunjung, bahkan sampai antri tempat duduk, termasuk kami.

Malam tadi makan, kepiting soka goreng tepung, ikan bawal bakar, udang goreng, udang saos Padang,  kepiting rebus dan kepiting saos Padang. juaranya, Kepiting soas Padang, pas pedasnya.

Luar biasa memang Pondok Pangandaran, begitu selesai makan, meja kami sudah ditunggu pelanggan. Memang enak!

90 Days Smoothie Challenge

image1Ceritanya, di tahun 2016 lalu ada challenge selama 90 hari untuk membuat dan minum smoothie, itu loh campuran buah dan sayuran diblender.  Ada Cindy, Ina, Pita dan Yuni. Berlima setiap hari posting minuman yang kami buat. Cindy dan Yuni memang sedang pemulihan setelah kemoterapi. Berdua haru menaikan lekosit. Saya sendiri sebelum ada challenge memang suka membuat smoothie.

Setiap hari melakukan eksperimen campuran minuman enak ini. Mulai dari beet,buah naga campur nenas. Sampai pokcoy campur mangga atau nenas pun dihajar. Bahkan lobak pakai nenas juga dicoba, karena bagus untuk penderita asam urat. Pita lebih gokil, dia bisa mencampur dengan oatmeal. Dan aku muali berani campur granola, chiaseed dan dry fig.

image2.jpgLantas apa yang dirasakan setelah 90 hari lulus menerima tantangan? Rambut yang biasa tiap disisir rontok banyak, sekarang berkurang. Kulit lebih lembab dan jarang terkena flu. Sampai waktu di India saya bela-belain nyari yang jualan smoothie, dan di India setiap cafe selalu ada smoothie. Bahkan yang jualan di pinggir jalan pun tak kalah enak, campuran delima, nenas dan jeruk, yuuummm!

Dan, kami pun kehilangan Yuni, tak tuntas smoothie challenge hingga 90 hari. Yuni meninggal saat akan menjalani kemoterapi kedua untuk kanker kelenjar getah bening.

 

Cerita Burung Membawa Rindu di Pulau Tidung

79

 Photo : Agnes Pupud

Di SDN 03 Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, namaku terpampang di kertas putih, bersama relawan KIJP lain. Semua nama-nama baru, hampir tidak aku kenal. Kecuali Dinda Kanya Dewi, namanya tak asing, wajahnya sering berseliweran di sinetron Cinta Fitri.

Tapi, entah siapa yang nama lain yang juga terpampang di kertas itu, Abros, Dea, Agam, Marissa, Dinda, Syifa dan Lea, Agnes Puput dan Aditsky. Dengan sia-sia, kucari-cari nama relawan yang aku kenal dan pernah mengajar di Pulau Tidung. Tak ada satu pun. Sial! Aku sendiri yang ditempatkan di SDN 03 Pulau Tidung. Walau sebetulnya akan ada Iffa, yang dulu juga pernah mengajar di SDN 02 Pulau Tidung. Cuma sayangnya Iffa batal berangkat ke Pulau Tidung. Lengkap sudah, kesialan ini, pikirku.

Hanya ingatan yang bergulir. Ketika setahun lalu mengajar di SDN 03. Kali

11236473_903830943036248_8762446619332090598_o Photo : Agnes Pupud

pertama mengajar anak pulau. Pikiran seperti mengikuti gelembung-gelembung balon dari sabun yang aku sempat mainkan bersama anak-anak pulau. Serta flashmob dengan lagu Terhebat dari Coboy Junior. Rasa kangen yang tersembunyi menjalar di hati yang agak dongkol itu.

“Bu, kapan ke pulau lagi?” Itu pula yang teringat. Saat, April lalu, ada yang mengirim pesan singkat ke telepon selulerku. “Kamu siapa? Iya doakan, Ibu kembali ke Pulau, ya? Kamu dari Pulau Harapan?” tanyaku, karena belum lama selesai kegiatan KIJP di Pulau Harapan.

“Bukan Bu, saya anak SD Tidung 3, kelas IV, terima kasih bu, ditunggu…” Jawabnya singkat, tanpa menyebutkan nama, dan aku pun lupa bertanya.

***

Continue reading “Cerita Burung Membawa Rindu di Pulau Tidung”

Jajanan Enak di Pontianak

10941852_10153021466927236_2544450188231528531_n
Kepiting Asap Pondok Kakap

Pontianak, walau panas, buat saya bikin kangen, makannya serba enak. Makanan favorit adalah kepiting asap yang dijual di Pondok Kakap. Kepiting asap ini bumbunya mirip bumbu rendang, terasa aroma kemiri, dengan bumbu kental. Bisa dibawa untuk oleh-oleh, satu bungkus kepiting asap Rp. 145.000,-. Restoran Pondok Kakap ini berada di Jalan Ismail Marzuki No. 33A, Pontianak Selatan. Tak pernah bosan makan di Pondok Kakap ini, selalu menggugah selera makan. Apalagi ditambah tumis daun pakis bumbu terasi.

10930528_10153021833037236_3848731400771594856_n
Kepiting Lada Hitam – Abang Kepiting

Selain Pondok Kakap, saya pernah makan kepiting lada hitam di rumah makan Abang Kepiting. Makan disini relatif lebih murah dari Pondok Kakap. Selain kepiting lada hitam, ada ikan bakar yang tak kalah lezat, juga cumi. Abang Kepiting ada di Jl. Hijas, Pontianak Sel., Kota Pontianak. Di sini bisa memilih sendiri ikan apa yang menjadi pilihan dan sesuai selera. Abang kepiting ini tempat makan terbuka, dan bisa memilih duduk lesehan juga.

Selain makan kepiting, sempat makan bubus pedas. Isinya, ada kacang, dan taburan teri asin dan sayuran. Bubur ini enak untuk sarapan. Beli bubur pedas semangkuk bisa dimakan berdua, tentu jika masih ingin mencicipi jajanan Pontianak lainnya.

10401985_10153025374117236_4999533309310691400_n
Bubur Pedas

Setelah makan bubur pedas, kami mampir membeli Chai Kwe Siam. Melihat Chai Kwe Siam teringat makanan serupa saat di Nepal, yaitu Momo. Isinya, ada sayuran, bengkunga, kacang ijo. Chai Kwe Siam ini bisa digoreng atau kukus. Saya memilih makan yang kukus, lebih terasa dimulut, tanpa minyak.

Makan Chai Kwe ini dikucuri dengan sambal yang asam, atau serupa minyak ada taburan wijen. Bisa dibawa pulang Chai Kwe kalau memang belum puas. Saya sempat membawa 40 buah ke Bogor.

10947256_10153025150987236_1259145313589351814_n
Chai Kwe Siam

Selama tiga hari di Pontianak, sempat makan di warung mietiaw Apollo. Mietiaw Apollo ini terkenal enak. Serupa kwetiaw kalau di Bogor. Makan mietiaw berisi daging sapi ini pake perasaan jeruk, jadi pedas dan asam bercampur lezat di lidah.Mietiaw ini porsinya cukup besar, jika perut tak mampu menampung, sebaiknya makan berdua. Mietiaw Apollo ada di  Jl. Patimura No.63, Kota Pontianak.

10941824_10153017459447236_1470566500360801919_n
Mietiaw Apollo

Tak lupa mampir ke Kopi Aming. Warung kopi ini penuh dengan laki-laki dengan kepulan asap rokok. Sampai kami harus menunggu untuk mendapat meja. Segelelas kopi susu di kedai ini hanya 8000 ribu rupiah saja. Warung ini juga menjual kopi giling dan biji.

Nah! jika ke Pontianak, wajin makan dan mencicipi makanan diatas. Panas menyengat di siang hari, terobati makan enak, puas rasanya.

Cita-Cita Aku Guru Ngaji

Mengisi formulir kelas inpirasi ketiga kali di tahun 2015. Kali ini Serang, dan berhasil lolos 12115933_10153660854087236_6530384139551658_nditerima jadi relawan pengajar. Sempat bingung, mau menginap atau berangkat subuh dari Bogor. Bersama suami, yang juga diterima menjadi fotografer dan seorang teman dari Bogor, sepakat berangkat subuh. Perjalanan dari Bogor ke Serang hanya dua jam, melewati jalan tol.

Serang pertama kali mengadakan kelas inspirasi.Berangkat jam 4.15 menit, sebelum subuh dari Bogor. Sebagian relawan KI Serang berkumpul di depan Museum Nasional Provinsi Banten bekas Pendopo Gubernur Banten. Ada Winda, fotografer kelompok yang rumahnya dekat alun-alun mengajakku sama-sama berangkat menuju SD Pabuaran.

Di pinggir jalan berdebu karena kemarau, Winda sudah menunggu dengan sedan berwarna hitam. Perempuan berkerudung abu-abu, berbaju merah ini masih kuliah di Universitas Padjajaran-Bandung. Dia menjadi fotografer di SD Pabuaran. Kami tak sempat bertemu saat briefing, karena saya berhalangan hadir. Winda baru pertama kali mengikut kelas inpirasi.

Menuju SD Pabuaran- Petir, jalanan di Serang berdebu tapi cukup lengang. Menyusuri jalanan yang masih bagus, tidak macet, dari alun-alun ke SD Pabuaran ditempuh sekitar 40 menit menggunakan mobil pribadi. Kami sempat bablas keluar dari petunjuk arah, sehingga harus putar balik menuju SD Pabuaran, yang tidak terlihat dari jalan raya, ngumput dibalik rumah penduduk.

Continue reading “Cita-Cita Aku Guru Ngaji”

Inspirasi Sesama Relawan

12140853_10153666328337236_5316275232607838979_o
Photo : Kania Thea|KI Jakarta 4

Sebuah surat elektronik masuk di inbox, tanggal 11 Agustus 2015. “…kami sampaikan bahwa Irma Sutisna-Dana TERPILIH menjadi relawan pengajar” Sebaris kalimat yang ditunggu-tunggu. Akhirnya saya diterima menjadi salah satu relawan di KI Jakarta tahun 2015. Setelah tahun 2014 tidak berhasil melamar jadi relawan di KI Jakarta.

Di Kelas Inspirasi Jakarta 4 saya mendapat kelompok 71, kelompok paling akhir. Dari nama-nama relawan, tidak seorang pun saya kenal. Total ada 27 orang di whatsapp group. Karena tidak datang saat briefing, awalnya serasa canggung mau mengajukan ide-ide dan ngobrol dengan relawan lain. Akhirnya memberanikan diri, mengajukan keberatan untuk beberapa kebutuhan dalam keompok. Seperti penggunaan plastik yang terlalu banyak.

11703505_10153666327117236_1397579111738398977_o
Energi positif photo : Kania Thea |KI Jakarta 4

Kami mengajar di SD Dukuh 04, Kramat Jati- Jakarta Timur. Kelompok yang besar,  kami mengajar di sekolah pagi dan petang. Beberapa orang relawan bisa mengajar di sekolah pagi dan petang. Saya hanya mengambil sekolah petang. Berkumpul bersama relawan, berlatar belakang berbeda, dengan  profesi yang keren. Kadang susah menyatukan persepsi. Terutama ketika bicara mencintai lingkungan, mengurangi penggunaan  plastik, meminimalisasi biaya. Ini selalu terjadi,  terutama saat membuat kegiatan penutupan dan menuliskan cita-cita anak.

Bagiku, kelas inspirasi itu tidak harus mewah untuk membuat perintilan saat closing di hari inspirasi. Bisa menggunakan kembali barang-barang disekitar kita. Akhirnya, keluar ide, saat kelas inspirasi Garut. Untuk membuat origami berbentuk kupu-kupu, dengan hiasan menggunakan rumput ilalang kering, dan ditempelkan diatas kartos. Rela membuat origami kupu-kupu sebanyak 200 buah, karena suka segala jenis pernak pernik kupu-kupu. Walhasil selama dua minggu, setiap ada waktu luang rajin melipat. Di commuter, kantor dan rumah, sebanyak 200 buah origami kupu-kupu berhasil dibuat. Lantas, tinggal menyiapkan rumput ilalang.

Continue reading “Inspirasi Sesama Relawan”