Cita-citaku Jadi Pemain Sepak Bola

10629878_10152636997002236_1690749556899551682_n
SD Tidung 03

“Selamat pagi anak-anak…..Assalamualaikum,” salamku si ruang kelas empat SD Tidung 03.

“Selamat pagi…waalaikum salam, “ serentak seisi kelas menjawab. Mereka baru saja selesai upacara dengan seragam putih-putih, masuk kelas menunggu guru-guru dari Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau (KIJP) yang akan mengajar satu hari saja.Selesai berdo’a, aku mengajak mereka memejamkan mata, untuk menarik napas yang dalam sebanyak tiga kali, untuk menenangkan pikiran, saat belajar. Rupanya, trik itu tak berhasil. Anak-anak kelas empat tetap berceloteh di meja masing-masing, terutama dibarisan belakang. Sementara dibarisan depan, ada Zahra, ketua kelas empat, berkerudung putih, kalau ditanya hanya menjawab dengan senyuman saja.

Pada 25 Agustus 2014, bersama lima orang relawan, dengan latar belakang profesi yanbg berbeda,  menjadi pengajar di SD Tidung 03.  Rona, Shani, Luddy, Henry, Adnan sang videografer, juga Bowo juru photo di Tidung 03. Total murid dari kelas I-VI hanya 120 orang. Dan pertama kalinya buatku bercerita soal konservasi di SD yang secara administrasi masuk dalam wilayah DKI Jakarta.

10644945_10152636998267236_7565090600128795693_n
siswi SD Tidung 03

Bu Rustini, Kepala Sekolah SD Tidung 03, sangat kooperatif membantu relawan yang hendak mengajar selama satu hari, karena ini kali kedua relawan dari KIJP berkunjung kesekolahnya, jadi sudah biasa direpotkan kegiatan KIJP.

“Ada yang pernah lihat burung apa di sini?” tanyaku di dalam kelas.

“Buuuu…bu….saya punya burung beo, bisa ngomong bu,” salah satu murid mengacungkan tangannya dengan semangat. Bahkan ada yang punya burung elang, entah elang jenis apa.

“ Ooooh, burung apa? Beo bisa bicara? boleh gak sih pelihara burung?” tanyaku. Sambil menempelkan poster jenis-jenis burung terancam punah di Indonesia dan poster jalur migrasi burung pantai. Bagi anak-anak, burung yang bisa bicara, itu burung beo, yang dimaksud adalah Tiong sumatra, berwarna hitam, dengan paruh kuning.

Tidak ada yang menjawab. Begitu lihat poster burung, semua anak langsung menunjuk, bertanya nama burung-burung yang ada di poster. Salah satu anak bahkan menyebutkan pernah lihat burung Layang-layang.

10574273_10152664391987236_971363824855328600_n
berebut binocular |photo Aribowo Juliarso

Waktu cerita soal burung-burung air dan pantai, tidak ada satupun yang paham, padahal Pulau Tidung dekat dengat Pulau Rambut, salah satu habitat dan tempat berbiaknya burung yang ada di Jakarta. Mereka hanya menjawab, Cuma pernah lewat saja ke Pulau Rambut. Anak-anak di Pulau Tidung, hanya tahu Muara Angke, pelabuhan tempat kapal-
kapal yang membawa mereka keluar dari Pulau Tidung menuju Jakarta.

“Cita-citanya apa ya anak-anak…., ada yang mau jadi penulis, wartawan, atau peneliti gak? “ tanyaku,

“ Saya mau jadi dokter, mau jadi pemain sepak bola….,” jawaban jadi pemain sepak bola hampir di semua kelas, murid laki-laki ingin jadi pemain sepak bola. Rupanya demam piala dunia belum pudar dari Pulau Tidung.

Saat teropong dikeluarkan, mereka berebutan untuk meminjam, mengintip dari balik lensa, mengarahkan ke poster, untuk identifikasi warna-warna jenis burung. Rupanya, mereka lebih suka mengganggu satu sama lain, dengan menghalangi lensa teropong. Dan yang tidak kebagian teropong, melihat gambar burung di buku Panduan Burung-
Burung Sumatra, Jawa Bali dan Kalimantan, John MacKinnon.

10983_10152664392397236_5702905852999311617_n
Gelembung balon membawa cita-citamu |Photo by Aribowo Juliarso

Dari enam kelas, reaksi anak-anaknya berbeda. Saat mengajar di kelas empat, anak laki-
laki lebih agresif maju. Sementara di kelas lima dan enam,  karena muridnya lebih sedikit, digabung kedua kelas tersebut, mereka sudah mulai bisa diajak komunikasi, sambil duduk lesehan dilantai, terasa lebih dekat tak ada jarak. Begitu mengajar kelas satu, dua dan tiga, kebisingan dan hilang kendali mulai dirasakan. Apalagi, selesai mengajar di kelas tiga, ada anak laki-laki naik ke jendela, dan teriak-teriak, sementara temannya menggedor-gedor pintu kelas. Suasana jadi riuh, dan anak-anak berlarian di dalam kelas.

Tak menyurutkan niat untuk tetap berbagi cerita soal konservasi, mencintai lingkungan sekitar rumah, patut ditularkan pada anak-anak SD di pulau, karena kita tak pernah tahu, walau hanya satu hari , sedikit yang kita bagi, bisa menjadi mimpi anak-anak. Dan, teruslah bermimpi, gapai cita-citamu setinggu langi….kamu…kamu terhebat! [Irma S-Dana]

3 thoughts on “Cita-citaku Jadi Pemain Sepak Bola

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s