Mengejar Raptor Sampai ke Negeri Siam

Pada banyak pengamat burung, pesona jenis burung pemangsa (raptor) sulit sekali dihindari. Asman Adi Purwanto sampai rela meninggalkan pekerjaan tetapnya, demi memenuhi undangan untuk mengamati migrasi burung-burung pemangsa ini selama 3 bulan di Radar Hill, Thailand. Lokasi yang berketinggian 195 meter di atas permukaan laut, di antara Teluk Thailand (sebelah Timur) dan perbatasan Thailand dengan Myanmar (di sebelah barat), memang ideal sebagai tempat pengamatan, karena tempatnya terbuka, dikelilingi oleh perkebunan karet dan kelapa sawit, serta merupakan lokasi penempatan radar untuk keperluan militer.

Pengamatan dilakukan sejak tanggal 10 September-12 Nopember 2011, setiap hari jam 08.00 – 17.00, oleh Asman bersama dengan 5 orang pengamat burung lainnya dari Thailand. Dari pengamatan burung yang bermigrasi yang melintas di Radar Hill, mereka menemukan:

  • 24 jenis raptor diurnal di mana 4 jenis di antaranya masuk kategori Rare Migrant (Eurasian Sparrowhawk Accipiter nisus, Steppe Eagle Aquila heliaca, Imperial Eagle Aquila nipalensis dan Amur Falcon Falco amurensis).
  • Beberapa jenis baru yang tercatat dan teramati di Radar Hill sejak tahun 2008, yaitu Jerdons Baza Aviceda jerdoni (78 individu), Crested Serpent Eagle Spilornis cheela (167 individu, tahun 2007 ditemukan di PPS Cikananga, Sukabumi), dan Shikra Accipiter badius.
  • 21 jenis non raptor, di mana ada satu jenis yang Rare Migrant, yaitu White-throated Needletail Hirundapus caudacutus. Jenis non raptor lainnya seperti Seriwang asia, Sepah kelabu, Srigunting kelabu, Cucak kuning, Kirik-kirik laut, Sikatan bubik, Bentet coklat, Murai-batu tarung, Cikrak mahkota.

Total hasil pengamatan selama 3 bulan tercatat ada 161.337 individu dari 24 jenis raptor migran dan 7. 089 individu dari 21 jenis non raptor. Burung-burung migrasi tersebut terbanyak teramati pada pukul 09.00-10.00 dan antara pukul 14-15.00.

Ada pun jenis-jenis yang mendominasi migrasi adalah Black Baza Aviceda leuphotes (70.390 individu = 43,6%, sangat jarang ditemukan di Indonesia), Oriental Honey-buzzard Pernis orientalis (32.423 individu = 20,1%, catatan perjumpaan di Jawa-Bali selama tahun 2008-2010 hanya 9.024 individu saja), Chinese Goshawk Accipiter soloensis (42.680 individu = 26,5%, catatan perjumpaan di Jawa-Bali selama tahun 2008-2010 hanya 43.612 individu saja), Japanese Sparrowhawk Accipiter gularis (2.926 individu = 1,81%, catatan perjumpaan di Jawa-Bali selama tahun 2008-2010 hanya 2.297 individu saja), Shikra Accipiter badius (1.620 individu = 1%, di Indonesia diketahui ada breeding resident di Sumatera) dan Grey-faced Buzzard Butastur indicus (10.454 individu = 6,48%, tercatat ada 6.004 individu di Sangihe tahun 2009).

Jenis-jenis raptor yang bermigrasi dengan yang menetap (resident) mudah dibedakan, karena jenis yang bermigrasi biasanya terbang sangat tinggi, dan mereka biasanya sangat sensitif dengan kehadiran manusia. Fenomena ini juga terjadi di kawasan pengamatan migrasi raptor di Puncak, Jawa Barat. Di tahun-tahun belakangan ini, sejalan dengan makin padatnya area di sana, raptor yang terbang makin jauh dan tinggi sehingga sulit diamati. Nanang Khairul Hadi dari tim UKF IPB melaporkan dari hasil 4 kali pengamatan di Puncak tahun 2011 jumlah burung yang bermigrasi sangat sedikit, dengan total individu yang teramati sampai pertengahan November sekitar 1.000 ekor, di mana jumlah yang terbanyak adalah Accipiter soloensis. Sedangkan dari 7 kali pengamatan di kampus IPB Dramaga ditemukan sekitar 300 ekor, mereka datang dari arah yang berbeda (Ciampea).

Sejauh yang diketahui Asman, jalur migrasi burung ini banyak dipengaruhi oleh cuaca, jenis vegetasi tidak terlalu berpengaruh, asal ada tutupan hutannya, tidak harus hutan primer. Kebutuhan vegetasi ini antara lain sebagai tempat beristirahat (roosting site) dan tempat mencari makan. Di P. Rupat yang hutannya kini hancur, sejak tahun 2009 jumlah burung migrasi yang lewat mengalami penurunan. Di Kalimantan jenis Oriental Honey-buzzard melalui jalur yang banyak serangganya/ sarang lebah. Kebanyakan burung bermigrasi di siang hari, tetapi jenis Elang tiram bermigrasi di malam hari.

Di Thailand sendiri, migrasi raptor ini banyak menarik perhatian orang, sehingga dibuat Festival migrasi burung yang rutin diadakah setiap tahun hasil kerja sama LSM dan pemerintah, yang didukung sepenuhnya oleh Dinas Pariwisata Provinsi, antara lain dengan menyediakan berbagai papan informasi di beberapa Service Area.

Bahkan di Thailand sudah ada satu desa yang turut menjaga elang-elang tersebut, walaupun dengan konsekwensi ada sebagian lahan padi mereka yang rusak. Pada awalnya pun di tempat tersebut tingkat perburuannya tinggi , dan sulit sekali melihat burung. Akhirnya para pengamat berusaha meyakinkan penduduk bahwa burung bisa mendatangkan uang (penginapan, rumah makan), dan ternyata hasil yang didapat lebih banyak dari jumlah padi yang hilang.

Beberapa teman di Indonesia juga berkeinginan agar fenomena migrasi burung ini bisa disebarluaskan, agar makin banyak orang yang bisa turut menikmati. Namun masih menimbang antara manfaat konservasi versus bisnis. Tetapi akan lebih baik lagi bila info-info seperti itu bisa disebarluaskan ke publik melalui berbagai media, sekaligus mendidik masyarakat tentang fenomena alam ini.

Di akhir presentasi, Asman memberikan tips waktu-waktu terbaik untuk mengamati migrasi raptor ini di Radar Hill. Bila ingin melihat Chinese Goshawk, datanglah di minggu ke-3 September, Oriental Honey-buzzard di minggu ke-1 Oktober, Grey-faced Buzzard di minggu ke-2 Oktober dan Black Baza di minggu ke 3-4 Oktober. [jeni shannaz & irma dana]

Obrolan Kamis Sore, 22 Desember 2011| Nara sumber : Asman Adi Purwanto (Raptor  Indonesia) Asman_adi@yahoo.com

 

One thought on “Mengejar Raptor Sampai ke Negeri Siam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s