Semangat Tanpa Batas Aleta Baun – Perempuan Mollo

Diskusi  “Semangat Tanpa Batas” di StoS Film Festival menghadirkan Aleta Baun dari Mollo, Abetnego Tarigan – Sawit Watch,  Melanie Subono dan Fadli PADI dari kalangan musisi.

Mollo sebuah kabupaten dengan 7 kecamatan dan 27 Desa ada di Pulau Timor, dan berada di kawasan Pegunungan Mutis. Lama perjalanan satu hari dari Kupang.  Sejak tahun 1990 Aleta Baun bersama warga Suku Mollo berjuang mengusir investor pertambangan batu dari wilayah mereka.

“Tahun 1996, masuk pertambangan batu magnet, PT. Ose Indah Magnet, tapi gagal. Penduduk kampung tidak setuju. PT. Itu keluar. Masyarakat juga tidak paham advokasi. Tahun 2007 masuk PT. Karya Asta Alam, aktivitasnya cukup besar. Juga PT. Sejahtera. Di Mollo ada beberapa ijin tambang yang masuk serentak,” tutur Mama Aleta dalam Diskusi Semangat Tanpa Batas di StoS Film Festival, Kamis 23 Februari lalu.

Mama Aleta berjuang mengusir kegiatan pertambangan di Mollo, bahkan harus tidur di hutan. Tak jarang tersebar kabar kalau mama Aleta sudah ditangkap dan di penjara untuk menakut-nakuti pendukunganya.

“Filosophi sebagai orang Timor, batu atau bumi sebagai tubuh manusia. Rambut adalah hutan, daging adalah tanah, dan tulang sama dengan batu. Satu sama lain saling terkait,”  Mama Aleta menjelaskan satu kesatuan sumber daya alam dengan tubuh manusia, sesuai filosophi orang Timor.

“Di Timor, banyak nama marga diambil dari nama batu. Seperti nama Baxun, itu marga dari batu. Menurut orang Timor, kalau ambil batu dari nama marga, sama dengan membunuh saya,” artinya kalau batu-batu di Timor habis oleh tambang, habis pula nama-nama marga.

Kampung-kampung  yang terdiri dari gunung-gunung batu di atas, sumber mata air, kalau ada tambang dapat menghabiskan hutan, mengakibatkan debit air berkurang. Di dekat hutan larangan pun ada pemukiman masyarakat yang memanfaatkan air untuk peternakan mereka.

“Kita adalah petani, yang  tidak bisa terlepas dari sumber daya alam. Punya air cukup, tanah cukup baru bisa dapat gaji ketiga belas, kalau itu tidak cukup, 9 pun tidak sampai. Janji-janji diberikan, bebas biaya sekolah, rumah berlantai, jalan-jalan bagus, sampai 5 tahun tidak ada janji-janji tadi,”  singgung Mama Aleta.

Melanie Subono dan Fadli FADLI simpati dan mendukung perjuangan Mama Aleta, menurut keduanya People Power yang harus ditegakkan.  Melani dan FADLI bersedia membantu menyarakan perjuangan Mama Aleta melalui jaringan sosial  mereka berdua,  sesuai kapasitasnya sebagai public figure dari kalangan musisi.

“Seperti unfinished bussines, ingin menjadi corong untuk semangat-semangat yang dilakukan oleh orang-orang seperti mama Aleta, dia adalah pejuang yang sebenarnya,”  tutur FADLI PADI yang juga Sahabat WALHI.

Sementara Abetnego, dari Sawit Watch  yang tergabung dalam konsorsium di StoS Film Festival menyinggung  soal ekspansi lahan selain dari kegiatan tambang,  yaitu perkebunan kelapa sawit.

“Kita sebagai konsumen, semua perlengkapan dapur,  adalah produk yang dihasilkan dari kelapa sawit. Perlindungan konsumen di Indonesia tidak ada. People Power di Indonesia bisa jadi pencemaran nama baik, seperti kasus Prita,” singgung Abetnego.

One thought on “Semangat Tanpa Batas Aleta Baun – Perempuan Mollo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s