Perut Manusia Mengancam Keanekaragaman Hayati Laut

Rudyanto, dari The Nature Conservancy  pada  Obrolan Kamis Sore sesi Oktober 2011, membawa kita menyelam ke dasar lautan Indonesia  yang kaya dengan terumbu karang  atau Koral. Dengan topik  Coral Triangle Initiative, on Coral Reefs, Fisheries, and Food  Securities.

“Karang itu sesungguhnya mahluk hidup di laut dangkal, di tepi, sama seperti yang hidup di  darat, terdiri dari berbagai macam jenis. Kawasan yang paling banyak jenis karang kerasnya ada di wilayah Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Papua, Filipina, Timor Leste, Australia,”  Rudyanto memulai Oborolan Kamis Sore.“Koral itu mahluk hidup, kecil-kecil, setiap koral itu seperti kalau kita melihat cumi-cumi, dilihat dari atas, ada banyak tangan, ada yang punya sengat, ukurannya sangat kecil, jumlahnya jutaan, mereka membentuk kumpulan. Bentuknya macam-macam, ada yang seperti bunga, seperti otak manusia, bahkan ada yang seperti meja,” Rudyanto menceritakan jumlah, jenis dan bentuk koral di lautan.

Rudyanto menambahkan koral adalah mahluk hidup di laut dari filum Cnidaria, kelas  Anthozoa yang merupakan kumpulan individu polyp yang hidup dalam koloni raksasa. Koral mengeluarkan kalsium karbonat untuk membentuk rangka luar yang keras.  Koral makan plankton, tetapi hidup koral tidak tergantung selalu pada plankton, 90% tergantung  pada keberadaan alga zooxantela yg hidup bersimbiose dengan koral. Koral kawin pada musim tertentu, dengan cara melepas sel telur dan sperma di air, yang bila bertemu akan menjadi polyp, polyp-polyp ini akan mencari tempat yang tenang dan diam untuk dapat tumbuh dan berkembang biak.

Dari kajian para ilmuwan, mereka menemukan bahwa karang-karang ini terkonsentrasi di  suatu daerah yang membentuk Kawasan Segitiga Koral atau Coral Triangle, kawasan  yang penting dan dilindungi bagi kehidupan karang yang ada. Indonesia memiliki paling  banyak jenis karang di kawasan tersebut, sekitar 90%  karang tersebut ada di kawasan  laut Indonesia, sisanya ada di Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Timor Leste dan Kepulauan Solomon.

Agustus tahun 2007, Presiden  Indonesia mengusulkan Coral Triangle Intiative (CTI)  kepada para pemimpin negara-negara Coral Triangle, dan negara-negara APEC. Negara  yang tergabung dalam Coral Triangle Intiative adalah Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua  Nugini, Timor Leste, dan Kepulauan Solomon. Kawasan ini begitu penting, dan perlu  dilindungi mengingat di dalamnya terdapat:

Lebih dari 75% dari semua jenis koral dunia; 53% individu koral dunia, atau sekitar 600 jenis Lebih dari 3.000 jenis ikan Memiliki hamparan mangrove paling luas di dunia Wilayah pemijahan dan pembesaran tuna terbesar di dunia; dan Menghasilkan sekitar US$2,3 milyar/tahun  

Sumber daya laut di  kawasan segitiga koral ini tentunya tak luput dari ancaman akibat ulah manusia, antara lain:

Penangkapan berlebih Illegal Unreported Unregulated (IUU) fishing Perubahan iklim global  

Secara alami, pemangsa koral adalah ikan dan bulu babi.  Bila dianalogikan dengan kehidupan di darat, terumbu karang adalah oase bagi keanekaragaman hayati laut.

Rudyanto juga bercerita kalau pengelolaan kawasan konservasi laut di Indonesia tengah  disusun, masih perlu kerjasama berbagai instansi agar sumber daya hayati laut bisa  terjaga dengan baik. Keuntungan dengan kawasan konservasi yang ada di darat adalah  batasnya bisa dibuat, dilihat dengan jelas dan dijaga. Lha, kalau di laut? Batas yang tidak  terlihat itu membuat laut seperti common property, milik umum.

Di Nusa Penida, misalnya, beberapa tahun lalu Mola-mola (sun fish) bisa dengan mudah dilihat di sana. Sekarang, terlalu banyak penyelam di sana saat musim Mola-mola, sehingga untuk melihatnya orang harus menyelam lebih dalam lagi, dan tidak banyak Mola-mola yang ada di sana.  Pemerintah Daerah yang antusias dan bersemangat dengan program Coral Triangle adalah  Pemda Kupang dan Klungkung, Bali, di mana kedua pemerintahan daearah tersebut memasukkan pengelolaan laut dalam APBD.

Lantas apa yang harus dilakukan oleh orang yang tinggal di perkotaan, agar penghuni lautan tetap hidup dan tumbuh sebagaimana mestinya?

Jangan membeli koral hidup untuk akuarium, ataupun yang mati yang sudah dijadikan hiasan Jika berada di pinggir pantai, jangan menginjak karang, karena sama saja dengan membunuhnya. Tidak membuang aneka sampah plastik ke laut. Kantung plastik, misalnya, sering dikira sebagai ubur-ubur oleh Penyu atau mahluk di laut lainnya, sehingga mereka sering tercekik saat memakannya. Tidak mengonsumsi jenis-jenis ikan karang yang dieksploitasi besar-besaran untuk di ekspor seperti Tuna sirip biru, Kerapu, Kakap dan lobster. Selain itu jenis bawal hitam dan putih, hiu, kakap putih, kuda laut, sembilang, telur ikan, serta udang, kecuali udang yang ditangkap dengan bubu, dan ikan predator jenis lainnya, yang saat ini semakin berkurang jumlahnya di alam.  

“Sudah jelas kan, yang mengancam keberadaan mahluk hidup di lautan adalah perut manusia,” kata Rudyanto mengakhiri Obrolan Kamis Sore ini. [irma dana & jeni shannaz].

Obrolan Kamis Sore, 13 Oktober 2011

Nara sumber: Rudyanto (The Nature Conservancy)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s