Pelibatan Publik dalam Pengelolaan Air, karena Air adalah Hak Asasi setiap Manusia!

Pelibatan Publik dan Kelompok Pengguna Air (Water User) dalam Pengelolaan Air di Indonesia, demikian judul Obrolan Kamis Sore yang digelar pada 29 September 2011, dipresentasikan oleh Rita Mustikasari dari Perkumpulan Telapak.

 “Harapan atas pelibatan publik tersebut, kita menjadi manusia berair, water culture. Untuk lebih memahami apa manusia berair itu, Rita membagi selembar kertas putih ukuran A4 kepada setiap peserta OKS. Kemudian meminta agar kertas dibagi menjadi empat kuadran. Kemudian setiap peserta diminta untuk menggambar secara cepat, terkait pertanyaan Rita. Kuadran pertama: gambarkan pemandangan khas Indonesia. Kuadran kedua: sewaktu mendengar kata sungai, apa yang terlintas di kepala? Kuadran ketiga, apa yang terlintas saat mendengar kata perempuan? Kuadran keempat, apa yang terlintas saat mendengar kata sampah?.

Tujuan dari latihan tersebut adalah untuk mendapatkan gambaran, persepsi setiap orang atas isu  menggambar di atas kertas untuk berbagi, pendapat yang ada dalam pikiran masing-masing. Tidak ada yang benar atau salah, tapi latihan ini dapat membantu menyampaikan informasi berdasarkan pemahaman setiap audience. Rita menjelaskan contoh kasus di Brazil, ada kajian bahwa tayangan opera sabun di sana yang menyelipkan info-info keluarga ternyata berhasil menekan angka kelahiran. Bagaimana dengan masalah air?  

Menurut Rita, sebetulnya banyak persoalan dalam masalah air. Ada soal kekeringan dan kebanjiran. Soal perempuan dan air, berkaitan dengan soal alat reproduksi perempuan, yang membutuhkan air bersih, dll.

Tak lama komik Konpopilan terbitan harian KOMPAS 25 September 2011 muncul di layar. Nampaknya sesuai sekali mencerminkan keadaan saat ini, saat musim kemarau tiba, kekeringan dan kesulitan air  dialami oleh petani, sementara saat musim penghujan tiba, petani kadang mengalami kebanjiran, sawah terendam. Ada beberapa faktor-faktor penyebab banjir dan kekeringan, baik sebab alami, teknik, ekologi, soal hidrologi/kesadaran sosial seperti dalam buku “Menangani Banjir, Kekeringan dan Lingkungan” yang ditulis oleh Agus Maryono, antara lain:

  1. Faktor iklim ekstrim (kemarau ekstrim dan hujan ekstrim). Misalnya kondisi ekstrim cuaca akibat El Nino-La Nina yg bergerak antara kepulauan Indonesia dan Panama-Chili.
  2. Terjadinya penurunan daya dukung DAS. Dicirikan dengan terjadinya alih fungsi dan tata-guna lahan dari daerah tangkapan hujan dengan koefisien aliran permukaan (koeffisein run-off) rendah berubah menjadi tanah terbuka dengan koeffisien run-off tinggi.
  3. Pola pembangunan sungai dengan normalisasi, pelurusan, sudetan, pembuatan tanggul sisi, pembetonan dinding tebing dan pengerasan tampang sungai. Inti dari pola ini adalah mengusahakan air banjir secepat-cepatnya dialirkan ke hilir.
  4. Kesalahan perencanaan dan implementasi pengembangan kawasan. Perencanaan wilayah dan implementasinya belum memasukkan faktor konservasi sumberdaya air menjadi faktor dominan. Perubahan tutupan Daerah Aliran Sungai menjadi daerah hunian sudah mencapai sepertiga dari keseluruhan DAS, menunjukkan kawasan itu sudah rusak. Seperti terjadi di DAS di banyak kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Medan, Samarinda dan Pontianak.
  5. Kesalahan konsep drainasi. Saat ini pemerintah menerapkan pembangunan drainase konvensional dimana air secepatnya dialirkan ke sungai dan selanjutnya ke hilir. Konsep drainase ramah lingkungan yaitu upaya mengalirkan kelebihan air di suatu kawasan dengan cara meresapkannya ke tanah, atau secara bertahap dan alamiah dialirkan ke sungai. Misalnya pembangunan embung dan kolam kecil untuk menampung air hujan di kawasan pemukiman.
  6. Faktor sosio-hidraulik. Diartikan sebagai kesadaran sosial masyarakat atas masalah yg terkait keairan dan konservasinya. Misalnya pemahaman hulu-hilir, pembuangan sampah baik rumah tangga atau industri, pembukaan tanaman tutupan lahan sebagai daerah tangkapan air, pengambilan air tanah besar-besaran, intrusi air laut, dsb.

Kenapa publik dan kelompok pengguna air sangat penting? Siapa itu pengguna air. Petani, kelompok peternak dan pawang hujan adalah contoh pengguna air secara langsung. Pada saat kekeringan penghidupan petani langsung menurun. Sedangkan masyarakat yang tinggal di perkotaan, adalah pengguna air tak langsung, adalah publik yang tidak merasakan dampak langsung dari kekeringan. Mereka bisa membeli air dan membayar air bulanan dari PDAM.

“Kita mulai membedakan kelompok-kelompok yang tergantung dengan air dan yang tidak, tapi berpengaruh terhadap kelompok pengguna air. Karena air adalah kebutuhan hidup, hak asasi setiap manusia” papar Rita, di mana pemenuhannya, baik jumlahnya yang cukup dan kualitasnya yang layak, wajib menjadi tanggung jawab Negara dengan memberikan perlindungan bagi masyarakat setempat untuk mengelola sumberdaya air yang tersedia secara berkelanjutan dalam suatu kawasan ekosistem Daerah Aliran Sungai sesuai dengan fungsi hidrologinya, maka:

  • Air adalah hak, bukan pemberian dari pemerintah.
  •  Air adalah sumberdaya publik. Pemerintah adalah pengurus dan bertanggungjawab untuk mengelola (penggunaan/pemanfaatan) sumberdaya air untuk keuntungan seluruh masyarakat, untuk saat ini dan dimasa depan.
  •  Sumberdaya air harus dikelola dengan cara terpadu: ramah lingkungan (air tanah dan air permukaan; air, hutan dan daratan/tanah); semua pengguna; semua lembaga pengelolaan; semua aspek dari pengelolaan (perencanaan, pelaksanaan, pengawasan/pemantauan dan evaluasi).
  • Pengelolaan di tingkat paling bawah yang memungkinkan dengan keterlibatan masyarakat lokal secara sungguh-sungguh dalam seluruh aspek pengelolaan.

 “Tawaran Air Telapak, adalah suatu konsep negociated approach, kelompok pengguna air lebih dari itu, bisa menegosiasikan dan mengintegrasi kebutuhan antara hulu dan hilir. Penekanannya adalah adanya kebutuhan suatu desain baru pembentukan kebijakan dimana fokusnya memasukkan kelompok-kelompok kunci, misalnya aktor lokal, sebagai pelaku sesungguhnya dan terlibat di setiap tahapan pembentukan kebijakan,”  Rita memaparkan konsep Telapak, dimana Ia bekerja. 

“Telapak mencoba mewujudkan cita-cita besar tersebut, menginginkan terbentuknya kelompok pengguna air di setiap daerah. Antara lain Kelompok Peduli Ciliwung (KPC), mencoba membangun/menumbuhkan paradigma bahwa kepedulian pengelolaan sungai bisa tumbuh bukan atas suatu kepentingan tertentu. Di tempat lain, misalnya di Kampar, Riau, juga ada River Defender. Dalam suatu aksi bersih sungai yang mereka lakukan, mereka menemukan selang infus lengkap dengan jarumnya di sungai. Semakin menguatkan bahwa bagi banyak pihak sungai masih merupakan tempat pembuangan sampah. Bagi river defender lokal itu sendiri, temuan ini bisa menjadi bahan mereka untuk mengubah/memperbaiki kebijakan yang telah ada sebelumnya,” secara terinci Rita menjelaskan kegiatan beberapa river defender. [irma dana]

 Obrolan Kamis sore, 29 September 2011 

Nara sumber: Rita ‘Itok’ Mustikasari –  Perkumpulan Telapak   ritamustikasari@telapak.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s