Musdah Mulia, Bicara Soal Kekerasan Terhadap Pemeluk Agama dan Keadilan

Perempuan berkerudung putih gading, berbaju coklat corak, bersepatu kuning emas hadir di Kelasa Narasi PANTAU. Ya, Perempuan itu Musdah Mulia. Musdah Mulia dari Indonesian Conference on Peace and Religions bicara di kelas penulisan narasi Pantau. Dia terlambat satu jam namun memukau kelas dengan pemahaman soal Islam.

 “Tulisan itu lebih tajam daripada pedang, yang penting, dalam menulis bukan sekedar menulis, tapi ada misi. Saya menulis misi kemanusiaan, memberikan pencerahan kepada audience,” Musdah Mulia setelah memperkenalkan diri, menyinggung alasannya menulis.

 Ia tak pernah belajar menulis, tapi sudah melahirkan buku ke- 30, berjudul “Muslimah Sejati.” Musdah berangkat dari keluarga Muslim Bugis tradisional. Besar di pesantren, kuliah sastra Arab.

 “Jadi sejak kecil saya itu belajar agama, di pesantren saya juga membaca kitab-kitab kuning. Saya orang NU. Kakek saya hanya mengijinkan mengambil sastra Arab, ketika hendak kuliah. It’s a bless. Setelah lulus S1, saya mendapat penghargaan penulisan di bidang ilmiah,” suara halusnya bercerita tentang masa kecilnya di pesantren, di Bugis.

 Musdah juga pernah bekerja untuk menulis ensiklopedia Islam, selama tiga tahun. Dimana Ia harus berhati-hati dan ketat dengan kata-kata dan tidak boleh berbunga-bunga.

 Tapi 10 tahun terakhir, tulisan Musdah banyak membuat orang marah, dan banyak pula yang ingin menghancurkannya. Apakah yang ditulis Musdah membuat orang lain tidak nyaman. Gerah? Ya, karena Musdah mulai menyadari pentingnya pluralisme.

 “ Saat di pesantren, ruang kelas antara laki-laki dan perempuan itu di pisah, saya suka curi-curi, mengintip ustad, dia tidak pernah menatap saya. Kok bisa ya? Tidak memperhatikan perempuan saat ngajar, tapi bisa punya istri empat?” geer, disambut tawa dari peserta kursus narasi.

 Sejak memutuskan belajar sastra Arab, berkah bagi Musdah, karena dengan belajar bahasa Arab, dia bisa membaca Al’Quran dan mengerti makna Al’Quran dengan baik. Tak heran Musdah Mulia sanggup melawan pendapat ulama-ulama.

 Sejak hijrah ke Jakarta, 20 tahun lalu dan melanjutkan studi S2. Dia diperkenalkan pada pemikiran-pemikiran agama-agama rasional. Di pesantren tradisional dulu Musdah tidak pernah mendapat kesempatan untuk bertanya. Seberapa besar umat Islam di Indonesia yang bisa akses ke perguruan tinggi dan rasionalitas? Tanya Musdah.

 “Kalau bertanya pada saya bukan soal halal atau haram, kita lihat dulu, agama itu simple bukan doktrin,” menyinggung sering terjadinya kekerasan terhadap umat beragama.

 Menurut Musdah Mulia, negara Indonesia tidak menjadikan agama sebagai landasan berbangsa dan bernegara, kenapa? Karena perdebatan panjang saat PPKI dulu. Dan ide negara menjadikan agama sebagai landasan tidak bisa, karena di tiap pulau, tidak pure penduduknya hanya memeluk satu agama saja, tapi beragam.

 Musdah juga menyinggung bahwa ide untuk mendirikan negara sekuler di Indonesia pun tidak mungkin, karena ada anggapan Indonesia negara religius, apa-apa selalu dikaitkan dengan agama.

 Berkaitan dengan sila kelima Pancasila, Keadilan Sosial, Musdah Mulia berpendapat “tidak ada keadilan, kalau masih ada kemiskinan, tidak ada keadilan sosial tanpa kesetaraan gender, tidak mungkin terbangun, juga kesempatan yang sama dalam pendidikan”.

 “Ketika ketemua Ba’asyir, saya tanya soal negara Islam itu seperti apa? Seperti Saudi Arabia? Ba’asyir jawan, bukan, karena negara kerajaan, dalam islam tidak ada kerajaan. Seperti Pakistan? B’aasyir jawab, bukan, karena Pakistan Militerisme, atau seperti Malaysia? Saya tahu, dia benci banget sama Malaysia, karena dicari-cari kaya tikus kan… Bukan juga jawabnnya. Jawaban Ba’asyir, bentuknya masih dipikirkan. Lah! Ini masih dipikirkan, dibawah sudah berdarah-darah, gimana?” cerita Musdah saat bertemu Ba’asyir.

 “Menurut Freedom House, ada 47 negara Islam, hanya ada 11 negara Islam yang demokrasi. Dan hanya satu negara Islam yang demokrasi hukum, negara Mali, coba cari dimana itu negaranya,” canda Musdah.

 Apa itu agama?

 Musdah Mulia berpendapat, agama seperangkat ajaran, suci, symbol, bisa memberi inspiriasi pada manusia untuk berbuat kebaikan. Agama, banyak interpretasi. Semakin banyak interpretasi, bagus, semakin banyak pandangan. Silahkan pilih mana yang cocok buat Anda, asal tidak menyakiti orang lain.

 “Agama itu selalu selaras dengan akal sehat,” Musdah mengutip terjemahan dari salah satu hadist Nabi.

 “Buat saya, semua orang itu berhak bicara tentang agama, dan kalau anda bicara tentang seni dalam Islam, luar biasa. Jadi, islam itu tidak gersang, seperti di gurun, seperti Islam yang tumbuh di Arab, seperti orang Persia ungkapkan. Kalau ingin belajar agama yang seni, ya Persia,” tambah Musdah sambil berdiri, dan sesekali menggerakan tangannya.

 “Agama dapat mendorong manusia berbuat positif dan konstruktif, agama juga dapat menjadi sumber makna”.

 Musdah Mulia juga mengungkapkan soal kekerasan. Menurut Musdah, munculnya kekerasan, berbasis agama muncul karena tidak ada keadilan yang meluas, muncul karena kekecewaan. Agama harus mampu merespon persoalan-persoalan manusia. Persoalan yang paling mendasar.

 “ Agama apa pun pada ujungnya interpretasi, agama bukan soal ayat, bukan soal kitab suci, saya beriman kepada pencipta kitab suci,” ungkap Musdah Mulia, dia akhir pertemuan.

 Sekilas Catatan di kelas  PANTAU, 20 Juli 2011.

3 thoughts on “Musdah Mulia, Bicara Soal Kekerasan Terhadap Pemeluk Agama dan Keadilan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s