Saat Imlek di Penang

Aku dan Hadi Dana, tiba di Penang, setelah menempuh perjalan kurang lebih 1,5 jam dari Soekarno – Hatta. Niatnya mau lihat perayaan Imlek di  Penang.

Begitu tiba di airport Penang, bingung mau naik apa untuk sampe ke Hotel. Walhasil, kami mampir ke tempat memesan taxi. Sepakat, dari Airport ke Hotel tempat kami menginap, ongkso taxinya RM 44

Tiba di hotel Grand Paradise di Jl. Macalister 101, Penang,  masih jam 9 pagi. Sarapan di pesawat sudah, tapi perut masih lapar. Kami pun menuju Nasi Kandar Pelita.  Tak jauh dari hotel, tepatnya masih di Jl. Macalister.  Makan nasi kandar, pake cumi dan udang, plus minum, berdua habis RM 36.

Selesai makan, kami pun menyusuri jalan, sesuai dengan peta, mencari jalan Lebuh Chulia.  Sepanjang jalan menuju Lebuh Chulia, banyak penjual manisan buah dan souvenir.  Kami berhenti sebentar di Medan Lebuh Campbell.  Minum teh tarik di kedai Toh Soon Café,  dua gelas teh tarik dan tiga roti bakar, harganya RM 7,4. Kedainya cukup ramai dikunjungi di sore hari  bersimbah sinar matahari. Hingga menjelang malam, kami makan di warung pinggir jalan, di sepanjang Jl. Macalister. Di sana ada penjual bubur ayam, laksa penang,  seafood, minuman serba ada. Rame sekali warung-warung makannya. Dan habis RM 12 berdua.

Keesokan hari, 2 Feb 2011

Kami kembali menuju ke Lebuh Chulia, mau melihat persiapan imlek di sana.  Sepanjang jalan, banyak kuil keluarga. Mampir dan melihat persiapan imlek. Tibalah di  kuil Kong Hock Keong. Suasananya sudah mulai ramai. Orang sembahyang, membakar dupa.Sesak napas, hidung mulai tersumbat mencium aroma dupa di penjuru kuil. Serta kepanasan, kami pun keluar, minum the longan. Tak mahal, 2 gelas longan cuma RM 3,6 saja.

Kembali menyusuri jalan-jalan di Penang. Tidak terlalu ramai oleh kendaraan umum.  Fasilitas umum untu transportasi ya cuma bis. Juga motor serta kendaraan pribadi yang lalu lalang.  Sayang, kalau sampe Lebuh Chulia tak mampir ke rumah makan Kassim Mustafa, di Lebuh Chulia 12.  Pas lapar, pas waktu menujukkan jam 12 siang.  Menu yang spesial katanya  Roti Canai dengan kari sapi.  Pesanan datang. Daging sapinya betul-betul empuk! 

Selesai  makan, kami berjalan menuju Komtar alias  terminal bis.  Tujuangnnya ke Batu Feringghi.  Dengan bis 101, dua orang bayar RM 5,4 dari Jl. Burma ke Batu Feringghi.

Gila! Dalam bis full AC, tidak terlalu penuh, dan ada wifi. Jadi bisa berselancar dengan iPad. Kira-kira 30 menit, sampai di pantai Batu Feringghi. Panas! Masih jam dua siang. Banyak juga yang mandi di pantai. Kami memilih duduk, makan cemilan di Beach Corner Seafood resto.  Lumayan  juga harganya, makan satu porsi menu ikan, cumi, udang panggang habis RM 72.  Tak berlama-lama di Batu Feringghi, segera pulang. Menuju hotel, menghalau panas terik, lumayan dalam bis AC.

 Esok hari, tanggal 3 Feb

Kembali ke kuil Kong Hock Keong di Lebuh Chulia. Mampir sebentar. Suasanya betul-betul rame. Orang minta sedekah, berbagi uang. Ada yang sembahyang, pengemis berjejer di depan jalan. Juga para bikhsu dari Thailand, meminta sedekah.

Sudah tak nyaman. Sebentar saja, cuma ambil beberapa foto. Setelah itu, kami memutuskan untuk mengunjungi Kek Lok Si Temple.  Dari Komtar, menggunakan bis alias Jetty  103. Masing-masing bayar  RM 2.8. naik Jetty ini harus uang pas, kalau tidak, tidak ada kembalian.

Melewati jalan berkelok-kelok, hampir satu jam lamanya perjalanan. Bis pun penuh sesak. Karena libuk Imlek, semua piknik ke sana. Tepat di depanku, terdengar logat Jawa, ngobrol,bercerita sambil tertawa-tawa. Rupanya TKW dari Indonesia.

Letak kuil Kek Lok Si memang di atas bukit. Setelah turun dari bis, melewati orang berjualan. menaiki tangga, bahkan dalam perjalan ke kuil, ada pertokoan khusus menjual souvenir.  Setibanya di Kek Lok Si, sudah penuh pengunjung!

Rupanya, liburan Imlek, semua pergi ke Kek Lok Si,  kuil pun tak lagi syahdu untuk berdo’a tapi ramai seperti pasar saja.   Lampion merah dan kuning terpasang dilangit-langit kuil. Bau dupa kembali tercium, orang hilir mudik berdo’a.

Kepala pusing, kepanasan, dan mencium bau dupa, juga lihat manusia begitu banyak, berseliweran di komplek Kek Lok Si. Kami pun turun, pulang ke Macalister. 

Selesai mandi, menghilangkan debu dan bau keringat, kami pun iseng jalan-jalan ke belakang hotel. Melewati rumah-rumah  dengan arsitek tempo dulu, jaman kolonial inggris.  Kusen pintu, jendela serta lantainya masih asli.

Dari situ, kami mampir ke kuil india. Kebetulan waktunya sembayang.  Menarik, melihat pendetanya sedang memberkati jemaah. Dan jemaatnya ada yang membawa yoghurt untuk sembahyang

Menebus rasa lelah,  mampir makan malam di Town View Seafood, Jalan Macalister. Pesan 1 porsi udang, 1 porsi calamary dan orange juice,  total jadi RM 64. Bayar makan kedua termahal, setelah di Batu Feringghi.

 Hari Keempat, 4 Feb 2011

Hari terakhir,  haluan pun berubah.  Harus cari lokasi yang menarik. Dan jatuhlah pada Penang Buterfly Farm, di Teluk Bahang.  Setiap orang dewasa, bayar RM 50. Taman kupu-kupunya tidak terlalu besar, tapi cukup menyenangkan lihat koleksinya. Kupu-kupu bermandi sinar matahari, terbang berseliweran. Juga ada yang hinggap di di atas bunga.

Sebagai penggemar kupu-kupu, panik plus seneng banget! Puas mengeliling taman, ternyata kami masuk ke toko souvenir, yang semuanya bertema kupu-kupu.  Betul-betul dengan desain kualitas yang bagus.

Dari taman kupu-kupu, berdua sepakat untuk mengunjungi  Dharmukarana Burmese Temple  dan Sleeping Budha.  Luar biasa! Di tengah panas terik, banyak pengunjung dan pedagang.

Sayangnya, setelah dari kuil burma, kendaraan selalu penuh. Kami pun sepakat untuk jalan kaki menuju Jl. Macalister. Dikira deket, ternyata jauh juga. Sampe gempor!

Dan kembali makan, menuju Komtar, sambil mencari souvenir. Dan mampirlah di warung nasi Briyani di belakang Komtar. Habis RM 13, 5 berdua.  Perlu dicatat, kalau niatnya belanjan pada libur Imlek, jangan ke Penang. Semua toko tutup sampe 3 hari, saat libur Imlek.

Hari Terakhir, 5 Feb 2011,

Usai sudah berlibur, waktunya pulang. Dan tak lagi bingung, harus naik kendaraan apa, dari Grand Paradise Hotel menuju bandara. Ada Jetty, bus yang siap mengantar dari Komtar ke bandara. Tentunya lebih murah, daripada naik taxi. berdua cuma habis, sekitar RM 7 saja.

Pengalaman yang baik, tapi semua makanan yang dicicipi, hanya roti canai di Lebuh Chulia 12 yang paling enak. Selebihnya, rasa makan biasa saja. Tetep makanan Indonesia yang enak dan kaya rasa. Satu hal lagi, di Penang, bisnya bersih, dan bisa sampe atas gunung, bis bersih, ber-AC dan ada wifi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s