Green Earth Desa Pasir Buncir – Caringin, Mampu Mengolah Sampah Plastik

Sungguh panjang perjalanan Nina Nuraniyah sebagai salah satu Climate Generation dari  Indonesia – dalam mengikuti Leadership Workshop “Developing Climate Solution – Entrepreneurial Approaches To Addressing Climate Challenges And Opportunities 2010 yang diadakan oleh The British Council di Hanoi, Vietnam, seperti yang diceritakannya pada Obrolan Kamis Sore Mei 2011.

Berbagai tahapan harus dilaluinya, mulai dari pelatihan Program Management Leadership for Climate Change di tingkat nasional, kemudian perjalanan menjadi Social Entrepreneur & Menoring di Jakarta, menjadi fasilitator dalam program Climate Smart Leader sampai akhirnya ke Hanoi. Materi workshop di Hanoi, meliputi Leadership, Project Management, Community and stakeholder Engagement, Partnership and Networks, Social entrepreneurship, dan Introduction to social media. Intinya, dalam workshop ini peserta dilatih untuk mengemukakan ide-idenya dalam mencari jalan keluar dari masalah iklim, mewujudkannya dalam bentuk kegiatan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, serta “memasarkan” ide-ide ini agar mendapat dukungan dari masyarakat luas. Selain Indonesia, workshop ini sendiri diikuti oleh wakil dari Jepang, Thailand, Korea Selatan, Cina, Vietnam, dan Australia.

Tidak hanya kegiatan di dalam kelas saja,  saat workshop peserta juga diajak mengunjungi restoran KOTO,  yang terkenal di Hanoi.  Restoran KOTO ini juga mempunyai kegiatan sosial. Sebagian hasil dari penjualan disisihkan untuk membantu anak-anak yang tidak mampu, agar bisa melanjutkan sekolah ketrampilan khususnya bidang kuliner. Para lulusannya disalurkan untuk bisa bekerja di restoran- restoran yang ada di Hanoi atau di luar Hanoi.

Nina Nuraniyah,  mengelola sebuah komunitas bernama Green Earth, di Desa Pasir Buncir, Kecamatan Caringin, Bogor.  Fokus kegiatan Green Earth adalah pengelolaan sampah plastik dan sanitasi.  Kegiatan di Green Earth –lah yang membawa Nina lolos  menjadi salah satu Climate Generation –  British Council.

“Awalnya saya prihatin dengan kondisi lingkungan di sekitar rumah, banyak sampah plastik, saya ingin masalah sampah ini mendapat perhatian dari berbagai pihak. Ada keinginan untuk mengelola sampah ini. Berbekal ide ini saya mendatangi SMA Negeri 1 Bogor, dan memresentasikan kegiatan Green Earth , mereka tertarik dan berlanjut. Saat itu tidak ada dana  sepeser pun. Tapi kegiatan tetap berjalan,” Nina menjelaskan awal mula Green Earth berdiri dan melakukan terobosan di dalam mengelola sampah plastik dan produk yang dihasilkannya.

Sejak itu, progam Green Earth berkembang. Mulai dari pendampingan kepada kelompok pengajian ibu-ibu, serta remaja putri di Desa Pasir Buncir, dan melakukan pertemuan rutin. Pelatihan membuat produk dari sampah plastik satu minggu sekali.  Untuk memulai dengan kelompok ibu-ibu, Green Earth masuk melalui isu ekonomi,  yaitu bagaimana dengan mengolah sampah ini dapat meningkatkan pendapatan dalam rumah tangga, dan berhasil.

Pertama kali, mengadakan pertemuan dengan Ibu-ibu di Desa Pasir Buncir dijelaskan mengenai sampah dan kesehatan, disertai permainan.  Mereka juga dilatih membuat dompet kecil. Selesai pelatihan, sebanyak 30 ibu-ibu memberikan respon positif. Hingga sekarang ada 12 orang di sana yang aktif melakukan pertemuan.

Akhirnya Nina mengumpulkan kembali ibu-ibu yang antusias untuk melanjutkan pelatihan keterampilan dari sampah plastik tadi. Mereka sepakat meluangkan waktu setiap hari selama satu jam,  setelah selesai mengaji. Mereka datang sendiri bahkan sudah bisa ditinggal oleh Nina untuk membuat kerajinan, kegiatan ini terus berjalan sejak September 2010 hingga sekarang.

“Selain pintar membuat kerajinan dari sampah plastik tersebut, ibu-ibu ini juga saya latih untuk bisa mempresentasikan kegiatannya, sekarang mereka sudah melakukan pendampingan untuk sekolah dan pesantren. Selain meningkatkan kapasitas kelompok ibu tersebut, kegiatan yang sekarang berjalan yaitu, pengembangan produk, pemasaran produk, membuat kompos dan berjejaring, memperluas pertemanan untuk menjual produk yang dihasilkan dari sampah plastik,” Nina lengkap bercerita.

Komunitas Green Earth juga mengembangkan ide Bank Sampah, yaitu mengumpulkan sampah plastik. Setiap jenis sampah plastik memiliki poin sendiri, dan pengumpulan poin sampai jumlah tertentu dapat ditukar dengan minyak goreng atau gula pasir, walau pun jumlah “reward” ini tidak besar, tapi ini cukup sebagai pendorong masyarakat untuk “membersihkan” sampah.

Mengenai pengumpulan sampah plastik, dimanakah tandonnya? Apakah di rumah warga Desa Pasir Buncir? Modalnya dari mana? Dan kemana produk yang sudah dibuat dipasarkan? Pertanyaan itu dilontarkan oleh Age, dari Wildlife Conservation Society, Bogor.

Nina menjawab pertanyaan Age dengan gamblang, menarik dan menginspirasi.  Di Desa Pasir Buncir, yang merupakan hulu Sungai Cisadane, setiap hari banyak pengajian ibu-ibu. Mulai dari jam 7 pagi hingga jam 5 sore.  Pengajian, tempat yang cocok untuk mensosialisasikan kegiatan dari Green Earth.

“Ada ibu-ibu yang bertugas mengumumkan pengumpulan sampah, dan dikumpulkan di rumah saya. Terus ada buku tabungan, jika sudah berhasil mengumpulkan 10 kemasan plastik besar (bekas minyak goreng, pembersih lantai, dll.) mendapat 1 point, dan bila mencapai 50 poin dapat ditukar dengan gula  ¼ kg. Kenapa hanya ¼ kg saja… jangan sampai masyarakat hanya mengejar poin saja, itu sebagai pancingan untuk edukasi. Jadi  motivasinya bukan gula, tapi kesadaran. Butuh proses. Dari hasil penjualan produk plastik itu ada pembagian presentase”  papar Nina menjawab pertanyaan Age.

Untuk modal reward poin (kadang) didapat Nina dari honor presentasi. Sedangkan hasil penjualan produk limbah sampah plastik, 60% untuk ibu-ibu yang mengolah sampah, 10% untuk reward sembako, 10% untuk membeli peralatan, 10% untuk kas, dan 10% bonus bagi ibu-ibu yang rajin.

Sekarang, Nina tak harus pusing untuk membeli gula pasir, uang dari penjualan produk kerajinan sampah plastik sudah bisa dibelanjakan.  Kerajinan sampah plastiknya mulai dijual melalu social media, seperti Facebook (dikelola oleh anak-anak muda), toko dan dibawa oleh ibu-ibu ke pengajian.

“Ibu-ibu juga harus punya rasa memilki, jadi harus membantu jualan, biasanya produk dibawa ke tiap pengajian, dari hasil penjualan ibu-ibu bisa mendapat uang sebesar Rp. 35-40 ribu/orang/bulan,” tambah Nina sambil tersenyum .

Untuk pemasaran produk kerajinan dari sampah plastik, Nina sedang menjajaki untuk bisa menjualnya ke Jepang. Salah seorang peserta workshop Climate Generation dari Jepang bersedia membantu memasarkannya, namun dengan terjadinya bencana di Jepang baru-baru ini, rencana tersebut terpaksa ditangguhkan.

Selain sampah plastik, Nina juga mengajak bapak-bapak di Desa Pasir Buncir untuk mengelola sampah organik menjadi kompos, dengan bahan dasar sampah rumah tangga dan sisa-sisa jerami. “Sekarang masih mencoba-coba komposisi sampah, metodanya dan EM4 nya, masih belajar dari banyak pihak,” lanjut Nina.

Sayangnya, usaha yang dilakukan Nina Nuraniyah dan Green Earth belum mendapat perhatian dari  aparat pemerintahan setempat. Lurah Desa Pasir Buncir juga Camat Caringin belum pernah “menengok” kegiatan ini. Padahal  Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor sudah memberi perhatian dan apresiasi, yaitu ibu-ibu yang tidak lulus SD akan mendapatkan pendidikan tambahan.

Walaupun kendala pengelolaan seperti memberdayakan volunteer dan masalah administrasi masih membayangi Nina tapi “Saya harus bisa memanfaatkan sumber daya yang ada, bukan uang.” Motto yang selalu terngiang dalam pikiran Nina Nuraniyah untuk melakukan suatu pekerjaan. [irma susilawati dana & jeni shannaz]

Obrolan Kamis Sore, 19 Mei 2011

Narasumber: Nina Nuraniyah (Green Earth)

                      Ninu_abi@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s