Liputan Investigasi Harus Wawancara, Sumber Sekunder Sebagai Background Saja!

Andreas Harsono, lelaki berkacamata, berkulit  kuning, dengan kemeja batik biru, hadir mengisi Obrolan Kamis  Sore di bulan April 2011.  Ia salah satu penulis yang saya kagumi.  Saat ini sedang menyelesaikan traveloque A Nation in Name: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism.  Saat ini Andreas bekerja untuk 21 organisasi, di antaranya Human Right Watch dan Yayasan PANTAU serta penasehat Aliansi Masyarakat Papua.

“Saya seorang penulis, wartawan, dan sudah 20 tahun menjadi freelance,” Andreas membuka Obrolan Kamis Sore saat memperkenalkan diri. Kehadiran Andreas Harsono, memberikan warna lain soal isu yang dibahas dalam OKS, yang biasanya mengangkat soal lingkungan. Ya, di bulan April, OKS membicarakan tentang Investigative Reporting atau Laporan Investigasi yang akan berguna bagi para penggiat lingkungan dalam menyampaikan hasil kegiatannya di lapangan kepada publik.

Menurut Andreas, tujuan Investigative Reporting – memantau kekuasaan, mencari kesalahan orang dalam kasus kejahatan publik.  Jurnalisme Investigatif – bukan istilah yang akurat, karena bisa menciptakan kebingungan, seakan-akan mengatakan berbeda dengan “jurnalisme.”

Kesalahan menurut siapa? Hukum lokal, hukum nasional atau konvensi internasional a.l. konvensi yang sudah diratifikasi. Contoh: kasus korupsi, pelanggaran hak asasi manusia.

Ada sepuluh elemen jurnalisme,

  1. Kewajiban utama jurnalisme adalah kebenaran
  2. Loyalitas utama jurnalisme kepada warga
  3. Esensi jurnalisme: verifikasi
  4. Praktisi jurnalisme harus menjaga independensi terhadap nara sumber
  5. Jurnalisme harus memantau kekuasaan
  6. Jurnalisme harus menyediakan forum publik
  7. Jurnalisme: menarik dan relevan
  8. Jurnalisme harus membuat berita komprehensif dan proporsional
  9. Praktisi jurnalisme harus mengikuti hati nurani
  10. Warga punya tanggungjawab terhadap jurnalisme

“Kegiatan jurnalisme bisa dilakukan oleh siapa saja, walau cuma 140 karakter, seperti twitter, itu juga jurnalisme. Jurnalisme harus open mind, pertanyaan terbuka, mengandung unsur 5 W+ 1 H, serta tidak menjuruskan narasumber dalam opini penanya. Jika hanya mencantumkan inisial penulis saja, itu juga bukan bentuk transparansi jurnalisme,” Andreas menyinggung tentang sepuluh elemen jurnalisme.

Jurnalisme juga  harus memiliki  platform verifikasi dengan bersikap transparan dan jujur tentang metode dan motivasi Anda dalam melakukan liputan.  Bersandar terutama pada reportase sendiri. Sadar prinsip order of sources di mana sumber tangan pertama lebih bisa diandalkan dari pada sumber kedua dan berikutnya.  Dan bersikaplah rendah hati. Verifikasi memerlukan open mindedness.

Marina, dari DAAI TV menanyakan apakah praktisi jurnalisme harus mengikuti hati nurani?

“Tidak ada proses demokrasi dalam media massa saat ini. Wartawan sekarang kerjanya seperti tentara, menurut saja apa keputusan atasan. Di dalam jurnalisme harus ada tempat untuk hati nurani. Salah satu penyakit jurnalisme Indonesia adalah bias. Ada bias agama, gender, dll.,” Andreas menjawab pertanyaan Marina.

Andreas Harsono juga menulis liputan investigasi, terutama tentang tahanan politik di Papua Barat. Seperti Filep Karma yang berbicara tentang nasionalisme Papua di lapangan Trikora pada 1 Desember tahun 2004. Filep Karma dihukum 15 tahun dan disiksa. Filep Karma menolak remisi, karena bila menerima remisi secara implisit dia mengakui bersalah. Dan berbagai kasus pelanggaran HAM di Papua lainnya.

“Saya tidak hanya menulis soal Papua. Pernah menulis dua tahun untuk Aceh, juga tentang Kalimantan dan Madura,” menegaskan pekerjaannya.

“Apakah saat melakukan liputan investigasi pernah mengalami ancaman keselamatan jiwa?” pertanyaan dari peserta OKS.

“Februari 2011 lalu, saat menerima video liputan Ahmadiyah di Cikeusik, kemudian mengunggah videonya di youtube, saya banyak menerima ancaman via SMS, tetapi keluarga sudah siap akan resiko pekerjaan saya,” Andreas Harsono menjawab dengan tenang.

Selain menjelaskan tentang liputan invetigasi, Andreas Harsono juga menyinggung  tentang aggregator informasi.  Saat ini banyak sekali sampah informasi alias tsunami informasi. Bagaimana cara mengetahui informasi yang bukan sampah? Caranya harus mencari smart aggregator. Suatu sumber info yang berfungsi memberikan informasi terkini yang berguna dan bisa dipertanggungjawabkan untuk audience.

Aggregator ini penting untuk menolong orang memilah informasi dalam menghadapi tsunami informasi. Sekarang ini siapa yang bisa menyensor informasi lewat internet, bahkan Depkominfo pun tidak bisa, apa mereka bisa mempekerjakan dua juta orang yang bertugas menyensor semua situs yang “sampah” seperti yang dilakukan oleh China. Saat ini yang berkapasitas menyensor internet di dunia itu, satu, US, tapi mereka tidak melakukannya, kecuali untuk data intelejen; dua, China, dengan mempekerjakan dua juta orang itu; tiga, Uni Eropa,” cerita Andreas Harsono.

“Cara mencari aggregator yang smart, adalah dengan mengikuti wartawannya yang kapabel, bukan medianya, karena kini media sudah tercemar oleh berbagai kepentingan. Wartawan pun jangan hanya memikirkan reputasi media tempatnya bekerja.  Jadi stringer atau freelance bisa tetap hidup, karena yang bisa dibangun adalah reputasi wartawan. Saya justru anti dengan wartawan yang menyembunyikan identitas. Ingat! Liputan investigasi harus melalui wawancara, sumber info sekunder itu sebagai background saja!” ucap Andreas, menutup Obrolan Kamis Sore. [irma susilawati dana].

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s