Eceng Gondok dan Sampah Ancaman di Muara Angke

“Cwitter”  sekilas kalau diucapkan terdengar seperti suara burung. Komunitas Wiken Tanpa Ke Mall (WTM),mengajak berjalan-jalan ke Suaka Margasatwa Muara Angke yang terletak di utara kota Jakarta. Suaka Margasatwa Muara Angke kaya dengan keanekaragaman hayati, terutama burung. Di sana ada 97 jenis burung yang hidup dengan liar dan bebas.

Tak heran, “Cwitter”   dijadikan judul kegiatan WTM 06 di bulan April, pesertanya diajak untuk mengamati burung di SM. Muara Angke. Sekitar 35 orang peserta WTM berkumpul di SM. Muara Angke, dibagi ke dalam tiga kelompok. Masing-masing kelompok didampingi oleh fasilitator dari Jakarta Green Monster (JGM).

Jakarta Green Monster, membagi tiga isu penting  dalam membagi kelompok. Yaitu isu burung,hutan mangrove dan sampah yang ada di SM. Muara Angke. Saat mengamati burung, kami menyusuri board walk sepanjang 800 meter. Papan-papan yang kami injak, sebagian sudah patah, dan rapuh. Sehingga harus hati-hati saat melewati jalur tersebut.

Kami menyusuri papan jalan dengan hati-hati, supaya tidak terperosok. Sesekali menengadah ke langit, yang terlihat ”burung besi” alias pesawat terbang. Tiba-tiba, ada tiga ekor burung, berwarna hitam terbang melayang.

“Burung apa itu? Coba perhatikan warnanya, nanti kita lihat gambarnya,” celetukku ke peserta.

“Eh iya, burung elang ya?” salah satu peserta menjawab.

Semua peserta saling menebak, Rizky, fasilitator yang mendampingi pun ikut sibuk memasang monokuler yang ditentangnya. Untuk mempermudah pengamatan.

Setelah bergantian mengamati burung yang terbang, dan memfokuskan jarak pandang monokuler ke salah satu pohon yang dijadikan tempat bertengger burung tadi.  Juga menyamakan ciri-ciri warna, dan paruh burung, dipastikan burung yang terbang sejenis Pecuk Ular.

Sambil terus mengamati bergantian, tampak hamparan eceng gondok yang menutupi kolam di SM. Muara Angke. Sepanjang mata, yang terlihat adalah eceng gondok, tak ada burung Mandar besar yang biasa terlihat di antara semak-semak. Hamparan eceng gondok seperti terbakar, warna daun sudah kecoklatan.

Eceng gondok yang menjalar di sepanjang kolam SM. Muara Angke sudah mengganggu habitat burung.  Karena menutupi kolam, burung-burung jadi susah  mencari makan, mengambil ikan dari kolam. Arifin, petugas BKSDA DKI Jakarta, sejak 2007  bertugas di SM. Muara Angke sempat bercerita, saat ini ada enam orang kuli yang sedang membersihkan eceng gondok di kolam.

“Mereka mulai dari jam 8 pagi, sampe jam 5 sore. Membuka saluran air laut, supaya masuk ke kolam. Kalau air laut sudah masuk, akar-akarnya eceng gondok jadi mati. Kalau akar eceng gondok kena air tawar lagi, eceng gondoknya cepet tumbuh dan seger lagi,”  cerita Arifin, di depan kolam yang dipenuhi eceng gondok.

Di tempat kami ngobrol, Nampak kuli sedang menarik-narik akar eceng gondok ke pinggir kolam. Sambil berenang, si kuli terus menarik akar eceng gondok yang tampak berat sekali. Kuli pembersih kolam menerima upah Rp. 60.000/hari, mereka harus membuka saluran air laut supaya bisa masuk kolam. Kedalaman kolam hanya dua meter, akibat dipenuhi lumpur, jadi susah untuk diinjak.

Arifin juga menyinggung kebutuhan untuk mengganti papan-papan yang sudah rusak, sekitar 300 lembar papan yang harus diganti. Tahun 2010 lalu tidak ada biaya perawatan. Kayu yang digunakan untuk papan injakan yaitu jenis kayu Bengkirai.

Selepas mengamati burung, kami bergantian dengan kelompok lain untuk mengenal hutan mangrove. Pendampingnya Ilham. Sambil berjalan kembali ke pintu masuk SM. Muara Angke, Ilham menceritakan fungsi juga ancaman yang dihadapi hutan mangrove. Ancaman hutan mangrove antara lain, air laut sudah tersumbat, menyebabkan akar-akar mangrove susah tumbuh, dan muncul ke permukaan. Selain eceng gondok,  banyak sampah plastik nyangkut di  akar pohon-pohon bakau.

Ya, ancaman yang dihadapi kawasan SM. Muara Angke adalah  eceng gondok yang tumbuh subur, juga sampah plastik. Menurut Icay pendamping dari JGM yang paham tentang sampah, tiap hari 27 ribu meter kubik  sampah yang ada di kawasan Muara Angke.

“Itu setara dengan satu candi Borobudur dalam dua hari. Dari 27 ribu itu, 75 % adalah sampah organik, yang bisa diolah kembali,” jelas Ical.

Ternyata, selain eceng gondok dan sampah yang menjadi ancaman di kawasan SM. Muara Angke, adalah Monyet ekor panjang. Gerombolan monyet ini sudah mengganggu penduduk di sekitar SM. Muara Angke. Bahkan  sudah masuk ke gereja yang berada dekat Muara Angke. Gerombolan besar, sebanyak 40 ekor yang sering mengambil makanan di gereja.

Gangguna monyet ini sedang di kaji oleh Internatinal Animal Rescue (IAR), apakah betul keberadaan Monyet ekor panjang di Suaka Margasatwa Muara Angke sudah jadi hama?  Ini yang harus dijawab oleh IAR, melalui kuesioner yang dibagikan kepada peserta WTM oleh Ayut Enggeliah Entoh dari IAR.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s