Penjual Pisang yang Buta

Begitu menutup pintu gerbang rumah penjahit langgananku, di sebelah kananku, seorang penjual pisang dengan keranjang yang masih penuh. Dua anak laki-laki beridiri disamping kiri dan kanan si penjual pisang. Kebetulan pisang di rumah sudah habis, Aku  dan mba jeni bergegas, menghampiri penjual pisang.

“Mang pisang apa aja, berapa mang?”

” Ini neng, ada pisang raja sereh sama ambon, mau berapa sisir? “

“Satu sikat aja, baraha mang? jangan mahal-mahal ya”

“Henteu neng, isin atuh ka neng, raja serah 25 ribu aja,”

“Teu tiasa kirang mang? sok atuh dikurangin dikit,”

“Teu tiasa neng.. isin atuh ka si eneng mah,”

Berulang-ulang si penjual pisang kalau aku tawar dangannya selalu bilang  isin alias malu. Dan aku  pun membayar pisang raja sereh seharga 25 ribu rupiah. Saat menyodorkan uang ke penjual pisang, anak laki-lakinya yang berdiri di sebelah kiri, ,membantu menyodorkan tangan si bapak padaku.

Masya Alloh, setelah aku perhatikan dan tanya ke anak laki-lakinya, ternyata bapak penjual pisang itu buta, kedua matanya buta. Subahannalloh… Aku minta maaf, karena tidak lihat dia buta. dan sudah mencoba menawar dagangannya.

Selang aku bayar, Mba Jeni membeli dan membayar pisang ambon lumutnya, tanpa nawar. Setahuku Mba Jeni memang gak jago nawar kalau belanja:)

“Punten neng, bapak mah teu tiasa ningali, dua-duanya,” si penjual pisang menerima uangku

“Ya Alloh bapak… punten ya…” cuma itu yang bisa aku ucapkan dan berterima kasih.

Kami bergegas masuk mobil, karena gerimis mulai turun. Penjual pisang yang buta dan kedua anaknya, berlalu meninggalkan jl. Cikuray, mendahului mobil mba jeni. Dalam mobil, kami saling berpandangan, dan tertawa getir. Sesak dadaku melihat si penjual pisang. Satu anak laki-lakinya menuntun si bapak berjalan, sambil memanggul keranjang, anak satunya lagi, berjalan memegang payung.

Semakin sesak menyaksikan tiga mahluk Alloh, yang tak meminta belas kasihan orang lain dari meminta-minta, dia berjuang dengan berjualan. Penjual pisang itu masih punya harga diri, dan lebih bermartabat. Dan mengajarkan anak-anaknya juga untuk tidak malu.

Kami memutar ke Jl. Guntur, berhenti di depan halaman rumah Mba Anny, begitu turun, kami berpapasan kembali dengan penjual pisang dan anaknya, hari menjelang maghrib, mulai gelap dan gerimis. Semoga Alloh melindungi mereka, sehat dan tetap mendapatkan rizki yang halal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s