Kurangi Bahan Tambahan Pangan Sintetis, Gunakan yang Alami

“Kita punya makanan favorite. Apakah makanan favorite kita sudah sehat atau tidak?  Tidak hanya bahan baku, tapi tambahannya, karena itu tidak terlihat,”  kalimat pembuka  yang dilontarkan  Mega Ika Cahyani, dari Indonesia Initiative for Social Ecology (IISES), hadir di Obrolan Kamis Sore  (OKS)  edisi bulan Maret 2011.

OKS kali ini mengangkat isu Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang ada di dalam makanan kita sehari-hari, terutama pada jajanan yang dikonsumsi anak-anak. BTP atau bahan aditif yaitu bahan yang ditambahkan selam proses pengolahan makanan yang bertujuan selain memberikan gizi utama (karbohidrat, protein dan lemak).

Ada dua jenis BTP, yang alama dan sintetis (buatan). Contoh BTP alami yaitu garam dan gula bisa untuk mengawetkan makanan, kunyit dan daun suji untuk pewarna makanan. BTP sintetis dibuat dari bahan non alami, contohnya vetsin (monosodium glutamat) untuk penyedap rasa dan amaranth untuk memberi warna merah. Untuk penambah aroma alami bisa ditambahkan daun pandan.

Mengapa BTP ada dalam makanan kita?

Industri makan makin mewabah, industri ini perlu bahan pengawet agar makanannya tahan lama dan masa jualnya lebih lama agar dapat diedarkan seluas mungkin.  Supaya produknya menarik bagi konsumen, maka industri makanan menggunakan BTP sintetis, misalnya bahan penyedap rasa, pemantap rasa, perisa, aroma, pewarna dll. Selain pada industri, pengolahan makanan di rumah tangga juga sering  kali menambahkan BTP sintetis, seperti penyedap rasa dan pewarna.

Mengapa Kita perlu waspada?

Makanan yang beredar dipasaran umumnya mengandung BTP sintetis. BTP sintetis aman jika dikonsumsi sesuai dosis. Jika kita mengkonsumsi makanan/minuman yang mengandung BTP sintetis dan masuk ke dalam tubuh kita tanpa memperhatikan jumlahnya, kebiasaan ini dapat mengakibatkan penumpukan BTP sintetis dalam tubuh.

“Gula atau garam yang berlebihan pun berbahaya, tidak hanya pada orangtua, juga anak-anak. Jika makanan favorite itu bakso, kita tidak tahu di dalam bakso mengandung apa saja. Rasa gurihnya dari apa? Mie dari apa? Sausnya dari Apa?” Mega memaparkan kandungan BTP sintetis yang terdapat dalam makanan.

Jika makan semangkok bakso ditambah dengan sekantong sukro, berapa banyak bahan pengawet yang masuk dalam tubuh kita dalam sekali makan?

Selain itu, penyalahgunaan bahan tambahan non-pangan, misalnya formalin dan borax pada tahu, ikan dan bakso serta penggunaan pewarna textil ke dalam  makanan jajanan anak-anak.

Apa yang harus kita lakukan?

Mulai saat ini, kurangi mengkonsumsi bahan tambahan pangan sintetis dan mulai menggunakan bahan tambahan pangan alami. Bumbu masakan yang dibuat dari bahan alami, misalnya rempah-rempah, mengandung zat-zat yang menyehatkan dan menyembuhkan gangguan yang terdapat dalam tubuh serta melezatkan makanan.

Untuk membantu masyarakat mengetahui kandungan zat aditif yang terdapat dalam makanan. IISES sudah sudah membuat kamus aditif untuk memudahkan orang lain membaca kandungan zat aditif tadi. Misal, aspartam, pemanis buatan itu ada di minuman yang mengandung soda.

Mega juga menjelaskan rasa gurih alami  yang bisa dicampur ke dalam makanan di rumah. Bahannya dari udang rebon. Rebon dikeringkan, lalu dihaluskan. Rebon yang sudah dihaluskan bisa dicampur ke dalam nasi goreng. Selain rebon bisa juga ayam atau ikan tongkol sebagai penambah rasa alami.

Bumbu alami yang sudah dibuat oleh IISES ada bumbu ayam goreng dan tempe goreng. Bahan-bahanya berasalah dari kunyit dan bahan alami lainnya. Dan masa kadaluarsanya hanya enam bulan saja.

Elin Septiva, rekan Mega di IISES menjelaskan bahwa rempah-rempah yang mereka gunakan berasal dari Kelompok Tani Tapak Dara di Sindang barang, Bogor. Petani ini memanfaatkan lahan kosong.  Dan IISES membeli hasil kebun dari petani, seperti kunyit.

Untuk kesehatan anda dan keluarga, tak ada salahnya sejak dini sudah mengurangi BTP sintetis, gunakan yang alami. Jika Anda berminat untuk membeli atau mendapatkan bumbu alami, silahkan kontak ke ises.indonesia@gmail.com. [irma dana]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s