Tinjauan Kebudayaan terhadap Konservasi Alam

Pada Obrolan Kamis Sore Agustus 2010 lalu, menghadirkan Fatkurrahman Abdul Karim yang bergiat di Wahana Telisik Seni dan Sastra dan mengasuh Uni Konservasi Fauna – Institut Pertanian Bogor. Berbaju hitam, berambut gondrong. Sosoknya sudah mencirikan bahwa dia seorang seniman.

Pak De begitu Ia biasa dipanggil, pada awalnya seorang mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB. Setelah empat tahun lamanya tak kunjung lulus dalam studinya, Ia memutuskan untuk mengabdikan diri untuk kegiatan konservasi, dan mengawinkannya dengan tinjauan kebudayaan. Dengan mengasuh mahasiswa yang tergabung dalam Uni Konservasi Fauna (UKF) di IPB, ilmu yang ia dapat, tak sia-sia.

Dalam OKS ini, Ia bercerita tentang Ikhtiar Menempuh Solidaritas Alam Semesta. Pak’De mengutip Lorens Bagus bahwa “ Bagaimanapun majunya manusia dalam mengembangkan kebudayaan namun ia pada akhirnya tetap berakar dalam alam; dan kebudayaan menemukan tujuannya yang tepat dalam pemenuhan dan kesempurnaan kodrat manusia;sementara alam merupakan determinan pembatasan hakiki bagi arah dan luasnya aktivitas kebudayaan” .

“Suara lingkungan, tidak hanya terbatas pada suara air, butuh lebih dari itu. Alam adalah guru, suatu konstitusi yang sempurna, seperti dalam ajaran Taosisme,” papar Pak’De. Selain menjelaskan dari beberapa kitab suci tentang alam semesta, Ia juga menceritakan puisi-puisi yang lahir pada awal abad 20. Di mana puisi-puisi yang begitu suntuk merenungi kondisi alam, yang mulai menunjukkan degradasinya.

Menurut Pak’ De, pada masa itu, T.S. Eliot menulis baris puisi yang begitu muram, suatu gambaran bagaimana manusia di zaman moderen menjalani kehidupannya, seperti penggalan puisi yang diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono:

Ini tanah mati
Ini tanah cactus
Di sini patung-patung batu
Ditegakka, dis ini mereka menerima
Permohonan tangan si mati
Di bawah kerdip bintang yang redup….

Selain menyinggung karya T.S. Eliot, Ia juga menyinggung Khalil Gibran, dengan warna yang lebih romantik mencoba menyuarakan gerak alam yang terus menerus tergilas oleh malam mencekam. Gibran seakan menjelma menjadi juru bicara alam semesta, bagaimana ia mendengarkan keluh kesah sungai yang kejernihannya telah teraduk bersama jeroan binatang mangsa manusia, tangisan bunga-bunga karena sering direnggut oleh tangan-tangan yang tidak mengindahkan hidup dan keindahan;juga kesedihan burung-burung, seperti penggalan prosa berikut ini:

“Ku dengar burung-burung bersedih, dan kutanya,”Mengapakah engkau menangis, burung-burung yang cantik?” Dan salah seekor dari mereka terbang mendekat, dan bertengger di ujung sebuah dahan dan berkata, “Putera-putera Adam akan segera datang ke ladang ini dengan senjata mereka yang mematikan dan memerangi kami seolah-olah kami ini musuh mereka. Sakarang kami saling meninggalkan satu sama lain, sebab kami tidak tahu siapa di antara kami yang akan luput dari murka manusia. Maut mengikuti kemanapun kami pergi”.

Uraian panjang dari Pak’De mengajak kita untuk mencintai alam, tidak merusaknya, karena murka alam yang akan kita dapatkan nantinya. Seperti Gibran merenungi kemurnian alam yang tertuang dalam prosanya.

“Barangkali sudah waktunya kita menghayati kedhaifan diri dan kesemestaan alam agar keberadaan kita di dunia “hadir” sebagaimana mestinya: menghormati manusia, menghormati alam dan sesuatu yang ada di sana. Bisa jadi, dari sinilah solidaritas alam semesta bisa terwujud”, Pak De menutup Obrolan Kamis Sore. [irma dana]

Obrolan Kamis Sore, Agustus 2010
Nara Sumber:
Fatkurrahman A.Karim – Wahana Telisik Seni dan Sastra ,
serta mengasuh Uni Konservasi Fauna – Institut Pertanian Bogor
Fak.sublim@gmail.com

2 thoughts on “Tinjauan Kebudayaan terhadap Konservasi Alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s