Kembali Menggunakan Rantang untuk Membungkus Makanan Anda

Kampanye Lingkungan: Sudahkan Berdampak pada Perubahan Gaya Hidup? Pertanyaan itu ditujukan buat kita, khususnya masyarakat yang tinggal di kota besar, seperti Jakarta.

Armely Meiviana, mewakili Green Life-style, sebuah komunitas atau tepatnya mailing list yang anggotanya kerap mendiskusikan isu lingkungan pada kehidupan sehari-hari, terutama di kota-kota besar, berkesempatan berbagi pengalaman di Obrolan Kamis Sore, di bulan Mei 2010.

“Anggota mailing listnya adalah masyarakat di kota besar, kelas menengah ke atas. Kenapa? Karena berkaitan dengan gaya hidupnya dalam mengkonsumsi listrik, dan air” dengan santai Mely, panggilan akrabnya, menjelaskan pada kami.

Selain itu, dalam mailing list dan websitenya, Green Life-style juga menyinggung banyak hal yang relevan dengan isu-isu terkini dalam kehidupan di Indonesia. Seperti masalah obat eksport, dibuang ke mana limbahnya? Atau sampah koran di hari raya.

“Untuk lebaran yang akan datang, sedang diupayakan agar sampah koran tidak bertebaran. Setiap orang adalah agen perubahan, daripada menyuruh orang lain untuk berubah, lebih baik perubahan dimulai dari diri sendiri dulu,”  Melly menyinggung sampah koran yang seringkali bertebaran selepas sholat Ied di hari raya.

Tak hanya koran di hari raya yang menjadi topik menarik di OKS. Melly juga menyinggung penggunaan styrofoam sebagai pembungkus makanan, yang selain beracun juga merupakan limbah yang sulit terurai. Seharusnya bisa kembali seperti zaman dulu. Jika membeli makanan, membawa rantang dari rumah. Selain mengurangi sampah, juga baik dan ramah lingkungan.

Menurut Mely, produk  makanan green itu bisa dikatakan green/hijau kalau prosesnya memang ramah lingkungan, misalnya diproduksi dekat dengan lingkungan kita. Selain bisa membantu petani meningkatkan pendapatan dan ekonomi mereka, juga dalam hal pengangkutannya tidak banyak mencemari udara.  Saat ini banyak produk berlabel green yang palsu beredar di pasaran.

“Seperti obat nyamuk hijau, sandal hijau, bagaimana mau hijau, obat nyamuk kan dari pestisida,” Mely menekankan makna hijau dalam setiap barang.

Selain produk makanan, Mely juga menyinggung tentang perubahan iklim yang kini marak dibicarakan oleh masyarakat di tingkat nasional sampai internasional. Bahkan banyak kegiatan yang dilakukan oleh berbagai pihak yang selalu dikaitkan dengan perubahan iklim, baik itu kegiatan perusahaan atau lembaga-lembaga lain. Namun sesungguhnya pelaksanaan kegiatan tersebut tidak ramah lingkungan, misalnya masih menggunakan kertas (handout) yang berlebihan, suhu air conditioner yang telalu dingin, dan lokasi pertemuan yang tidak terjangkau oleh kendaraan umum.

Sebagai contoh, baru-baru ini komunitas Green Life-style bekerja sama dengan beberapa organisasi lain mengadakan kegiatan KumKum di area kota tua Jakarta. Pada kegiatan tersebut pengunjung dianjurkan untuk menggunakan kendaraan umum (dan diberikan informasi beberapa alternatif rute kendaraan umum menuju lokasi kegiatan), membawa perlengkapan makan dan botol air minum, disediakan air minum. Pengisi stand makanan tidak diperbolehkan untuk menggunakan aneka plastik dan dianjurkan untuk tidak menyediakan peralatan makan. Panitia menggunakan semua bahan bekas untuk keperluan administrasi. Di akhir acara selama 2 hari yang dikunjungi lebih dari 3.000 orang, hanya menghasilkan sampah sebanyak 2 kantong. Jadi, pada dasarnya gaya hidup hijau ini mudah dilakukan asal ada komitmen dan ada informasi penunjangnya.

“Kalau bicara gaya hidup, sebenarnya itu bukan milik kalangan menengah atau atas saja. Misalnya pengguna motor apakah sudah dikampanyekan bagaimana berkendara yang santun sehingga tidak banyak emisi terbuang, mulai dari kota sampai ke kampung, karena kini masyarakat kelas bawah banyak pula yang berkendara motor. Di Kebun Raya, yang didatangi berbagai kelas masyarakat, sampah masih bertebaran di sana. Masyarakat bawah perlu diberitahu.” Penuturan Mely menggelitik Asman untuk menanyakan perihal gaya hidup.

“Pertama, setiap kelompok masyarakat punya cara hidup masing-masing. Kedua, kenapa kota besar? Karena mereka yang paling memberikan dampak. Ketika berbelanja, atau menggunakan transportasi, mereka punya banyak pilihan. Tapi kenapa memilih cara negatif yang berdampak sosial bila mereka bisa memilih cara yang ramah lingkungan, walaupun terlihat sedikit merepotkan. Akes, di kampung tidak ada akses lain, misalnya harus pake motor. Saat ini cara paling memungkinkan bagi komunitas Green Lifestyle adalah menggunakan internet untuk menyebarkan informasi. Untuk kegiatan penyebaran informasi di daerah pelosok bisa kerjasama antar kampung-kampung, misalnya mobil hijau. Tidak bisa bekerja sendiri untuk melakukannya. Jadi intinya yang diubah adalah perilaku,”  Mely menanggapi pertanyaan Asman.

Selain masalah gaya hidup, sampah koran, styrofoam, komunitas Green Life-style juga pernah mengadakan insiatif pengumpulan batere bekas, juga kumpul-kumpul komunitas di mana mereka menggunakan barang bekas untuk kelengkapan kegiatan dan tidak menggunakan plastik untuk membungkus makanan.

Menyinggung hal daur ulang (recycle), Mely menegaskan bahwa saat ini telah terjadi kesalahpahaman tentang isu 3R (reduce, reuse, recycle), seharusnya yang lebih utama dan ditekankan adalah reduce, yaitu mengurangi penggunaan barang-barang yang tidak ramah lingkungan, seperti plastik yakni dengan membawa botol dan menggunakan rantang dari rumah tadi. Recycle adalah cara terakhir setelah reduce dan reuse dilakukan [irma dana + jeni shannaz]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s