Angkor Wat, Tempat Angelina Culie Main Film

Mandalay Inn, itulah hotel kami di Siem Riep. Setelah melewati jalanan berdebu dengan menaiki andong, kami tiba di
pelataran Mandalay Inn. ruang resepsionisnya kecil,
di teras hotel. Ruang tamu Mandalay Inn, beralaskan kayu, tamu harus melepas sepatu atau sandal jika masuk. Ornamen di ruang tamu serba kayu, meja dan juga tanggal ke lantai II. Seperti rumah joglo di Jogjakarta.

Selain kursi, ada komputer yang bisa digunakan tamu hotel, tentunya secara bergantian, tidak bisa seharian nongkrong di depan komputer. Debu di depan jalan Mandalay Inn bikin sesek napas. Ilma selalu berdo’a, semoga tidak ketemu lagi dengan Passport girls, apalagi satu hotel. Menelusuri jalan, mencari restoran halal.

Tak jauh dari Mandalay Inn, ada petunjuk, restoran muslim. Saya, Hadi, Lili dan Ilma sepakat mencari restoran muslim tadi, masuk gang berdebu. Kata orang, di dekat mesjid, karena memang disitulah komunitas muslim di Siem Riep berada. Risty dan Chris, sepakat mencari makan lain ke Siem Riep. Masuk gang, gelap, jalanan berdebu, restoran itu tak nampak. Semakin bingung dengan jalan yang dilewati, sepakat menyusul Risty dan Chris. Aha! mereka ada di resotoran Red Piano, konon Angelina Jolie, saat memerankan Lara Corf di Thumb Rider, dia mampir dan selalu makan di Red Piano. Hiruk pikuk di depan Red Piano. Turis dari Eropa berseliweran. Sebelum sempat duduk, kami bertegur sapa dengan pasangan suami istri dari Belanda. Basa basi ngobrol, ternyata mereka baru pulang dari Bali, langsung ke Cambodia. “Bali is the best” itu pendapat pasangan dari Belanda. Wow! Bangga juga mendengarnya.

Makanan di Red Piano tak jauh dengan makan eropa lainnya. Ada fettucini, sphageti, juga tom yam dan makanan khas cambodia, yang hampir sama dengan tom yam.Tak berlama-lama di Red Piano, harus istirahat, jam lima pagi akan di jemput travel, untuk melihat sun rise di Angkor Wat. Sebelum jam lima, jemputan ke Angkor Wat sudah menunggu. Lelaki berkulit sawo matang, berambut setengah botak, berparas india turun dari mobil minibus. Dia yang akan menemani kami sehari penuh. Peace of Angkor, travel agent tepatnya.

Duduk sambil terkantuk-kantuk di dalam mobil, udara dingin menerpa. Dari dalam mobil sempat melihat antrian panjang di sebuah rumah sakit. Ternyata, mereka sedang antri berobat gratis, jadi sejak jam empat pagi sudah rela antri. Tepat jam lima pagi, mobil tiba di parkiran pintu masuk Angkor Wat. Dingin! Harus antri di loket, beli tiket dan foto. Muka masih bengkak, bangun tidur, sudah foto! Dengan tiket $20, bisa menikmati kemegahan dan keindahan Angkor Wat selama satu hari penuh. Kami pun bergegas, menuju dan mencari tempat duduk strategis supaya bisa menikmati sun rise, muncul dari balik kemegahan Angkor Wat.

Alamak, di depan danau teratai yang kering, sudah penuh turis menunggu sun rise. Berbekal kursi plastik, harga sewa $1 sudah dapat satu gelas kopi susu. Duduk berjejer, memperhatikan tingkah laku turis lainnya. Asyik berfoto, bahkan saking kebelet ingin dapet latar belakang Angkor Wat, lelaki berwajah bule, rela berdiri di kursi plastik. Walhasil, kursi plastiknya ambles masuk lumpur! Tepat jam enam pagi, perlahan-lahan matahari muncul dari belakang candi Angkor Wat. Semua kamera berbunyi, jepret! Kira-kira satu dua jam, penantian pun berakhir. Semua beranjak menuju ke dalam Angkor Wat. Dinding dari batu, bergambar dengan pahatan tangan. Bergambar penari, burung dan istri-istri raja. Berwarna abu-abu, juga kemerahan. Kadang kekuningan.

Panas mulai menyengat leher. Payung pun dibuka. Tetap ceria, menyusuri komplek Angkor Wat. Tour guide kami sempat menyinggu saat “Angelina Culie”, begitu dia melafalkan Angelina Jolie, saat main film di Angkor Wat. Kami menyusuri halaman Angkor Wat. Berfoto seperti biasa. Sempat menaiki Nirwana, dengan ketinggian tangga 80 derajat. Naiknya semangat, setiap 100 orang harus berada di Nirwana. Turunnya, lututku lemes banget, tak berani memandang ke bawah. Sambil berpegangan besi tangga, pelan-pelan, aku turun. Sampai di bawah, lega! Sebetulnya ada jalan pintas, cuma agak mahal. Kalau mau melihat komplek Angkor Wat, bisa menaiki balon udara, hanya 15 menit saja, tiketnya $10, lupa!

Satu do’a dan pinta Ilma, jangan sampe ketemu passport girls lagi! Setengah harian berkeliling Angkor Wat, rasa lapar mulai menggelitik perut. Pagi tak sempat sarapan, hanya mengunyah biskuit dan segela kopi susu saja. Sambil tertawa-tawa keluar dari Angkor Wat, melewati ruang perpustakaan jaman para raja, persis di depan kami, empat cewek, dengan bedak yang masih tebal, berpayung dan menutup kepala dengan selendang. Alamak! passport girl, datang dari pintu masuk, sementara kami hendak keluar Angkor Wat.

Dengan senyuman, hanya bertegur sapa, salah satu dari passport girls bilang “Kalian sudah selesai? kita baru datang, besok baru mak Beyond temple, jadi dua hari di sini”

“oh nggak, kita hari ini ke Beyond temple, besok dah pulang ke Saigon lagi,” jawab Ilma.

“wadoooh! ketemu lagi deh sama passport girls! ngapain panas-panas baru datang, dua hari di sini, pasti mereka gak pake tour guide, jalan sendiri. Kita enak dong, pake tour guide, gak cape nyari-nyari ya,” geli denger komentar ilma, lucu juga siy…

Selepas makan siang, kami bergegas ke Beyond Temple. Pintu masuknya berjejer patung-patung berwajah serem dan kebaikan. Kami sempat menyaksikan upacara seperti orang yang sedang di ruwat. Ada tiga orang lelaki sedang dimandikan oleh biksu sambil diberi do’a.

Di Beyond Temple, banyak pohon-pohon besar dan berakar. Bahkan akarnya sudah merusak bangunan candi. Ada beberapa candi yang roboh karena gempa bumi, juga akibat akar pohon yang menjalar. Indah! Puas seharian berkeliling di Angkor Wat, kembali ke Mandalay Inn. Kami sempat meletkaan telapak tangan di “central of universe”  di Bayond Temple. Bahkan meletakkan kepala kami di tengah-tengah lantai. Sampai, bule yang menolong memotret ulah kami, kameranya terjatuh:)

Sejak pagi belum mandi. Debu sudah melekat di badan bercampur keringat. Selesai mandi, makan malam harus kenyang. Tujuannya,kembali ke Red Piano. Makan di sana lebih nyaman.

Dari Red Piano, sepakat mencari Estetic Pizza, konon, ada campuran daun ganja di toping pizzanya . Entahlah! yang jelas hadi dan lili tidurnya cukup pules malam itu. Mungkin cape juga seharian kepanasan di keliling. Ada kejadian lucu selepas pulang makan malam, saat menuju Mandalay Inn, lili hendak berfoto di pinggir jalan, tiba-tiba dideketin sama wanita-wanita sexy berbaju tanpa lengan. Mereka ikutan di foto.Entah banci atau PSK, yang jelas mereka ada di depan tempat billyard. Aku suka Cambodia, mereka tidak mengijinkan pasangan lelaki dan perempuan untuk bermesraan dan berciuman di depan umum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s