The Idiot, Passport Girl

Menginjakkan kaki di Saigon,  ramai oleh hilir mudik sepeda motor di jalanan. Dari dalam taxi, menyaksikan rupa-rupa kelakuan  pengendara motor. Ada cewek, memakai baju tank top, duduk nyengklak di bonceng, udara malam tak mengusiknya untuk berpakaian sexy,  begitulan kebanyakan cewek di Saigon berpakaian, setali kutang, karena udaranya panas.

Nampak juga, wanita dengan celana pendek, mengendarai motor, rambut punk rock, panjang terurai. Lepas dari kerumunan pengendara motor, taxi melewati taman kota. Nampak muda-muda asyik nongkrong di atas sepeda  motor, sambil berpelukan bahkan berciuman. Ah… romantisme masa remaja.

Taxi pun sampai di depan gang penginapan yang sudah di pesan Ilma jauh hari sebelumnya. Sekelas hotel melati, Phan Lan Hotel. Setiap kamar bisa di isi oleh dua atau tiga orang. Harga per kamarnya  US$27. Lumayan, bisa dibagi tiga bayar sewanya. Kami berenam, jadi hanya pesan dua kamar saja.

Rupanya yang menginap di Phan Lan tidak hanya saya, hadi, lili, ilma, risty dan chris. Saat kami check in, ada empat perempuan lain, berwajah Asia. Dan, ternyata sama-sama dari Indonesia.  Dalam keadaan perut lapar, mata mengantuk, kami pun  berkenalan.

Selepas menyimpan barang bawaan ke dalam kamar. Berenam, bergegas menyusuri  kota Saigon, mencari makan malam. Akhirnya, sampailah di restoran pizza Italia. Masing-masing memesan makanan menurut selera. Seperti biasa, Hadi yang gemar makan pizza, memesan  pizza dengan taburan daging asap dan lelehan keju.

Tak berlama-lama di restoran, harus segera tidur, menyimpan tenaga untuk pejalanan keesokan hari, menuju Angkor Wat. The beautiful temple.

Saya, Hadi dan Lili, mendapat jatah di lantai 3. Kami tidur satu kamar, dengan dua tempat tidur. Hanya satu malam saja menginap di Phan Lan Hotel. Pagi-pagi kami harus berangkat dengan bus, seharga US$ 25, untuk berangkat ke Angkor Wat, Cambodia.

***

Mata masih terkantuk-kantuk. Sarapan pun sambil mengemasi barang-barang pribadi. Roti Perancis, isi selai stroberi. Rotinya lumayan keras. Bis sudah menunggu di depan gang hotel. Jam tujuh pagi tepatnya, harus sudah berangkat dari Saigon menuju  Siem Riep di Cambodia. Di bis menuju Siem Riep, kami bertemu dengan empat orang perempuan Indonesia yang kemarin bertemu di lobby penginapan,  tujuan mereka sama, Angkor Wat.

Perjalana menu Siem Riep melewati perkampungan yang mirip dengan Pontianak. Sepanjang jalan penuh debu, dan sesekali melewati  tambak-tambak.  Bis berhenti di perbatasan antara Vietnam dan Camboja untuk memeriksa passport dan lapor untuk mendapatkan visa on arrival.  Semua penumpang turun. Passport seluruh penumpang bis sudah ada di tangan tour guide dari Sorya. Berduyun-duyun menuju imigrasi untuk diperiksa kesehatan. Dikhawatirkan menderita flu dan HIV.

Setelah berhasil melewati pemeriksaan kesehatan. Kami menunggu dipanggil oleh pihak imigrasi untuk  menerima passport yang sudah di stempel pihak imigrasi.  Semua sudah dapet passportnya. Giliran saya, Lili, Risty, Chris dan empat orang Indonesia lainnya.

Begitu nama Chris dipanggil, salah seorang cewek rombongan lain, berwajah khas orang batak, berkacamata, maju. Mengira nama dia dipanggil. Ternyata bukan.  Begitu juga, saat giliran Risty dipanggil, dia maju lagi.

Saat giliran nama perempuan berkacamat dipanggil, cukup lama tertahan di depan petugas imigrasi. Setelah semua mendapatkan kembali passportnya. Dia diajak keluar dari antrian, dan harus menemui kepala kantor imigrasi.

Satu bis akhirnya harus menunggu perempuan berkacamata itu  mengurus passportnya yang ternyata masa berlakunya tinggal enam bulan lagi. Hampir satu jam dia tertahan. Itu pun setelah melalui proses negosiasi yang panjang, antara tour guide Sorya dengan petugas imigrasi.

“ Waduh! Akhirnya saya ketahuan juga di sini, passport habis bulan oktober. Di Jakarta saya lewat, di imigrasi juga lewat. Eh di sini ketahuan,” dengan muka tanpa dosa cewek berwajah persegi itu menceritakan kebodohannya yang membuat kami dongkol.

“Ih, gitu aja bangga, bodoh banget sih,”  celetukan seperti itu keluar dari mulut kami semua.  Ilma pun menjulukinya si “passport girl”

Akhirnya bis  berhenti di Pnom Penh. Tepatnya di terminal kecil, ramai  dan sesak oleh penumpang dengan tujuan masing-masing. Kami harus berganti bis menuju Siem Riep. Dan masih menunggu satu jam.

Di sebrang terminal, ada mini market “bonjour”. Bergegas kami menuju bonjour. Banyak makanan berasal dari negeri Paman Sam. Potato chips beraneka rasa, minuman segar dan biscuit. Kami tak sempat makan siang, jadi biscuit aneka rasa menjadi pengganjal cacing –cacing di perut yang meronta.

Bis menuju Siem Riep lebih jelek dari Bis sebelumnya. Bis tua, dengan tempat duduk yang keras dan tidak nyaman untuk punggung kami. Sialnya, kami harus satu bis lagi dengan rombongan passport girl and the gank.

Selama enam jam kami disuguhi lagu-lagu melankolis berbahasa Vietnam, dengan suara melengking. Pasrah, sesekali Ipod shuffle kutempelkan di kuping. Kadang tertidur.  AC dalam bis tak bisa menghalau rasa panas.  Pasrah menikmati lengkingan suara dari CD yang terus diputar sepanjang perjalanan. Duh gusti! Tersiksa rasanya.

Sampailah  di Siem Riep,  hari mulai gelap. Kami di jemput pake delman. Di antara debu jalanan, bis berhenti menurunkan semua penumpang. Satu do’a Ilma, tidak satu hotel dengan si Passport girl.

Sampailah di hotel, masih dengan pasangan yang sama, saya, Hadi dan Lili masih satu kamar. Hanya satu, begitu sampai hotel, simpan barang, langsung cari makan. Sejak pagi, belum sebutir nasi pun masuk di perut.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s