Bulan Januari, Waktunya Sensus Burung Air

Obrolan Kamis Sore, bulan Maret lalu kembali mengangkat isu tentang burung . Kali ini tentang Asian Waterbird Cencus (AWC) yang merupakan kegiatan rutin dan diikuti oleh ribuan sukarelawan di wilayah Asia dan Australasia setiap bulan Januari. Para relawan ini mengunjungi lahan basah dan melakukan penghitungan burung air. AWC merupakan bagian kegiatan yang bersifat global, yaitu International Waterbird Census. Keduanya dikoordinasikan oleh Wetlands International.

Kegiatan ini pertama kali dilaksanakan di India, tepatnya pada tahun 1987, dan kemudian menyebar luas meliputi wilayah Asia dan Asutralasia. Di seluruh Asia, kegiatan AWC telah mencakup lebih dari 6.100 lokasi di 27 negara.

Ferry Hasudungan, mewakili Wetlands Indonesia, menjabarkan rangkaian AWC yang dilakukan di Indonesia. Menurut Ferry, suatu lokasi disebut penting bagi burung air yang bermigrasi di Indonesia, bila minimum terdapat 1% dari populasi burung air di dunia. Salah satu lokasinya adalah Bagan Percut (di sana terdapat Milky Stork), Jambi dan Sumatra Selatan, tepatnya di Pantai Cemara, yang merupakan habitat burung air terbesar. Serta Banyuasin, di mana pernah tercatat kurang lebih ada 114.000 ekor burung air per hari.

Burung-burung air tersebut tak luput dari ancaman dalam mempertahankan hidupnya. Ancaman terbesarnya adalah reklamasi pantai, tetapi tergantung dekat atau tidaknya dengan lokasi pemukiman penduduk.

Hal yang menggembirakan adalah sejak tahun 1989 telah dilakukan sensus terhadap burung air, pada tahun 2008 sensus ini telah diikuti oleh 135 orang di 38 lokasi. Kendala yang dihadapi selama melakukan sensus adalah sulitnya buku panduan dan peralatan sensus, seperti teropong dan buku.

Selepas memaparkan presentasi seputar AWC, Ferry pun diberondong pertanyaan dari peserta Obrolan Kamis Sore. Mulai dari jumlah jenis burung air di Indonesia dan populasi burung air di Bogor.
Menurut Ferry, dari hasil sensus di beberapa lokasi, trend untuk jumlah populasi belum konsisten, perlu diamati secara teratur, jumlah jenis pun berfluktuasi.

“Idealnya sensus itu dilakukan serentak agar tidak ada burung terhitung dua kali. Data yang didapat dari para relawan ini kemudian dikirim ke Koordinator Nasional untuk dikompilasi sebelum akhirnya dikirim ke Koordinator Internasional. Data yang didapat ini bisa dimanfaatkan oleh berbagai institusi pemerintah maupun non-pemerintah, untuk menunjang berbagai kegiatan konservasi, mulai dari tingkat lokal hingga global. Namun, banyak otoritas di daerah yang tidak mengetahui kegiatan ini, entah tidak peduli atau pura-pura tidak tahu, sehingga tidak mendukung kegiatan ini,” tegas Ferry.

Untuk mengatasi hal tersebut, Wetlands Indonesia melakukan langkah dengan memberikan pendidikan pada murid di sekolah di Indramayu, yang terkenal sebagai salah satu daerah persinggahan penting burung air di pesisir utara Jawa. Disadari pula bahwa kegiatan ini masih perlu banyak melakukan sosialisasi lagi di sekolah-sekolah. Dan ada baiknya bila para mahasiswa/pengamat bisa melibatkan siswa-siswa sekolah dasar dalam melaksanakan kegiatannya, agar proses penyadartahuan bisa terus berlangsung.

Pertanyaan menarik dilontarkan oleh Koen Setyawan, kenapa burung air? Dan sejauh mana data yang didapat bisa dimanfaatkan oleh para pengambil keputusan di tingkat nasional atau daerah?

“Burung air adalah salah satu indikator untuk menilai pentingnya kondisi suatu lahan basah (wetland), sesuai kriteria dalam kesepakatan RAMSAR. Di dalam negeri sendiri data ini tidak banyak yang langsung dimanfaatkan oleh otoritas di tingkat nasional, karena mereka sepertinya kurang percaya data dari dalam negeri, selalu berpatokan pada data dari internasional. Sebagai contoh, diperlukan perjuangan khusus untuk meyakinkan Pemda agar turut melindungi daerah yang penting untuk burung air, misalnya Bagan Percut,” papar Ferry menanggapi pertanyaan dari Koen.

Mengantisipasi merebaknya wabah flu burung (Avian influenza) sementara adanya kemungkinan-kemungkinan yang belum terjawab akan keterkaitan burung-liar (dalam hal ini burung air) dengan wabah tersebut, kegiatan AWC ini juga menjadi salah satu upaya dalam mengumpulkan informasi dasar bagi kebutuhan penanganan wabah Avian influenza.

Fungsi burung air bagi lingkungan juga sempat disinggung. Pada tahun 1987, di Lampung, lahan perkebunan kelapa sawit di serang oleh hama. Tetapi hal itu tidak terjadi di Serang, karena ternyata di Serang masih banyak Kuntul kerbau yang memakan serangga ataupun hama di area lahan basah, sementara di Lampung, banyak kawasan lahan basah telah dikonversi menjadi tambak.

Perubahan habitat lahan basah dan lahan gambut merupakan ancaman bagi burung-burung air. Dan Wetlands Indonesia telah mencoba menyelamatkan lahan gambut, seperti di Kalimantan Tengah dengan melakukan restorasi hidrologi dan penanaman di lahan bekas proyek gambut satu juta hektar.

Di akhir pertemuan, Ferry mengingatkan, selain ada Asian Waterbird Cencus, pada tanggal 8-9 Mei 2010 mendatang juga merupakan “ World Migratory Bird Day”. [irma dana].

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s