Tanpa Nusa Kambangan Cilacap Habis

Selain Kampoeng Bogor, Obrolan Kamis Sore edisi bulan Februari 2010, juga kedatangan tamu-tamu dari Cilacap. Ruangan dipenuhi dengan obrolan yang menyangkut Nusa Kambangan, dengan presentor Tukirin Partomiharjo, peneliti tumbuhan dari LIPI dan Tarsoen Waryono, Staf Pengajar pada Departemen Goegrafi FMIPA Uiversitas Indonesia.

Selama empat tahun, peneliti dari LIPI ini menjelajahi Nusa Kambangan. Nusa Kambangan dikenal sebagai bentengnya kota Cilacap dari segala terpaan iklim dari Samudera Hindia. Tanpa Nusa Kambangan, Cilacap habis. Saat ini, Nusa Kambangan menghadapi ancaman yang serius. Mulai dari penebangan liar yang masih sering terjadi, hingga penambangan batu kapur oleh PT. Holcim, sejak tahun 1974.

Dari hasil penelitian LIPI diketahui ada 700 jenis tumbuhan. Dua belas jenis di antaranya adalah rotan. Nusa Kambangan juga memiliki empat jenis tipe hutan mangrove dan merupakan kawasan dengan jenis mangrove terlengkap ada di Cilacap. Berkaitan dengan jenis tumbuhan di Nusa Kambangan, Sudarmono dari Kebun Raya Bogor, menyampaikan harapan perlunya pembuatan buku Flora of Nusa Kambangan, untuk menghindari kepunahan, terutama yang endemik.

“Pertanyaan dari Pak Darmono, tentang pembuatan buku 100 jenis pohon penting di Nusa Kambangan saat ini sedang dilakukan, termasuk jenis kupu-kupu yang cantik. Tetapi pendanaannya masih harus dicari dahulu Dari hasil kajian, dari 700 jenis tumbuhan yang tercatat, ada 34 jenis yang merupakan catatan baru untuk flora Jawa. Seperti Damar mata kucing,” papar Pak Tukirin.

Nusa Kambangan yang terletak di ujung muara sungai mengalami pelumpuran (sedimentasi) berat dari daratan sehingga terbentuk tanah-tanah timbul. Tanah timbul ini mengakibatkan perluasan daratan.

Menurut Tarsoen Waryono, Dosen Universitas Indonesia asal Cilacap, di sebelah utara Nusa Kambangan dulu bisa dilewati kapal, pada tahun 1970-an mulai dari Karang Talun sudah terdapat jajaran rumah panggung di mana penduduk bisa memancing langsung dari rumahnya. Sekarang kawasan ini sudah menjadi daratan.

“Kesalahan Pemerintah adalah, daratan itu dijadikan sebagai perwakilan pemerintahan Cilacap, yaitu menjadi Kecamatan Klaces,” Tarsoen menambahkan cerita Pak Tukirin.

Hingga saat ini, kepemilikan tanah timbul ini menyebabkan sengketa tanah yang terus berlanjut, antara pihak Perhutani dan penduduk Nusa Kambangan yang kebanyakan adalah pendatang, bahkan tidak ada penduduk asli.

Nampaknya, Kota Bogor dan Nusa Kambangan menghadapi perubahan tata ruang yang cukup serius. Benang merahnya adalah, bagaimana memperlambat degradasi lingkungan tersebut. Yang dihadapi oleh Kota Bogor adalah berdirinya ruko-ruko di sepanjang bantaran sungai, sedangkan di Nusa Kambangan, mengalami pelebaran daratan dan hebatnya penambangan kapur. [Irma Dana]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s