Kampoeng Bogor, Menganyam Budaya Antar Etnis

Bulan Februari 2010, Obrolan Kamis Sore mengangkat isu yang berkaitan dengan perubahan kawasan dan upaya pelestariannya. Ridho, selaku koordinator komunitas Kampoeng Bogor getol mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan sejarah Kota Bogor. Di mana, sejak 600 tahun yang lalu, Kota Bogor sudah terbentuk dengan beragam budaya.

Peserta yang hadir di Obrolan Kamis Sore pun disuguhi film buatan komunitas Kampoeng Bogor, yang menceritakan romantisme Kota Bogor jaman dulu dan sekarang berdasar penuturan warga Bogor dari berbagai kalangan. Kampoeng Bogor untuk mengembangkan kegiatan utama, saat ini mempunyai tiga pilar kegiatan, dalam mengembangkan informasi sejarah. Yaitu : menggali informasi lama, mengemas jadi media informasi, seperti website dan penyebaran informasi, melalui seminar serta kunjungan ke sekolah-sekolah.

“Kampoeng Bogor, berdiri sejak akhir 2006, merupakan kumpulan anak-anak muda, individu yang peduli, dan kebetulan LPPM Institut Pertanian Bogor, mendukung komunitas ini, saat kami masih berkegiatan di Tegal Gundil. Dasar pemikiran berdirinya Kampoeng Bogor adalah bagaimana kami bisa berbuat sesuatu untuk kota yang kami tinggali ini,” cerita Ridho selepas pemutaran film Kampoeng Bogor.

Sama seperti komunitas lainnya, Kampoeng Bogor mengalami turun naik dalam perkembangan kegiatan, orang datang dan pergi di komunitas ini. Relawan dan anggota hanya sedikit saja bertambah.
Selepas Ridho menceritakan seluk beluk Kampoeng Bogor, rupanya, Melani Abdulkadir-Sunito dari Insititut Pertanian Bogor dan juga aktif di Samdhana ini, jauh lebih mengenal anak-anak yang berkecimpung di sana.

“Ridho terlalu humble, teman-teman dari Kampoeng Bogor sudah melakukan banyak hal untuk kota Bogor Kampoeng Bogor menjadi penggerak, dan merajut hubungan berbagai etnis di Bogor seperti Cina, Arab dan etnis lainnya Kampoeng Bogor juga melakukan revitalisasi perayaan Cap Go Meh di Bogor, sehingga sekarang ini Cap Go Meh menjadi perayaan bagi seluruh masyarakat Bogor” tambah Melani Abdulkadir.

Rupanya, komunitas Kampoeng Bogor juga merupakan tulang punggung dari Bogor 100 suatu komunitas yang peduli pada kota Bogor dan memikirkan Bogor untuk 100 tahun ke depan, dan memiliki cita-cita untuk menjadikan Kebun Raya Bogor sebagai salah satu Warisan Dunia. “Kebun Raya Bogor, sebagai paru-paru Bogor semakin tercekik, Bogor telah menjadi “heat island”, sekali lagi Melani membuka pikiran tamu yang hadir di OKS.

Dibantu oleh Kampoeng Bogor, Bogor 100 juga telah sukses mendapatkan dukungan dari Pemerintah Daerah untuk mengadakan Car Free Day di kawasan Sempur setiap Minggu pagi.

Bogor sudah tak seindah tahun 1970-an lagi, seperti dalam kenangan Tarsoen Waryono. Dosen Universitas Indonesia ini teringat, dulu selalu berjaket kala berada di Bogor yang sejuk, sekarang tidur di Bogor tidak lagi perlu memakai selimut.

Bogor juga sering disebut kota lembaga penelitian dan LSM, terlalu berat kalau semua masalah di Bogor dibebankan pada Komunitas Kampoeng Bogor untuk memperbaikinya. Intinya, bagaimana semua kita bisa turut menyelamatkan alam, karena perkembangan manusia dan kerusakan lingkungan tidak bisa dielakkan lagi. Hanya bagaimana kita bisa memperlambat degradasi yang terjadi terhadap lingkungan, seperti ditegaskan oleh Hasudungan. [Irma Dana]

2 thoughts on “Kampoeng Bogor, Menganyam Budaya Antar Etnis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s