Catatan Menonton Film Balibo Five

Namanya catatan, jadi kalau ada yang kurang, mohon maaf, kapasitas memorinya sudah harus di upgrade . Semoga catatan ini berguna buat yang tidak sempat menonton Balibo Five, karena tidak lolos sensor dari Lembaga Sensor Film. Mudah-mudahan dapat bajakannya di Glodok atau Mangga Dua

*****

Juliana, gadis kecil berambut panjang dan keriting, saat berusia delapan tahun terpaksa menyaksikan peristiwa paling mengerikan buat seusianya. Lewat jeruji kawat, matanya menyaksikan puluhan laki-laki dan perempuan dewasa ditembaki, salah satunya wartawan senior Australia. Setelah 24 tahun lamanya, Juliana dan beberapa puluh warga Timor Loro Sae lainnya diminta bersaksi atas kejadian di bulan Desember 1975.

Air terjun, nampak seorang lelaki dengan tato di lengannya kirinya, berambut tipis melemparkan alat pancingnya ke tengah sungai. Selepas mancing, Ia menaiki mobil jeepnya, berangkat ke kantor. Ketika hendak memasuki ruang kerjanya, lelaki bertato itu dicegat sekretarisnya. Bahwa sudah ada yang menunggunya sejak tadi, yaitu Ramos Horta.

Ya, Ramos Horta dari Timor timur menemui Roger East wartawan senior asal Darwin, Australia di kantornya. Tapi, Roger menolak menemui Ramos. Hingga waktu makan siang tiba, sambil membawa bungkusan burger, Roger duduk di tepi pantai, memandang lautan. Tak lama, Ramos menghampiri Roger, menceritakan kedatangannya.

Ramos, meminta Roger untuk datang ke Timor timur, mendirikan kantor berita di sana. Sayangnya, Roger tak tertarik. Ia pun kembali ke kantor. Roger membuka file tentang wartawan-wartawan asal Australia yang sedang meliput di Timor timur.

Roger akhirnya berangkat ke Timor timur. Ia menginap di hotel Turismo. Dari balik pintu, seorang gadis kecil, mengintip kedatangan Roger. Gadis kecil berambut keriting, panjang, berbalik menuruni tangga, dan duduk di meja resepsionis. Roger menghampirinya. Si gadia mengucapkan “ selamat datang di hotel Tursimo”.

Adegan berikutnya, Roger duduk di meja makan. Hanya Ia seorang diri tamu yang ada di hotel Turismo. Tak lama seorang lelaki, berkemeja putih, berambut ikal membawakan sebotol anggur. Juga satu ekor ikan kelapa yang sudah tersaji diatas piring, bertabur irisan jeruk.

Saat Roger datang ke Timor timur sedang terjadi invasi yang dilakukan oleh tentara Indonesia. Terutama di daerah Balibo, dekat perbatasan Atambua. Fretilin berusaha menahannya. Roger akhirnya bertemu dengan Ramos Horta, dan menanyakan keberadaan lima orang wartawan muda asal Australia. Ia tak bertemu satu orang pun wartawan asal negerinya di Dili. Berdasarkan keterangan anak buah Ramos, wartawan-wartawan Austalia sedang berada di Balibo.

Roger pun memaksa Ramos untuk mengantarnya ke Balibo. Ramos menolak untuk mengantarnya. Terlalu beresiko. Namun, keinginan Roger lebih kuat, dan berhasil membuat Ramos mengalah dan mengantarkan Roger ke Balibo dengan berjalan kaki selama kurang lebih 14 jam.

Melewati jalan kampung, memasuki hutan, Roger ditemani Ramos Horta terus berjalan. Siang hari, saat berjalan di tengah hutan, tiba-tiba terdengar suara pesawat. Dan letusan senjata api dari atas helikopter mengarah pada Roger dan Ramos. Keduanya lari tunggang langgang menghindari tembakan. Di layar nampak Roger, terjerembab dan berusaha sembunyi di balik banir pepohonan. Keduanya berhasil terhindar dari tembakan.

Sampailah di Balibo. Apa yang mereka lihat dan temuai di sana? Nampak mayat warga sipil berserakan di atas retakan tanah kering. Ramos berteriak “ biadaaaaaaab”. Roger nampak terhenyak dengan pemandangan di depan matanya.

Wartawan yang dicari Roger East, tiga orang wartawan dari channel 7 sempat mampir ke tempatnya Pastor Silva dan melepas lelah, berenang di kolam belakang kediaman Pastor Silva. Bahkan mereka sempat dkejar-kejar tentara Indonesia, dan terpaksa masuk perkampungan penduduk.Mereka berbaur dengan anak-anak mendengarkan seorang kakek tua yang menceritakan nenek moyang orang Timur timur, yaitu seekor buaya, yang menggendong anak lelaki dipunggungnya dalam bahasa Tetum

Ketiga orang wartawan televisi channel 7 akhirnya bertemu dengan wartawan dari channel 9. Hingga suatu hari, mereka pergi ke pinggir pantai. Dan bertemu segerombolan orang berlari dari arah berlawanan. Wartawan-wartawan ini sibuk mengarahkan kameranya. Dari kejauhan nampak kapal-kapal angkatan laut berjejer di tepi pantai. Tiba-tiba, ada keributan, banyak lelaki bersenjata, berseragam, tiba-tiba berganti pakaian sipil. Ada yang bercelana pendek, berkemeja bahkan berambut gondrong.

Kelima lelaki muda itu pun berlarian, berusaha menyelamatkan diri. Terus berlari, salah satunya nampak terengah-engah, asmanya kambuh. Mereka masuk ke gedung tempat mereka menginap,masuk dalam satu kamar. Pintunya mereka kunci. Sementara satu orang masuk ke kamar yang lain. Lelaki bersenjata, berbaju layaknya penduduk biasa masuk ke halaman gedung. Disusul dengan rombongan berseragam loreng, kecoklatan, berbaret merah. Mengarahkan senjatanya ke arah gedung. Salah satunya, ada lelaki bermata agak sipit, berambut keputihan mengenakan topi koboy.

Sementara di dalam kamar, keempat wartawan masih terengah-engah, menahan napas dan takut. Satunya lagi, terpisah, masuk ke dalam ruangan yang lain. Berusaha menyelamatkan hasil rekaman. Tiba-taiba, satu wartawan keluar, mengahampiri rombongan pasukan bersenjata, dan lelaki sipit bertopi koboy. Sepertinya hendak menjelaskan statusnya sebagai jurnalis.

Lelaki sipit bertopi koboy itu, menodongkan pistolnya tepat di jidat si wartawan, dan dor! Meletuslah tembakan, wartawan muda itu terjatuh, menghembuskan nafasnya. Di dalam empat orang lainnya, ketakutan. Dan, brak! Pintu di dobrak. Rombongan bersenjata itu menyeruak, masuk ke dalam kamar, dan meringkus wajah-wajah yang ketakutan. Satu persatu nyawa mereka dihabisi, ditembak di tempat, tanpa ampun! Bahkan, yang sedang terkena asma pun dihabisi nyawanya.
Mayatnya, dikumpulkan di tengah ruangan lalu dibakar.

Di tengah malam gulita, di ruang tidur, Roger East berusaha memejamkan mata, tiba-tiba mendengar kegaduhan. Dia mengahampiri salah satu kamar. Begitu dibuka, nampak tentara Fretilin sedang menyiksa satu orang warga Timor Timur yang dicurigai membantu tentara-tentara Indonesia. Roger meminta untuk menghentikan penyiksaan yang dilakukan Fretilin, dan memberikan minum. Dari mulut lelaki yang tangannya terikat, bersimbuh darah, Ia mendapat keterangan, wartawan-wartawan itu sudah dibakar. Roger menyusul ke tempat kejadian. Dan Ia mendapati kamar dengan dinding penuh cipratan darah, dan setumpuk abu di tengah kamar.

Roger menuliskan peristiwa tersebut, dan mengirimkan berita ke kantornya di Darwin. Tiba-tiba dari luar terdengar keributan. Tenyata pasukan bersenjata, dengan baret merah, mendesak masuk ke ruangan telegram. Dengan segera, ia minta petugas telegram mencatat dan mengirimkan pandangan matanya. Sambil terus berkata-kata, Roger mendekati pencatat telegram. Tak lama, pasukan berbaret merah masuk ruangan telegram, dan mengancurkan peralatan di sana.

Petugasnya di pukul, juga Roger. Setelah dipukul, diseret sampai keluar ruangan. Di luar gedung, orang berlarian. Nampak Juliana yang hendak diungsikan ayahnya, terpaksa turun dari mobil yang menjemputnya. Roger East terus di seret hingga ke pelabuhan.

Dalam adegan tersebut, Roger penuh dengan luka-luka di wajahnya. Matanya terus terpejam. Sambil komat-kamit “No…No…” setiap kali mendengar tembakan di dekatnya. Akhirnya Ia pun ditembak oleh pasukan baret merah, dan tercebur ke pinggir pantai dalam keadaan tak berdaya. Dari kejauhan, Juliana kecil, melihat terbunuhnya Roger East, juga ratusan orang dewasa. Saat menceritan itu, Juliana kembali menitikkan air mata. Peristiwa Desember 1975, adalah peristiwa berdarah di Timor Loro Sae.

Itulah beberapa adegan dari film Balibo Five yang terekam dalam otak saya. Saat menonton adegan penembakan kelima wartawan muda, warga sipil dan Roger East, air mata sempat menggenang di pelupuk mata. Terlepas true story bercampur fiksi, film Balibo Five menggambarkan pelanggaran HAM di Timor timur. Semoga bisa membuka wawasan alasan Timor timur merdeka. Karena Timor timur pada tahun 1972 sudah merdeka…dari Potrugis.

One thought on “Catatan Menonton Film Balibo Five

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s