Membuat Pesan yang Melekat

Bagaikan anak panah, saat melesat dari busur, harus tepat mengenai sasaran, tidak boleh melenceng jauh. Sama halnya dengan membuat pesan atau iklan bagi publik, harus tepat mengenai target sasaran. Hari Kushardanto, Senior Pride Program Manager RARE Indonesia, dalam Obrolan Kamis Sore, Nopember 2009 menyuguhkan cerita bagiamana “Membuat Pesan yang Melekat.”

“Membuat pesan yang melekat berkaitan dengan pekerjaan sehari-hari, hanya satu cuplikan dari teori komunikasi,” cerita Hari di awal presentasi.

Tak lama muncul slide anak-anak penyu di layar presentasi. Sekitar tahun 1996-1997, di Baja, California Penyu di eksploitasi, sebagai bahan makanan untuk diet. Sehingga mengakibatkan populasinya menurun drastis.

Hal tersebut menimbulkan reaksi dari kalangan aktivis lingkungan di Baja. Dan mendorong aksi kampanye untuk menghentikannya. Kampanye seperti apa yang diinginkan?

Kembali Hari menampilkan slide, kali ini poster dengan wanita cantik, sambil telungkup, dalam bahasa Spanyol “Mi hombre No necesita huevos de tortuga” muncul di layar. Artinya “Pasanganku tidak membutuhkan telur penyu, karena telur penyu tidak memberikan kekuatan lebih”.

Dalam kampanye konservasi penyelamatan penyu di Baja, daya tariknya adalah perempuan cantik yang muncul di poster, sehingga memori publik sebagai sasaran dapat merekamnya cukup baik. Menurut Hari, memori manusia bekerja, adalah suatu konsep bagaimana kita mengingat, ada proses membangun bentuk, merasakan, mengenal fungsi dan mendengar suara. Semua proses ini terjadi pada lokasi yang berbeda-beda di otak. Sehingga satu orang bisa memiliki konsep mengingat yang berbeda. Seperti halnya punya pacar lebih dari satu. Kenangan indah yang terekam antara satu dengan yang lain pasti berbeda.

Dalam menyampaikan pesan yang melekat, selain sosok yang cantik, sexy, tampan, sebaiknya pesan dapat membangun emosi. Keterlibatan emosi akan membuat kesan yang melekat pada publik, lebih tepatnya “ inform-inspire-persuade- entertaint.”

“Pesan yang entertaint alias menghibur biasanya mudah diingat, bisa lucu, menyedihkan, menakutkan, mengagetkan, sentuh semua sisi emosi, hati, imajinasi pikiran khalayak,” papar Hari di sore bersimbah hujan.

Selain pesan yang menghibur, Hari juga menyinggung momen yang mengejutkan “wow moment”. Yaitu memperkenalkan suatu cara berfikir yang tidak wajar, open minded, creative, menunjukkan sesuatu yang baru atau pun fakta-fakta yang menakjubkan. Jangan lupa, sumber yang dapat dipercaya. Biasanya “ word-of-mouth” akan jauh lebih efektif dan mudah dipercaya.

Udara dingin yang menjalar di ruang auditorium, tak menciutkan nyali untuk menggali lebih banyak lagi informasi dari Hari Kushardanto. Seperti halnya Kuswandono dari BTN. Gunung Gede – Pangrango, yang berpendapat bahwa konsep komunikasi dengan paradigma penyuluhan, langsung ke masyrakat,justru menjauhkan gap.

Tanggapan Hari, tentang konsep penyuluhan dikaitakan saat Indonesia mengalami “baby booming “pada tahun 1960- 1970. Dimana kelahirana bayi mengalami lonjakan cukup besar, karena konsep yang salah tentang keluarga. Pemerintah atau BKKBN, melakukaan social marketing untuk memperkenalkan program Keluarga Berencana melalui pemuka agama, sehingga berhasil menekan perkembangan penduduk.

“ Yang dilakukan bukan penyuluhan , tapi menjangkau audience. Seperti halnya progam suami siaga. Indonesia adalah satu dari negara Asia, dengan resiko kematian cukup tinggi saat ibu melahirkan. Kalau konsep penyuluhan sasaran pesannya ibu-ibu, ternyata selama ini ada konsep yang salah dari bapak. Maka dirubah menjadi Suami Siaga. Dimana suami-suami harus siaga saat istri mau melahirkan, jadi harus memahami audience,” tegas lelaki berkemeja hitam ini.

Lepas menanggapi Kuswandono, pertanyaan lain terus diajukan pada Hari. Seperti halnya Sandika dari Burung Indonesia.

“Bagaimana menyampaikan suatu pesan yang mudah dipahami masyarakat, tapi banyak kendala. Apakah ada kata kunci atau trik bisa langsung ke masyarakat?” pertanyaan yang menggelitik untuk Hari.

“Umumnya masyarakat ada di basic kebutuhannya, kalau bicara konservasi, bukan pada kebutuhan mereka, tapi sekolah anaknya dulu. Kalau menjaga hutan bisa dikaitkan dengan siklus air, jadi ada dua kebutuhan yang berbeda di sana,” jawab Hari.

Terus menerus pertanyaan seputar pesan yang melekat terus bergulir. Seperti pertanyaan yang dilontarkan Jeni Shannaz, soal keterbatasan sumber daya manusia yang dimiliki oleh LSM yang harus bersaing dengan iklan-iklan komersial, terutama untuk pengambil keputusan, cara apa yang seharusnya digunakan?

“Ternyata, saat berbicara isu konservasi ada sistem kecil-kecil yang tidak terbangun. Setelah dipelajari, banyak yang hilang. Juga penegakan hukum, banyak hal yang tidak tunduk pada peraturan. Seharusnya yang jadi tekanan bagi pemerintah adalah LSM dan media. Sayangnya media tidak sampai ke arah sana. Sampai saat ini belum pernah ada headline di surat kabar yang berkaitan dengan isu lingkungan. Seharusnya ada market share media dengan mengajak mereka paham isu konservasi,” dengan semangat Hari menjawab pertanyaan Jeni.

Tak kalah menarik, Riza Marlon menanggapi tentang photo voicec sebagai salah satu cara menyampaikan pesan. Menurutnya konsep photo voices belum pas diberikan bagi masyarakat Indonesia yang tidak memiliki budaya teknologi. [Irma Dana]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s