It’s Personal Benefit dan Pamali

“ Ah, orang kita emang ada-ada saja pertanyaannya. It’s personal benefit irma…,” celoteh Ibu Titi saat kami memulai percakapan tentang kesibukannya. Personal benefit, kalimat ini menarik dan indah didengar. Kata ini terlontar saat saat temannya Bu Titi bertanya, kapan Ia pergi ke Mekkah, untuk ibadah haji. It’s personal benefit, selalu terngiang ditelinga saya.

It’s personal benefit, sebetulnya kalimat yang sopan untuk menghalau beberapa pertanyaan “pamali” hukumnya ditujukan kepada seseoran. Belum lama,pertanyaan haram itu sempat juga ditujukan pada saya.
“ Udah berapa anak lo Ma? Belum juga ya….wah! kurang bisa kali ya….apa perlu bantuan?” yang bertanya adalah teman laki-laki.
“ Gw akan bilang kalau perlu bantuan ya….gw selektif orangnya, gak bisa sembarang orang, apalagi model kaya lo, ” sambil berseloroh jawaban itu keluar dari mulut saya.

Terkadang saya jawab dengan senyum dan minta didoakan. Atau seperti tadi, dengan bercanda. Dulu siy, sempet suka mangkel dalam hati. Orang ini kok nanya, seenaknya aja. Apa gak tahu, yang ditanya hatinya teriris-iris bahkan pengen nangis?

Belum punya anak atau sudah, bukan keinginan setiap pasangan loh. Banyak faktor yang menyebabkan pasangan yang satu dengan yang lainnya beda. Si A cepet punya anak…si B harus menunggu 2 tahun…bahkan Tantowi Yahya saja harus 11 tahun menunggu, baru lahir anaknya. [maaf ya contohnya artis]

Kenapa “pamali”? Tidak sepatutnyalah menanyakan hal-hal “kapan nikah, kapan punya anak, atau kapan naik haji, padahal sudah mampu.” Dipikir-pikir kok gak ada habisnya ya hidup ini. Selesai yang satu, dituntut punya yang lain….dulu sebelum nikah, ditanya kapan kamu nikah Irma? Gimana mau nikah, punya pacar malah dia mutusin saya hehehehehe

Nikah atau tidak, punya anak atau blom….itu kembali pada rencana hidup masing-masng orang. Setiap orang punya pilihan, dan setiap orang juga tidak bisa menentang kuasa Tuhan. Apalagi sudah dibarengi berbagai usaha, untuk melengkapi pertanyaan-pertanyaan tadi.

Beberapa teman wanita juga sering curhat, dia belum ada jodoh. Bahkan sudah beberapa kali ganti pacar, tak sampai ke pelaminan juga. Jawabannya, belum waktunya…semua akan indah pada waktunya. Kok bisa?

Buktinya, bulan lalu, seorang teman perempuan, yang usianya lebih tua beberapa tahun dari saya, akhirnya menikah. Dan kemaren, satu lagi teman, bercerita sudah punya pacar. Dan tahun depan mereka merencanakan pernikahan. Tuh kaaaaan….kalau sudah waktunya, semua indah dan lancar.

Terus, saya tanya sama Bu Titi. Kalau orang bule, ketemu temen itu apa siy yang ditanya Bu?
“ ya mereka gak nanya gituan lah…itu tadi it’s personal benefit. Paling nanya how about the wheater….atau sibuk apa sekarang….gak nanya masalah pribadi.”

Dan pertanyaan-pertanyaan itu memang pamali buat saya ajukan ke teman-teman. Menurut kamu, “pamali” gak pertanyaan itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s