Laskar Karung membersihkan Tjiliwoeng

Author : Irma Dana

VIVAnews – Setiap Sabtu pasti ada SMS masuk ke handphone, isinya ajakan untuk bersih-bersih kali Ciliwung di hari Minggu setiap jam 7.30 pagi. Pengirimnya biasanya Hapsoro dan Hari Kikuk. Dua orang inilah yang pertama kali saya kenal di komunitas Tjiliwoeng Dreams.

Nah! Aksi mulung sampah plastik yang ke delapan, tepatnya tanggal 3 Mei 2009 lalu, lokasinya di bawah jembatan Lebak Kantin, persis di sebelah lapangan Sempur, Bogor. Tidak sulit menuju lapangan Sempur, cukup sekali naik angkot saja dari Jl. Ahmad Yani, Bogor tempat saya tinggal.

Paling sulit adalah mencari celah untuk parkir dan duduk saat tiba di lapangan Sempur. Kenapa? Karena setiap hari Minggu, di lapangan Sempur penuh sesak dengan tukang jualan segala macam barang. Semua warga Bogor seperti mau manasik haji di lapangan Sempur. Sambil menunggu Laskar Karung, sebutan untuk relawan yang mau gabung mengambil sampah plastik di bantaran sungai Ciliwung.

Nampak Hapsoro, Zaki dan Hendri berdiri dekat lapangan basket. Zaki menjadi koordinator lapangan aksi mulung ke delapan ini. Sambil menunggu relawan yang datang, saya sarapan bubur. Tapi, hampir satu jam lamanya menunggu, relawan Laskar Karung belum juga bertambah. Memang sih, setiap minggu jumlahnya selalu berubah. Seperti halnya saya, yang bisa dua minggu sekali ikut bersih-bersih Ciliwung.

Tak lama datang Muslih (26), salah satu relawan yang tinggal di Tegallega – Bogor. Dia sudah delapan tahun tinggal di Bogor. Sejak kuliah di Kehutanan – Institut Pertanian Bogor. Kenapa Muslih Peduli dengan Ciliwung, padahal dia bukan asli orang Bogor?

“Di mana kita tinggal kita harus aware dengan lingkungan dan memberikan sesuatu sama masyarakat sekitar. Ide awalnya kegiatan ini dari Hapsoro dan Hari Kikuk, mereka suka jalan-jalan di Ciliwung, karena sering ngobrol-ngobrol, terus mau ngapain? jadi tertantang untuk membuat aksi nyata di Ciliwung,” kata Muslih saat ditanya kenapa peduli dengan Ciliwung.

Dari delapan kali kegiatan mulung sampah ini, saya hanya ikut empat kali saja. Selain di Lebak Kantin, pernah juga ikut mulung di Pulau Geulis dan Pasar Induk Jambu Dua, Bogor. Masing-masing lokasi punya ciri khas tersendiri. Misalnya, saat mulung di Pulau Geulis, Pasar Bogor. Lokasinya tepat di antara pemukiman penduduk. Laskar Karung dibagi ke dalam dua kelompok saat mulung di Pulau Geulis. Jadi, kami bersebarangan.

Tepat di lokasi saya mulung, banyak kotoran manusia yang mengalir ke Ciliwung. Bahkan masih berserakan di bantaran serta dinding rumah penduduk. Bahkan Raifi, sempat tak sengaja tangannya kena kotoran manusia. Saya sendiri sempat mual-mual mencium bau tak sedap dari kotoran itu.

Walaupun masih ada yang buang air besar ke Ciliwung, anak-anak kecil yang tinggal di Pulau Geulis tetap asyik berenang di sungai. Bahkan mereka sempat membantu kami mengambil karung-karung sampah menyebrangi sungai. Padahal di hulu ada seorang pria yang sedang buang hajat. Duh Gusti! Apes bener anak-anak itu. Sempat kapok, tidak mau ikutan aksi mulung lagi. Kapok nyium dan lihat tahi.

Kalau di Pulau Geulis, banyak tahi di pinggiran kali. Saat aksi mulung keenam di Pasar Induk Jambu Dua, yang banyak adalah sampah pasar. Mulai dari sayuran, buah, juga ikan busuk. Tak luput sampah plastik pembungkus jeruk. Pedagang buah dengan seenaknya membuang jeruk mandarin busuk yang masih terbungkus plastik ke bantaran sungai. Ada juga tumpukan pepaya yang membusuk. Bahkan saya sempat mual, mencium ikan busuk di dalam kantong plastik.

Saat mulung sampah di Pasar Induk Jambu Dua ini kami agak kerepotan untuk turun ke bantaran sungai. Kami harus menggunakan tangga bambu untuk turun ke bantaran. Cuma itu satu-satunya cara. Secara bergantian kami turun. Sementara di bawah nampak tumpukan pepaya yang sudah membusuk.

Selain relawan yang sudah biasa ikutan mulung. Saat di Pasar Induk, saya sempat berkenalan dengan karyawan Perfetti van Melle. Mereka datang sekitar 10 orang. Ketika ditanya kenapa ikutan mulung, ternyata HRD menjadikan aksi mulung di Ciliwung masuk dalam program dua minguan untuk lingkungan. Pesertanya juga selalu bergantian. Tergantung libur karyawan.

Di mulung ke delapan inilah saya baru sempat mewancarai Hari Kikuk si empunya ide. Hari Kikuk dengan rambut keritingnya, setiap kali mulung selalu semangat. Nggak pernah kelihatan cape, mukanya selalu sumringah.

Waktu ditanya kenapa Hari semangat dengan aksi mulung sampah, dengan logat jawanya yang masih kental, dia mencurahkan perasaannya. “Aku kan tinggal di Bogor, buang sampah di Bogor, BAB di Bogor, cari nafkah juga di Bogor. Aku ingin kontribusi. Masyarakat masih buang ke sungai, khususnya di bantaran. Padahal ada bak sampah. Apa bak sampah harus disediakan di setiap rumah? Bogor kan kota hujan, sampah di manapun pasti larinya ke sungai,” kata Hari terus nyerocos mencurahkan isi hatinya.

Hari berpikir, pemerintah harus serius menangani masalah sampah di Bogor. Hari juga berpikir, selama ini sampah yang diambil oleh petugas kebersihan hanya sampah yang ada dipinggir jalan saja. Lantas, sampah rumah tangga yang ada di gang bagaimana?

Pria berumur 30 tahun ini sedang menanti kelahiran bayinya. Apakah istrinya marah, dengan aksi mulung sampah setiap minggu? “Istriku nggak marah, rela, ikhlas. Harapanya, sungai Ciliwung bisa bersih, gak gatel kalau dipakai mandi. Masih banyak anak-anak dan orang dewasa mandi di sungai Ciliwung, tetapi banyak limbah dibuang ke sungai. Pokoknya perlu dukungan semua kalangan untuk aksi Ciliwung,” kata Hari.

“Aku dari kecil kan mulung sampah, sampai SMP buat biaya sekolah. Setelah itu berhenti, jadi buat aku mulung sampah itu biasa,” jelas Hari sambil memilah-milah sampah plastik.

Aku jadi termangu dan tersadar. Hari yang bukan orang Bogor asli mau peduli dengan kebersihan sungai Ciliwung. Lantas bagaiamana dengan orang Bogor, terutama masyarakat yang tinggal di dekat bantaran sungai Ciliwung?

Ahmad Hafid (54) Ketua RT 03 RW 06, Lebak Kantin, Bogor yang sempat saya temui di warung gado-gado. Tepat di atas bantaran sungai Ciliwung bercerita bahwa di Lebak Kantin ada kerja bakti sebulan sekali. Tetapi bukan membersihkan sungai Ciliwung.

Warga hanya membabat rumput yang sudah tinggi. “Pengin Ciliwung bersih, tidak ada sampah. Sekarang masih ada yang mandi di sungai. Masih ada yang buang saluran kamar mandi ke sungai. Ada juga yang punya septic tank,” jelas Ahmad saat ditanya tentang pembuangan sampah ke Ciliwung.

Menurut Ahmad, banyak warga yang buang saluran kamar mandi ke sungai karena rumah yang berdempetan, dan masih menggunakan sumur. Warga khawatir, kalau membuat septic tank resapannya akan masuk ke dalam sumur, sehingga airnya tidak bisa diminum. Walhasil, warga Lebak Kantin masih ada yang buang ke sungai Ciliwung. Ironis!

Sambil melepas lelah, saya duduk di atas bebatuan. Tiba-tiba pandangan mata tertuju pada tiga gadis remaja yang menenteng karung. Rasanya, saat berangkat mulung sampah dari lapangan basket Sempur, saya tak sempat melihat tampang ketiganya.

Iseng-iseng saya menghampiri ketiganya. Masih imut-imut. Tak salah, mereka masih duduk di bangku SMP. Setelah saya tegur, mereka memperkenalkan dirinya. Ada Reni, Desta dan Lela alias Cule. Ketiganya baru selesai menjalani ujian akhir nasional.

Pagi itu, mereka berolah raga di lapangan Sempur. Saat melintasi jembatan dan mata memandang ke bawah jembatan, ada yang menarik perhatian mereka. “Dikira lagi main-main waktu dilihat dari atas, kok pada ngambilin sampah. Penasaran turun aja. Terus minta karungnya. Asyik juga ternyata ya. Sebenernya jijik, tapi kalau buat lingkungan kenapa nggak?” lontar Cule.

Reni, Desta dan Cule biasanya berolah raga ke Cibinong. Tapi minggu lalu, mereka sengaja ingin mampir ke Bogor. Ketiganya memiliki hobi yang sama. Ya, sama-sama suka jalan pagi. Atau sekedar berjalan-jalan ke kebun, sungai sekedar main saja. Mereka senang kegiatan alam bebas. Saat ditanya, tidak takut hitam karena terkena sinar matahari, Reni menjawab, “Nggak lah, kan sudah hitam, jadi nggak takut lagi,” sambil menunjukkan tangannya. Ketiganya memang hitam manis. Jadi mereka tidak peduli dengan panasnya Bogor saat kegiatan mulung kemarin.

Anda mau menjadi relawan laskar karung seperti Reni, Desta dan Cule? Silahkan buka http://www.tjiliwoeng.co.cc.

3 thoughts on “Laskar Karung membersihkan Tjiliwoeng

  1. waah koq gha pernah keliatan lagi mbaa? jangan kapok looh, lokasi yang gha banyak ranjau-nya adalah daerah lebak kantin, karena telah ter – filter oleh kebun raya Bogor, atau di daerah Katulampa. Ayo donk gabung lagi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s