Bondan Winarno: Bre-X, Sebungkah Emas di Kaki Pelangi

n1453004827_247551_29328462Begitu masuk ruang tamu rumah Bondan Winarno, suasananya seperti berada di ruang makan. Saya dan Ratna pun nimbrung ngobrol dengan peserta kelas narasi di Eka Tjipta Foundation mendengarkan Bondan Winarno menceritakan pengalamannya untuk acara Wisata Kuliner. Tapi, kunjungan ke rumahnya, bukanlah mau mendengarkan bagaimana Ia mencicipi setiap masakan di acara kuliner tadi.

Tanggal 7 Maret 2009 di kediamannya, Bondan akan menceritakan bukunya yang berjudul Bre-X Sebungkah Emas di Kaki Pelangi. Wah! Menarik ya…seorang Bondan Winarno, terkenal dengan mak nyuusnya, ternyata pernah menulis buku investigasi.

Bebaju tangan panjang, bergaris-garis biru kecil. Bondan Winarno duduk di meja kayu panjang didampingi Nugie sebagai moderator.

Bondan Winarno tidak pernah mengira, kalau dia bisa tertarik pada dunia investigasi. Ternyata, ini berkaitan dengan aktifitas masa kecilnya saat menjadi seorang pandu alias pramuka. Terinspirasi dengan Lord Boden Powell, Bapak Pandu dunia, yang memang adalah seorang intelegen dari Inggris. Rupanya, apa yang diajarkan di kepanduan, salah satunya adalah harus memiliki kemampuan intelejen yang baik.

Sampai saat ini Bondan Winarno masih memegang sifat-sifat yang diajarkan dalam kepanduan. “On my honour, akan melakukan yang terbaik, saya tidak akan membedakan orang dari pekerjaannya. Walaupun dia seorang tukang sapu atau seorang penjaga toilet.” terucap dari mulut Bondan.

Selain mengajarkan sifat baik dan kemampuan intelejen, menurut Bondan “Kepanduan pun mengajarkan deduksi, yaitu merangkum semua menjadi kesimpulan. Itulah kepanduan dan membawa saya menjadi wartawan. Saya suka film CSI, dia merangkum semuanya”.

Selepas jadi wartawan TVRI, Bondan pindah ke Suara Pemn1453004827_247554_4028537baruan, dia menjadi wartawan investigatif . Juga kolumnis untuk kolom asal usul di KOMPAS bergantian dengan Sobari.

Nah! Pada tahun 1997, Kasus Bre-X di Kalimantan Timur, menceritakan tentang kandungan emas di Busang, Saat itu, ada kecurigaaan, Michael de Guzman, Manajer Eksplorasi PT Bre-X Corp, loncat dari atas helikopter. Dengan professional skeptism, mencari tahu tentang hal itu, kenapa skeptis? Ini berkaitan dengan deduksi tadi.

Michael de Guzman, sudah berada di puncak prestasi, dia bunuh diri. Padahal hutan di Kalimantan Timur, kalau dilihat dari atas sepeti brokoli. Tapi mayat de Guzman itu ditemukan di rawa-rawa. De Guzman diperkirakan loncat dari ketinggian 800 meter. Saya pernah lihat, orang loncat dari ketinggian 1500 meter, itu mayatnya tinggal tulang.

Dari situ, Bondan Winarno minta dikirim ke Kaltim dan masuk ke Busang. Berangkat jam lima pagi dari Samarinda menuju Busang. Banyak informasi yang dirangkum jadi satu. Ia sempat bericara dengan petugas kamar mayat untuk minta informasi tentang de Gusman. Bahkan sampai pergi ke Manila untuk melihat kuburannya.

Saat itu baru dua minggu mayat de Guzman dikuburkan, tepat disebelah kuburan de Guzman ada dua kuburan lama. Di kuburan itu ada banyak lilin, sedangkan di kuburan de Guzman, tidak ada bunga dan peziarah sejak dimakamkan. Bahkan keluarganya pun tidak mengujungi makan de Guzman, mereka seperti tahu, bahwa itu hanya sandirwara saja.

Akhirnya, Bondan kembali ke kamar mayat. Bahkan ketika di Samarinda tiba-tiba ada yang memberikannya amplop, saat dibuka, tertulis nama Priatna Laode ada no hp dan tertulis dengan jelas, dia itu teman sekamar de Guzman. Dia menceritakan, apabila hendak tidur, de Guzman selalu mencopot gigi palsunya. Dan menyimpannya dalam gelas berisi air.

Bondan pun kembali ke Manila, untuk memastikan apakah de Guzman memakai gigi palsu? Ternyata, mayat yang dikuburkan di Manila, tidak memakai gigi palsu. “Terbukti, mayat itu tidak ada gigi palsunya, dan menguatkan dugaan, dari situ saya mulai menulis,” cerita Bondan.

“ Ada satu kunci, banyak wartawan sifatnya arogan saat mendatangi nara sumber. Tampilkan diri apa adanya, berpakaian dengan sopan,” tegas Bondan pada peserta Narasi. Pengalamannya saat menulis buku Bre-X ada naru sumber yang tidak mau diwawancara oleh wartawan. Nara sumbernya menganggap wartawan sok tahu dan tidak sopan. Sementara, Bondan dengan mudahnya berkomunikasi dan mewawancara nara sumber.

n1453004827_247544_7709321Bondan bercerita, kapten helikopter yang membawa de Guzman sampai saat ini masih memegang rahasia. Ia adalah Edi Tursono. “Menurut saya, dia tahu, Michael de Guzman turun dimana. Saya berusaha interview, tapi dia orangnya keras. Saya telpon istri dan keluarganya. Tiba-tiba dia pernah telpon saya, dan maki-maki saya, menganggap saya telah menteror istri dan ayahnya. Padahal saya Cuma ninggalin pesen dan no tlp saja.”

Akhirnya Bondan dan sang pilot pun bertemu. Tidak boleh kurang atau lebih dari jam yang telah ditentukan. Jam 12 tepat. Bondan hanya mendengarkan jawaban dari si pilot tidak…tidak…tidak… Bondan pun mendeduksikan bahwa pemerintah merasa dipermalukan dengan kasus de Guzman ini.

Bondan sempat sidang di pengadilan, saat menulis tentang Busang untuk TEMPO dan KOMPAS dan menghadirkan I.B Sudjana, Menteri Pertambangan dan Energi di persidangan.

Bondan juga menjelaskan, ketika berhadapan dengan nara sumber tidak boleh menganggap mereka bodoh. Mereka boleh bilang “ salah pak” . Seperti John Sinatra, yang menyatakan” wartawan bule itu goblok pak”. Semakin saya tutup, semakin curiga. Jadi saya buka aja siapa saya. Mereka terbuka, yang saya anggap sok tahu dan tertutup adalah polisi, mereka sok tahu”

Bapak merasa sendirian waktu menghadapi pengadilan, tidak ada wartawan yang mendampingi? Pertanyaan itu terlontar dari salah seorang peserta kursus.

“Saya waktu itu jadi konsultan di World Bank. Teman-teman di World Bank mengumpulkan uang. Ben Fisher, dari World Bank minta saya tetep kerja dan menyelesaikan kasus di pengadilan dulu tentang Bre-X. Saya tidak melihat satu pun teman wartawan dari TEMPO atau KOMPAS. Padahal waktu TEMPO hadapi Tomi Winata, saya jadi ketua.

Perjalanan invetigasinya memakan biaya yang cukup besar. Dan sampai menjadi buku kira-kira makan waktu 10 minggu lamanya. Menurut Bondan, kalau saja bukunya ditulis salam bahasa Inggris, yakin bisa menjadi film. Kasus Bre-X murni ketololan pejabat dan polisi.

Fika menanyakan, bagaiamana menemukan/memilah nara sumber yang benar?
Semua itu memakai profesionalisme skeptism, dan bukti-bukti seperti gigi palsu akhirnya jadi teori.

Bagaimana proses deduksi? Kita menyimpulkan saja, jawab Bondan.

Nara sumber yang tidak berhasil ditemui Bondan Winarno ada tiga orang. Mereka adalah istri-istrinya Michael de Guzman. Sampai akhirnya berhasil menemui salah satunya, yaitu Geni di rumahnya.

Geni yakin, de Guzman masih hidup. Karna dia masih terima kiriman uang dari de Gusman. Jeni sempat membuat upacara panggil arwah, karena dia orang Dayak. Ternyata, arwahnya De Guzman tidak datang, berarti masih hidup.

Bahkan di tahun 2007, Geni masih menerima uang lagi dari Brazil. “ Saya di telpon wartawan, bisa ketemu dengan Geni, dibantu dengan geologis dari Inggris, mendatangkan Geni ke Jakarta, tapi saya tolak. Sudah tidak ada gunannya. Bahkan setelah 10 tahun pun, Geni masih menerima uang dari rekening de Guzman”.

Apa kelemahan teori deduksi?
Deduksi memang hal yang tidak terlalu kuat, deduksi bisa salah.

Bondan pun menceritakan kebiasannya dalam menulis. Bahwa dimana saja dia menulis. Tidak harus pergi ke stasiun tertentu, di rumah, nyalakan computer, di airport, sehingga pada saat terntetu sudah ada catatannya. Dia menulis kasus Bre-X ketika bahan-bahannya sudah cukup. Dia tulis dulu outlinenya. Dengan membuat kerangka itu, tinggal me nempelkan dagingnya. “ Jadi saya lari-lari, dari Bab I ke bab II dst”.

“Di buku Bre-X ,saya banyak melakukan pelanggaran kaidah-kaidah jurnalistik. Tidak ada edit, tidak ada reader”.

Bondan masih terus mengungkapkan kekagumananya pada dunia kepanduan juga tentang volunterisme. Dia bilang, para pensiunan jenderal bisa meluangkan waktunya sehari saja, untuk jadi volunteer di sekolah-sekolah m enjadi konselor, memberikan bimbingan tentang narkoba. Guru-guru gak punya kemampuan, murid-murid pasti bangga konselornya itu seorang jenderal.

Menurutnya, volunterisme adalah satu kekuatan besar. “ Saya pengen jadi ketua RT, gak pengen jadi aktifis partai. Ketua RT juga jangan jual stempel.”

Kembali ke penulisan bukunya, tidak ada yang dia sesali, kecuali tidak menerbitkannya dalam bahasa Inggris. Buku Bre-X bukanlah yang pertama, buku invetigasi lainnya adalah tentang Tampomas.

Selebihnya, Bondan Winarno menceritakan tentang kuliner. Diskusi pun ditutup, dan kami pun makan siang dengan nasi timbel, ayam, ikan mas, sambel terasi dan lalap. Walaupun bukan Pak Bondan yang masak, tetep mak nyuuuuuus karena lapar

****

25 thoughts on “Bondan Winarno: Bre-X, Sebungkah Emas di Kaki Pelangi

  1. two thumbs up!🙂
    saya dah baca cerita ttg bre-x ini bbrp taun yg lalu, dan smp skrg msh ttp terpukau.
    di mana ya saya bisa nyari bukunya? dijual di pasaran ga sih?
    btw, silakan mampir ke rumah saya…

  2. Saya sudah mencari buku ini di toko buku gramedia dan toko buku gunung agung tapi tidak ada. Kalau ingin mendapatkan buku ini dimana ? Mohon informasinya melalui email saya = georusdi@yahoo.com

  3. guys, saya punya soft copy nya. Bila mau, layangkan saja e-mail kalian ke tempat saya: fajar_alam81@yahoo.com. Akan saya kirimkan dari sini, nun jauh di tanah Kalimantan, tempat di mana gosip itu beredar ….

  4. jadi inget waktu masih kerja di eksplorasi freeport dulu ….. ikutan sibuk gara-gara busang …

  5. salut dengan pak bondan.
    memang untuk pemecahan kasus seperti ini di tanah air kita ini masih jauh dari rasa puas menurut saya,masih banyak tindak keajahatan yang dengan mudah lolos dari sorot jerat hukum.
    saya berharap hukum di Indonesia bisa jauh lebih baiklagi untuk ke depan,sehingga hukum bisa ditegakkan dengan seadil-adilnya.
    terima kasih

  6. wah pak bondan selain jago dlm urusan kuliner ,ternyata jg jago urusan spion , kayak tokoh iodola saya , detective conan ..

  7. pengen banget punya buku nya..
    ada yg tahu di toko mana saya bisa mendapatkan nya ?
    terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s