Ade Dan Kostum Spiderman

Raditya tersenyum lebar pada ibunya. Gigi atasnya ompong. Habis, karena kebiasaan ngedot alias minum susu dari botol sambil tidur.

Sambil berdiri mengenakan konstum Spiderman lengkap dengan topeng. Plus jas hujan berwarna merah dan kuning, Raditya berdiri tegak di depan pintu kamar ibunya. Nampak celana Spiderman-nya sudah ngatung, melebihi mata kaki Raditya yang bertambah tinggi.

Dia kegirangan memperlihatkan kostum Spiderman yang dibelinya saat dia masih berusia tiga tahun. Sekarang, Ade, begitu kami memanggilnya sudah berusia enam setengah tahun. Ibunya menceritakan kelakuan Ditya saat merengek minta dibelikan kostum Spiderman di ITC Depok dulu.

“Ngerakeun Deh! Pas beli kostum itu, dia langsung pake di ITC. Atuh, semua orang ningalikeun. Senyum-senyum gitu. Bodo ah! Cuek aja. Biasa si Ade mah sok ngadat pan. Pernah waktu beli sempak gambar Spiderman, kudu ganti di mall,” tambah Ibu Ditya sambil tersenyum mengingat kelakuan Ade.

“Iya De? Inget gak kamu nangis waktu beli baju Spiderman? Malu-maluin ya?” tanyaku pada Ade sambil bercanda.

“Hah? Masa bu…Aku lupa, gak inget,” jawab Ditya.

Ade pun mondar-mandir dari kamar ibunya, terus ke kamarnya. Tak lama, Ade muncul dengan menggunakan helm ayahnya. Tertutup rapat. Tiba-tiba dia seperti sesak napas dan meminta tolong ibunya untuk membuka kaca penutup helm. Ada-ada saja ulah Ade.

Ditya pun kembali ke dalam kamar. Dan muncul dengan kostum Batman, hitam lengkap dengan topeng. Ia pun kembali berlari-lari dari kamar tidur, ke ruang depan dan kembali ke kamarnya. Seolah-olah ada di Gotham City. Tak lupa ibunya mengingatkan Ade untuk merapikan kostum Spiderman dan mainannya.

“Awas ya, jangan berantakan di kamar. Kamu rapihkan ya, De,” tegur Ibunya sambil merapikan tempat tidur.

“Jangan dulu bu, nanti mau aku pake lagi.”

Selang beberapa menit, Ade sudah mengganti kostum Batman-nya dengan baju hijau bergambar barong. Tiba-tiba dia mendekati meja rias ibunya. Sambil berlari ke arah kamar, Ia memegang kacamata minus ibunya.

Sadar kacamatanya dibawa Ade, si ibu mengejar Ade ke kamarnya. ”Ade, gak boleh…Nanti matanya rusak, sini kasih Ibu.”

“Gak mau, aku pinjem. Mau pake. Ah! Ibu…Pinjem-pinjem,” rengek Ade sambil terus berkejaran dengan Ibunya.

Ade pun mengembalikan kacamata ibunya dengan tampang kesal dan merengut. Disertai pukulan pada pintu kamar. Kekecewaannya reda, saat ibunya mengiming-iming membelikan Ade kacamata. Seperti biasa, Ade pun tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang ompong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s