Obat Ngantuk Yang Mujarab

“ Perhatikan dari arah selatan, Pakuan AC tujuan Bogor, masuk di jalur lima,” teriakan petugas di stasiun Tanah Abang menghentakkan penumpang semakin mendesak mendekati rel.

Begitu kereta berheti di jalur lima, penumpang berlari, berlomba mencari tempat duduk yang masih kosong. Ternyata Titi berhasil mendapatkan bangku kosong untuk berdua. Tak lama, Titi mengeluarkan buku bacaan dari tasnya yang berjudul Frank Sinatra Kena Selesma. Selang beberapa menit, ada penjual kacang menghampiri Titi.

Sambil menerima telpon dari temen, terdengar Titi menyapa gadis penjual kacang berkaos kuning dengan akrab. “ Hi De, kemana aja? Sudah besar ya.”

“ Hi Tante, iya ….,” jawab si gadis. Titi nampak akrab dengan gadis itu. Sambil tangannya mengambil lima bungkus kecil kacang dari keranjang dagangan.

Setelah membayar, Titi memasukkannya ke dalam tasku. “titip heula di situ ya.” Selesai menerima telpon, bungkusan kacang aku berikan pada Titi. “Sok kamu pilih, mana yang kamu suka,” tawar Titi. Dan pilihan jatuh pada kacang atom.

Kereta terus melaju. Udara di dalam kereta terasa kurang sejuk. Membuat penumpang di bangku seberang kami mulai terkantuk – kantuk. Seperti perempuan berwajah Indonesia Timur itu. Dengan earphone menempel dikedua telinganya, dia mulai memejamkan matanya. Dan sesekali matanya terbuka.

Walaupun mendengarkan musik dari handphonenya, tak ada keceriaan yang terpancar. Mukanya nampak masam dan cemberut. Kembali wanita berparas Indonesia timur dan berbaju coklat itu memejamkan matanya. Begitu juga lelaki dengan kemaja putih disebelahnya, nampak lelap tertidur. Bahkan kepalanya sampai tertunduk.

Sementara dua orang perempuan berjilbab yang berdiri di depan wanita berbaju coklat tadi, nampak asyik ngobrol. Sesekali wanita berjilbab krem dan baju berwarna pink merespon pembicaraan temannya dengan jawaban,” oh…oh….”

Nampak wanita berjilbab krem mengangkat kaki kira dan kanannya bergantian. Mungkin pegal harus berdiri di kereta. Beruntung, begitu memasuki stasiun Depok Lama, Ia bisa duduk. Banyak penumpang yang turun di sana. Juga temannya, yang berjilbab oranye, turun di Depok Lama.

Tiba-tiba Titi nyeletuk, “aduh, kok ngantuk ya.” Sambil menutup buku Frank Sinatranya.

“Mau jeruk gak,” kutawarkan jeruk mandarin yang sempat aku ambil dari kantor PANTAU pada Titi .

“Boleh, emang jeruk bisa menghilangkan kantuk gitu?” Titi balik bertanya.

Belum sempat dijawab, tanpa sengaja Titi memencet kulit jeruk yang tebal. Dan matanya kecipratan air dari kulit jeruk. “Wah! Beneran menghilangkan kantuk euy! Besok – besok, untuk menghilangkan kantuk, pilihlah kulit jeruk yang tebal, jepit dengan jari telunjuk dan ibu jari. Cipratkan ke mata Anda. Terbukti manjur! Ha…ha….” Titi tertawa terbahak-bahak.

Dan terbukti, Titi tak lagi mengantuk. Bahkan setelah makan jeruk, dia masih sempat menghabiskan sebungkus kacang atom. Titi pun melanjutkan perjalanannya sampai Bogor. Sedangkan aku turun di stasiun Cilebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s