Lumpia Basah Khas Bogor

Tadi siang akhirnya pergi ke Jalan Suryakencana, Bogor. Rencananya mau cari makanan untuk makan siang. Begitu turun dari angkot, langsung menuju tukang bakso yang ada di sebelah Swalayan Ngesti. Padahal yang dituju tukang bakso yang mangkal di depan Ngesti. Tak terlihat gerobaknya.

Kami Pun mencoba bakso di samping Ngesti. Tak kalah enaknya, apalagi disaat lapar. Kami pun melahap bakso bening. Puas makan bakso, aku mampir ke Ngesti mencari kebutuhan dapur.

Selesai belanja di Ngesti, Hadi mengajak membeli lumpia basah. Kami pun menghampiri penjual lumpia basah di depan Ngesti. Si abang sedang sibuk melayani pembelinya yang sudah lebih dulu memesan. Saat giliran pesananku siap diolah, sempat aku mengintip isi lumpianya.

Dalam baskom nampak isi lumpia yang terdiri dari bengkoang yang sudah direbus dan ditumis. Ditambah dengan potongan tahu kuning berbentuk dadu. Sedangkan togenya disimpan terpisah di laci gerobak. Bumbu lumpia basah hanya bawang putih dan bawang merah yang diulek.

Uniknya, cara memasak lumpia basah ini berbeda dengan lumpia goreng. Kompornya adalah tungku dengan arang. “ Kenapa pake tungku arang Bang, ga pake kompor minyak atau gas?” tanyaku pada Anton si penjual lumpia.

“ Kalau pake kompor minyak apalagi kompos gas, pananya terlalu ngentak alias cepet panas, jadi gak merata matangnya,” jawab Anton.

Ya, Anton sudah 15 tahun menjadi penjual lumpia basah di Jl.Suryakencana. Ia tetap masih menggunakan kompor arang. Alat untuk mengaduk isi lumpia pun bukan sodet atau sutil yang biasa dipake di dapur. Tapi, hanya dua lempeng stainles saja seukuran telapak tangan.

“Kagok kalau pake sodet mah, kalo pake ini kan gampang,” jelas Anton lagi sambil terus mengaduk sayuran isi lumpia.

Anton menjual lumpia dari jam 10 pagi hingga 5 sore. Terkadang, dagangannya tidak habis. Makanya dia tak ingin anak-anaknya berprofesi menjadi penjual lumpia. Karena terlalu banyak energi yang terkuras. Belum lagi, sisa isi lumpia tidak bisa disimpan dan bertahan sampai esok hari.

“Kalau bisa mah jangan ada yang jualan lumpialah anak-anak saya. Selain capek juga sisanya gak bisa dipake lagi. Beda kalu jualan soto mie. Kalau sayuran tidak habis, mie tidak habis masih bisa buat besok. “ Cerita Anton yang mewarisi usaha lumpia basah dari neneknya.

Ya, pria berusia 41 tahun  ini setiap harinya harus bangun sejak jam empat pagi. Setelah itu dia membuat adonan kulit lumpianya sendiri. Tuntas membuat kulit lumpia, dia harus memotong bengkoang, merebus dan menumisnya. Hingga pukul delapan pagi pekerjaan itu baru selesai. Pada jam 10 pagi, dia pun mangkal di depan Ngesti di Jalan Suryakencana untuk melayani pelanggannya.

Ada tiga orang penjual lumpia basah Bogor. Selain Anton di Jalan Suryakencana, ada saudaranya yang berjualan di Gang Aut dan Sukasari dekat asinan Gedong Dalem. Menurutnya menjual lumpia basah di tempat lain, tidak sebagus di daerah pecinannya Bogor ini.

3 thoughts on “Lumpia Basah Khas Bogor

  1. Download File 5 Kb apa gak pusing
    klau bole minta saranya🙂
    dan semoga datang hari yang indah untuk anda
    dari penggemarmu dari jauh🙂

  2. terima kasih…tapi file apa yang 5 Kb mas🙂 aku mah gaptek, yang ngerjain ini itu di komputer tuh suami…he…he…TKs

  3. Kalau boleh tahu ,minta tolong resep lumpia basahnya dong (bisa tolong tanyakan ke penjualnya?),karena saya ada di luar negeri dan saya kangen berat Lumpia basah.
    Thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s