Hari-hari Di Kelas Narasi ETF

Genap satu minggu sudah perjalanan di kelas Jurnalisme Sastrawi ETFdsc01897 berakhir. Tapi, bayangannya belum bisa lepas dari ingatan. Apalagi bayangan Nelson tertawa ngakak saat tukeran kado. Nelson mendapat kaca pembesar dan dia pun memperagakan dengan gaya kocaknya. Lucu…. Betul-betul lucu melihat tawanya.

Selain tawa Nelson yang berkesan di kelas ETF adalah saat saweran untuk angpao Lewi. Sayangnya, kami tak sempat hadir di pesta pernikahannya. Niat untuk membeli kado pun tak kesampaian. Akhirnya, atas inisiatif Rina, kami saweran uang saja. Seikhlasnya.

Lagi-lagi Nelson dengan santainya mengeluarkan uang dari sakunya. Dan membeberkan uang ribuannya diberikan pada Rina. Disusul yang lain nyumbang ke tempat pensilnya Rina.

Rina pun menerima pemberian teman-teman dan merapihkan uang saweran di pojokan ruang kelas. Tiap lembar uang yang Ia terima diluruskan, terutama uang seribuan yang lecek-lecek itu. Duh! Tak terlupakan deh!

Itu romantisme di kelas ETF. Dan mengenai kursusnya sendiri betul-betul luar biasa. Mampu mendobrak kebiasaanku dalam menulis yang suka asal-asalan dan banyak ngaconya. Terkadang menyebabkan pertengkaran kecil dengan my lovely Hadi yang mantan jurnalis. Dan berakhir dengan tulisanku yang lebih baik. Paling tidak, menurutku lho!

Aku kagum sama Hadi, karena dia bisa dengan mudah dan mengalir saat menulis. Analogi-analoginya selalu membuatku tercengang. Ya, dalam dunia tulis menulis ada dua orang yang mempengaruhi ku dan tak pernah bisa aku ikuti. Selain Hadi, satunya lagi Wicaksono, Redaktur KORAN TEMPO yang tak lain sahabatnya Hadi juga.

Jadi, terima kasih buat Eka Tjipta Foundation yang telah memberikan jatah kursus Jurnalisme Sastrawi ini untuk saya, yang katanya masih aktif di LSM. Dan untuk Yayasan Pantau, terutama Mba Fiqoh yang menyiapkan logistiknya, dengan sabar menerima komplain peserta mulai dari soal menu makanan sampai AC di kelas.

Mas Andreas, terima kasih. Mendengar pejelasannya selama di kelas serasa dininabobokan. Ya, secara pribadi rasanya terhipnotis mendengar uraiannya.

Untuk Buset, banyak terima kasih karena sudah sabar dan bersusah payah memeriksa tugas-tugas. Menyenangkan mendapat koreksi dari Mas Buset, tanpa harus bertengkar seperti dengan suami saya. He… he….

Lagi-lagi romantisme di kelas ETF. Berkaitan dengan metode kursusnya, pertemuan dua sesi setiap minggu sangat efektif. Apabila dibuat satu sesi setiap minggunya, akan memakan waktu yang panjang. Pelajaran yang diterima belum tentu mengendap di otak, yang ada bisa lupa [seperti saya] he…he…

Jadi, dua sesi sangat tepat. Dan peserta mempunya waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Dilaksanakan dari jam 10 pagi – 3 sore, waktu yang pas. Tidak dibebani pekerjaan kantor, jadi tidak ada alasan capek atau lelah. Otaknya masih segar jadi bisa dicekokin dengan materi-materi kursus. Kalau tidak ada yang mengerjakan tugas, itu karena malas he…he….

Sekali lagi, terima kasih untuk ETF, Yayasan Pantau, Mas Andreas, Buset dan Mba Fiqoh juga teman-teman yang telah mengisi salah satu kamar di hati saya. Terima kasih untuk tawa yang membahana, senyum yang manis dan komentar-komentar positifnya. I MISS U ALL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s