Samuel Mulia: Jadilah Dirimu Sendiri

Lagi-lagi dalam kursus Jurnalisme Sastrawi mendapat dsc01878_smpelajaran yang berharga. Dalam pertemuan terakhir, Sabtu 13 Desember lalu, di lantai 29, Plaza BII 2 kami kedatangan Samuel Mulia, penulis Parodi di Harian Kompas.

Walaupun suhu ruangan masih terasa hangat, sebagian teman sudah mulai kepanasan. Bahkan dahi Charles sudah berkeringat, kami pun duduk manis di ruangan. Samuel menduduki kursi pembicara, kelihatan tenang dan tak kepanasan seperti kami.

Takjub! Sejak dipersilahkan bicara, Samuel terus berbicara tanpa henti seperti petasan cabe rawit, kecuali peserta mengacungkan tangan untuk bertanya. Lelaki flamboyan ini awalnya kuliah di fakusltas kedokteran, hanya sampai di tahun ketiga dia langsung berhenti dan menekuni dunia mode. Dan pernah menjadi pemenang dalam Lomba Perancang Mode yang diadakan oleh Majalah Femina.

Menurutnya, memang sejak remaja dia kurang tertarik dengan hal yang berbau “lelaki.” Saat ayahnya mengajari dia untuk mengganti oli mobil, dia lebih tertarik bermain dengan alat make up. Ya, dengan jujur Samuel menceritakan keberadaan dirinya sebagai homo seksual. Tidak ada yang ditutupi. Bahkan tentang kepiwaiannya dalam menulis pun dia ungkapkan sebagai kebodohan dia semata.

Dia mengatakan dirinya bodoh, karena dia tidak suka membaca Capote. Tidak suka dengan tulisanya Gunawan Mohammad. Tapi dia suka dengan karya-karyanya Romo Mangun, seperti Burung-burung Manyar dan juga karyanya Ahmad Tohari. Bahkan dia bilang, saking bodohnya, dia tidak bisa menulis dalam bahasa Inggris.

Samuel menulis apa adanya. Biasanya dia menulis dari hasil mengamati orang-orang disekelilingnya, seperti dalam Parodi Di Dadaku Ada Kumismu yang terbit 14 Desember kemarin. Semua penulis itu punya ciri khas masing-masing. Dan penulis harus mencerminkan keperibadiannya sendiri.

“Saya tidak suka menulis dengan bahasa yang susah. Seperti kenapa harus ditulis marginal? Atau menulis, saya pergi ke kota Kiprit..kedengaran seperti di luar negeri, di Rusia, padahal adanya di Bojong, misalnya. Jadi tiap orang itu punya ciri khas dalam menulis,” Dia terus nyerocos tentang tulisan-tulisannya. Dia pun tak suka apabila diminta untuk mengomentari tulisan orang lain.

“Jadi menulislah apa yang ada dipikiranmu. Jangan takut salah dan dikritik. Dan jangan pernah menulis karena dendam atau ingin menyakiti orang lain,” Menegaskan tentang dirinya dahulu, yang sering menulis karena perasaan frustasi, kecewa dan sakit hati. Bahkan sempat menjauhi dan memusuhi Tuhan.

Tapi, itu semua berlalu. Sejak tiga tahun ini dan terkena gagal ginjal bahkan harus transplantasi, Samuel mulai kembali ke pelukan Tuhan dan sering berkotbah di gereja-gereja. Dia sudah meninggalkan dunianya yang kelabu.

Saat ditanyakan apakah dia tidak ingin menulis yang berkaitan dengan dunia homo sexual.

“Saya ingin menulis tentang itu, tapi untuk para orangtua. Biar bagaimanapun, itu semua dimulai dari keluarga. Seperti saya dan ayah saya lakukan. Family value sangat penting!” tegas Samuel menutup diskusi hari itu. [irma dana]

2 thoughts on “Samuel Mulia: Jadilah Dirimu Sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s