Daoed Joesoef Dan Emak

daoed_halaman2Ternyata, untuk mendapatkan sebuah pengalaman istimewa itu, tidak harus kita juga yang menjadi pelakunya. Paling tidak, itu yang aku rasakan saat bertemu dengan Daoed Joesoef, Menteri Pendidikan era Soeharto itu.

Pertemuan yang terjadi di kediamannya yang nyaris penuh dengan pepohonan buah itulah, Pak Daoed berbagi ilmu tentang menulis kepada para peserta Kursus Jurnalisme Sastrawi. Sayang pertemuan yang berharga itu hanya berlangsung dua jam. Jadilah kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Pantau dan Eka Tjipta Foundation, tidak menerima kata terlambat datang.

Di usianya yang ke 82 tahun, ia masih terlihat segar. Lelaki berdarah Aceh dan Medan ini ditemani istrinya, Sri Soelastri alias Bu Soel asli Yogyakarta. Tak segan dia memanggil Bu Soel dengan sebutan kekasih di depan peserta kursus. Senyuman pun menghiasi bibir Bo Soel saat diperkenalkan pada kami. Masih romantis! Sosoknya yang lembut mampu mengimbangi lelaki dari seberang pulau Jawa yang pemberani.

Pak Daoed menjabarkan “Mengapa kita menulis”? Ada enam hal yang dia ungkapkan. Pertama saat menulis kita menyadari kekurangan kita sendiri. Kedua, menulis harus sesuai dengan pengertian budaya.

“Ketiga, dengan menulis kita mengembangkan satu tradisi. Keempat, menulis juga memperkuat kemanusiaan ‘to strengthen humanity’. Kelima dengan menulis mengaktifkan pikiran kita dan dialamatkan kepada pikiran orang lain,” tutur dia. “Terakhir, dengan menulis membentuk pola pikir”.

Banyak hal yang bisa dipetik dari paparannya. Very inspiring! Apalagi saat berbagi cerita tentang bukunya yang berjudul “Emak” nampak semangat. Tak heran bukunya bercerita tentang masa lalu dengan sang Ibu yang dipanggil Emak. Si Emaklah yang memberinya semangat untuk terus belajar.

Dan Emak pula yang selalu mengingatkannya agar tak lupa mencatat hal-hal penting yang pernah didengar Daoed kecil. Apalagi saat Soelaeman, pamannya, menceritakan kegiatan pergerakan melawan penjajahan Belanda. Maka jadilah buku Emak merupakan memoarnya yang pertama.

Pak Daoed seseorang yang tidak bertele-tele. Misalnya saat aku menanyakan proses penulisan buku Emak. Ia menjawab dengan gamblang.

Saat kecil, Emak jugalah yang mendorongnya untuk menulis dan banyak membaca. Ia pun jadi terbiasa menulis di buku harian. Menyiapkan semua keperluan sekolahnya di malam hari.

Kebiasaan itu pula yang membantunya dalam menulis buku Emak. “Emak tak segan menambahkan uang jajan supaya saya bisa membeli atau meminjam buku,” kenangnya.

Emak yang buta huruf latin pun akan meminta Daoed kecil untuk membacakan kembali buku yang ia pinjam. Mungkin ini dalih Emak untuk memastikan, apa betul Daoed sudah membaca bukunya. Daoed pun akan membacakan kembali cerita yang sudah dibacanya pada Emak dan teman-temannya di kampung. Di bawah sinar rembulan, beralaskan tikar tepat di halaman rumahnya mereka berkumpul. Kadang beberapa orangtua ikut mendengarkan.

Waktu itu saya satu-satunya anak di kampung yang bersekolah di sekolah Belanda. Jadi bisa membaca buku berbahasa Belanda,” cerita Pak Daoed. “Bahan cerita saya semakin banyak. Bapak saya, yang jarang sekali tersenyum pernah tertawa terbahak–bahak mendengar cerita gelandangan dan walikota yang bertukar peran dalam sehari.

Selain menulis, ia juga pandai melukis. Seperti diceritakan dalam buku Emak, mulanya ia hanya diminta melukis wajah orang meninggal yang tidak punya foto. Sejak itulah dia sering mendapat pesanan melukis wajah orang meninggal. Karir melukisnya pun berlanjut menjadi pelukis sampul untuk novel. Tak heran, beberapa gambar yang ada di dalam buku Emak adalah hasil karyanya.

Kekagumanku pada lelaki yang mengantongi dua gelar doktor di bidang ekonomi dan filsafat dari Universitas Sorbonne ini, tak sebatas pada kepintarannya dalam menorehkan kata-kata atau keberaniannya saat menjadi Menteri Pendidikan.

Toleransi beragamanya patut diacungi jempol. Jarang kita menemukan orang seumur dia masih memiliki pikiran terbuka dalam menjalankan kebebasan ibadah di negeri ini.

Misalnya, beberapa kali ia menyelipkan ayat-ayat Al-quran untuk menegaskan apa yang terjadi di muka bumi ini, adalah kehendak Yang Maha Kuasa. “Setiap orang itu boleh berbeda dalam menjalankan ibadahnya. Kalau salah dalam menjalankannya, bukan manusia yang berhak menghukumnya. Tapi Tuhan-lah yang punya kuasa,” tegasnya.

“Kenapa orang harus dilempari bom molotov saat menjalankan ibadah. Dirusak tempat ibadahnya. Biar saja Tuhan yang menghukum kesalahan orang itu. Bukan kita,” jelas kakek dari dua orang cucu ini.

Tak heran saat ia menjabat Menteri Pendidikan, Ia pun dianggap sekuler karena pemikirannya yang berbeda tentang keragaman dalam beragama.

Suami yang sangat mengagumi istrinya ini rupanya juga senang bergurau. Tak segan dia menceritakan ihwal adanya BH dengan merek Bali. Tak lain karena si pembuatnya terinspirasi dengan jeruk Bali yang besar. Selain kulitnya yang mulus, ternyata di dalamnya nampak irisan-irisan jeruk sangat bagus. Maka terbersitlah untuk membuat BH dengan merek Bali.

“Jadi kalau ada yang pakai BH tersebut, nampak seperti jeruk Bali yang mulus. Padahal di Bali, banyak orang tidak menggunaka BH, ya. Banyak yang betelanjang dada. Lha ini bukan porno, yang porno itu otaknya. Nah! Di Bali itu ada toko BH merk Bali itu,” gurauannya membuat kami tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

Sayangnya pertemuan yang begitu menarik ini harus berakhir. Dengan berat hati kami beranjak dari kursi dan meninggalkan kediamannya yang asri, di Jl. Bangka VII Dalam, No 15 Jakarta.

Maka jadilah Sabtu, 15 November kemarin, menjadi pengalaman berharga buat aku dan teman-teman. Inspirasitif!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s