Suara Kodok Menemaniku Tidur di Samboja Lodge

Menanambelalangsembah.jpganggrek-di-persemaian.jpg

Samboja lodge, tempat yang jauh dari keramaian kota itu, ada suasana yang hampir tak pernah saya rasakan di tempat tinggal saya di Kota Bogor, apalagi di Jakarta. Suara kodok bersahut-sahutan di sekeliling Samboja Lodge sejak sekitar pukul 16.00 Wita. Ketika hari semakin gelap dan malam menjelang, suara kodok semakin nyaring. Sampai menjelang pagi, suara kodok masih terus terdengar.

Matahari menebarkan sinarnya di kawasan Samboja Lodge. Pagi itu saya mengikuti program “Save Our Nature” selama tiga jam. Program ini diperuntukkan bagi masyarakat umum dengan biaya Rp 600-700 ribu per orang pada Senin sampai Jumat. Khusus untuk Sabtu dan Minggu, biayanya Rp 600 ribu per orang. Peserta berusia di bawah lima tahun tidak dipungut biaya. Peserta berumur 6-12 tahun diberi potongan harga 50 persen. Khusus untuk tamu yang menginap di Samboja Lodge, peserta program dikenai biaya US$ 20 (sekitar Rp 187 ribu) per orang.

Jam di tangan saya menunjukkan pukul 07.00 Wita. Bersama tamu pondok lainnya, kami berangkat dengan bus kecil. Kami diajak ke tempat penanaman pohon di kawasan Samboja Lestari. Di sana sudah tersedia cangkul dan bibit pohon, yakni durian, lai, dan pohon buah yang lain untuk ditanam oleh peserta program.

Selesai menanam, seharusnya kami mampir ke kebun organik. Sayang, sayuran baru selesai dipanen, jadi tidak ada yang bisa kami petik.

Perjalanan pun dilanjutkan ke persemaian bibit tanaman buah dan bunga. Tempat yang paling menarik, menurut saya. Di sana ada sekitar 750 jenis bibit tanaman kayu, tanaman buah, tanaman hias, tanaman obat, serta anggrek hasil eksplorasi di berbagai tempat di wilayah Kalimantan dan telah disemai dan dibudidayakan di persemaian Samboja Lestari.

Selain itu, di area pembibitan ada dua ekor ular–yang ditemukan dan diserahkan oleh masyarakat setempat. Untuk sementara, kedua ekor ular tersebut, yaitu king cobra dan piton, terpaksa tinggal di area pembibitan karena belum ada tempat yang cocok untuk melepaskannya kembali.

Tak jauh dari area pembibitan terdapat tempat kerajinan ukiran lokal dari limbah kayu, yang dikerjakan oleh masyarakat setempat, yang sudah mendapat pelatihan pembuatan kerajinan dari Samboja Lestari. Ada kursi goyang, tempat tisu, tempat kartu nama, dan hiasan dinding. Ada motif orangutan dan Dayak.

Rasanya belum puas dua hari menikmati keindahan dan keasyikan mengikuti program “Save Our Nature” mengelilingi Samboja Lestari. Soalnya, saya belum sempat mengamati satwa malam dan burung. Suatu saat saya akan kembali, sekalian melihat pohon yang saya tanam di sana.

Dari catatan perjalanan september 2007 lalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s