Menu Lebarannya Kurang Maknyuuuuus!

Ini lebaran tahun kelima tidak merasakan masakan ibu. Sejak dia meninggal tahun 2002 lalu, terasa ada yang kurang kalau lebaran. Biasanya, secara bergilirian aku dan adikku memasak semur atau pun rendang ala resep Ibu, tapi rasanya tetep saja berbeda.

Ceritanya, lebaran kali ini, kami tidak pulang ke rumah Apa di Leuwiliang saat malam takbiran, tapi pulang pas hari lebaran. Alasannya, biar enak aja, gak mau repot masak, ingin mencoba masakan istri Apa [alias ibu baru kami yang dinikahi Apa sejak tahun 2004 lalu]. Selain itu, aku dan adik-adikku berlebaran pada hari Jumat, mengikuti Muhammadiyah, jadi supaya tidak menyinggung perasaan Apa, maka kami pun datangnya tepat hari Sabtu.

Sesampainya di rumah Apa, rumah nampak sepi. Lho? Pada kemana ya? Apa dan Riki [adik laki-laki yang paling kecil] tidak ada di rumah. Rupanya, Apa masih di rumah istrinya, dan Riki sedang main di ke rumah temannya. Untungnya aku pegang kunci serep.

Begitu masuk ke rumah, nampak tumpukan makanan di atas meja. Ada rendang ayam, sambel kentang ati dan semur daging [semuanya kurang menarik], maaf ya! Langkahku dilanjutkan menuju dapur, ada kantong plastik hitam, begitu dibuka ternyata ketupat, begitu ku pegang, keras! [maaf lagi ya].

Sambil males-malesan, aku pun merapihkan makanan tersebut di atas meja. Rasanya kok aneh ya. Tapi sudahlah, mau gimana lagi? Soalnya istri Apa bukan ibu rumah tangga yang memang senang mengurusi keluarga, dia itu punya toko baju. Jadi, kalau malam takbiran pasti jualan sampe larut malem [jam 1 dinihari]. Gak mungkin kalau dia bisa masak seperti Ibuku…dimana menjelang lebaran, dari siang sudah sibuk membersihkan bahan makanan dan sayuran. Kami pun ikut membantunya di dapur.

Sudahlah! Aku pun sadar, memang Ibu kami tidak ada duanya, tidak ada penggantinya. Ibuku adalah Ibuku…tidak bisa digantikan, sekalipun masakannya. Walhasil, yang makan masakkan lebaran, paling keponakan saja, namanya anak kecil, gak punya pilihan…untung aku bawa empal yang dipesan dari temanku…jadi tetep bisa makan dengan enak. Maaf ya bu…bukannya kami tidak bersyukur, tapi memang masakkannya kurang cocok dengan kami. Mudah-mudahan tahun depan, kami bisa menikmati hidangan lebaran yang pas dilidah, tak harus mewah kok…cukup ketupat dan semur yang kecapnya terasa dilidah….Maknyuuuus! [istilah Oom Bondan] he…he…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s