Eloknya Si Plirik van Java

Oleh : Irma Susilawati Dana | 31-Aug-2010, 13:49:49 WIB

KabarIndonesia – Sapari muncul dari samping rumahnya. Dia terkaget-kaget melihat Agus Satriyono, satu temannya yang pernah bareng melakukan penandaan burung pantai di sungai Cemara, Jambi. Ekspedisi mereka saat itu hendak menilik kembali burung-burung yang sudah ditandai, mengetahui jalur terbang dan distribusi serta melihat populasi.

Agus kini bertugas di desa Nguter, kecamatan Pasirian. Sapari menetap di desa Selok Awar-Awar, 35 menit dari kecamatan Pasirian. Desa ini dikenal karena kawasan wisata pantai, bernama Watuk Pecak, sebelah timur pantai Bambang. Ia berjarak sekitar 18 kilometer dari selatan kota Lumajang, Jawa Timur. Logat penduduknya kebanyakan Jawa Madura-an.

”Weh… Jes, ada apa ini?,” Sapari langsung menyapa Agus dengan teguran akrabnya.

”Sapari, masih inget aku nggak, kamu kaget ya aku bisa sampai di Selok Awar?,”  wajah Sapari bingung ketika melihat saya, yang datang dari Bogor, berdiri di depan rumahnya. Sapari nyengir-nyengir tak karuan dan salah tingkah. Penampilannya masih sama sejak kami bertemu terakhir pada 2007. Badan kurus. Rambut gondrong dan kusut. Celana jins digulung hingga lutut. Kulitnya yang hitam terbungkus kaos hitam.

”Wadoh! Ayo masuk, rumahnya jelek begini…. Ayo-ayo, Jes”. Dia mempersilakan kami. Ada tikar plastik merah terhampar di dalam rumah. Selain saya dan Agus, ada Hurbertus Buntoro Ajie, kolega Agus yang sama-sama lulusan studi biologi di Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya.

Rumah Sapari berada di balik pepohonan kesambi. Pohon ini dikenal sebagai bahan baku pelitur. Daun-daun kesambi yang kuning kecoklatan berserakan di atas tanah. Rumahnya terpencil di antara permukiman warga desa Selok. Kami mencari Sapari untuk memandu melacak jejak Trulek jawa.

Pada 28 Juni 2005, ada tim ekspedisi Trulek Jawa menyusuri pantai Lumajang. Mereka gabungan para pengamat burung dari Bogor, Jakarta dan Surabaya. Mereka penasaran akan sebuah kabar temuan burung ini di sekitar pesisir pantai Jawa Timur.

Sapari satu-satunya warga lokal yang ikut serta dalam tim tersebut.
Nama latin Trulek Jawa adalah Vanellus macropterus. Burung ini endemik di pulau Jawa. Terakhir kali tercata pada 1940 —yang artinya belum terlihat lagi selama 70 tahun! Dalam daftar International Union for Conservation of Nature (IUCN), Trulek Jawa masuk kategori kritis. Ia dilindungi secara legal oleh negara, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan pada 1978 dan peraturan pemerintah pada 1999.

Trulek Jawa salah satu burung perancah yang hidup di Sunda Besar dari 16 jenis yang tersebar. Ia bersuku Charadriidae. Ia memiliki paruh lurus. Ujung paruhnya tebal dan keras. Ukurannya sekira 28 sentimeter dengan warna dominan hitam. Warna punggung dan dada coklat keabu-abuan. Kepalanya hitam.

Perutnya juga hitam. Ia memiliki tungging berwarna putih. Saat terbang, bulu-bulu sayapnya terlihat hitam. Ekornya putih dengan garis subterminal hitam lebar. Ada taji hitam pada bagian lengkung sayap.

Dalam buku John MacKinnon, A Field Guide to the Birds of Borneo, Sumatra, Java, and Bali: The Greater Sunda Islands, suara Tulek Jawa tak diketahui seperti apa bunyinya. Namun burung ini mempunyai kebiasaan hidup berpasangan di padang rumput terbuka sepanjang pantai utara Jawa Barat dan pantai selatan Jawa Timur.

Menurut catatan spesimen Museum Zoologi Bogor, Trulek Jawa pernah tercatat di tiga daerah: Redjotangen di Jawa Timur dan Tomang serta Buitenzorg (Bogor) di Jawa Barat. Namun dari penelitian Bartels, antara 1915 dan 1931, Trulek Jawa tercatat di dua lokasi: sekitar Muara Sedari (anak sungai delta Citarum di rawa Tangerang) dan sebelah timur pesisir selatan. Bartels juga mendeskripsikan lokasi-lokasi Trulek Jawa yang bisa dijumpai di padang luas, rawa-rawa dan delta-delta sungai. Kontur daerah ini biasa tergenang air saat musim penghujan.

Di Delta Citarum, Trulek Jawa sering mendiami padang rumput lembab, dikelilingi rawa-rawa dalam semak-semak, serta vegetasi air. Di rawa Tangerang, ia ditemukan terutama di lokasi penggembalaan kerbau. Ia juga dapat diketahui di beberapa lokasi di rawa-rawa, gundukkan tanah atau sejumput semak.
Statusnya yang terancam membuat banyak penelitian untuk mengetahui populasinya.

Pada Juli-Oktober 1984, tim survei burung air mengunjungi berbagai lokasi di Pulau Jawa. Survei serupa dilakukan pada 2000 di pesisir tenggara Lumajang Selatan. Survei berikutnya oleh Yayasan Pribumi Alam Lestari, bekerjasama BirdLife International Indonesia Programme, pada 2001 dan 2002. Lantas ada survei dari Biodiversity Conservation Indonesia setahun berikutnya. Terakhir, survei sukarela para pengamat burung pada 2005 dan 2006 di mana Sapari terlibat di dalamnya.

Penduduk sekitar Lumajang Selatan menyebut Trulek Jawa dengan plirik atau truwok, merujuk dari bunyinya. Mereka juga menandakan burung ini memiliki taji pada sayap, yang dipakai guna menyerang musuh. Gambaran yang khas adalah gelambir kuning, nangkring secara elok di atas paruh.

Namun hingga kini habitat Trulek Jawa belum semua disurvei ulang. Masih ada laporan-laporan keberadaan jenis burung ini, sehingga sebetulnya belum dapat dipastikan bahwa Trulek Jawa adalah “jenis burung yang telah punah.”

Menurut Sapari, setiap tahun daratan terus bertambah di sepanjang pantai Lumajang. Material pasir dari Semeru, gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa, terletak sebelah selatan dari Lumajang, membuat pantai tertutup daratan. ”Kalau ndak ada Semeru, lautnya mungkin tetep di situ, kaya’ kemarin,” katanya, sambil mengarahkan telunjuk ke areal persawahan, persis di dekat rumahnya.

Sapari juga mulai kehilangan riuh suara burung di sekitar rumah. Burung Bentet kelabu sudah jarang terlihat. Dulu puluhan ekor burung manyar menghabiskan padi di sawah. Kini tak terdengar kicaunya. Juga burung Cinenen Jawa dan Srigunting hitam turut menghilang. Cinenen Jawa lebih sering dijumpai di pinggir hutan tumbuhan sekunder bahkan rumpun bambu. Kadang burung ini beraktivitas di semak dan puncuk pohon sambil mengeluarkan suara khasnya berupa bunyi monoton yang berulang. Burung ini umumnya dijumpai di ketinggian 1.500 meter di Jawa dan Bali.
Kemana perginya burung-burung ini?

Sapari cerita, suatu kali dia melihat warga setempat menangkap 20 ekor burung. Bentet kelabu dan Prenjak sering jadi primadona tangkapan penduduk. Perburuan tradisional inilah salah satu penyebab menyusutnya beberapa jenis burung di sepanjang rawa Watuk Pecak dan dusun Meleman.

Hari pertama di desa Selok Awar-Awar, kami dipandu Sapari menyusuri sawah-sawah. Awan mendung. Gerimis kecil. Jalan dipenuhi genangan air hujan. Kondisi ini menghalangi pengamatan burung. Kami menyampirkan teropong untuk membantu pengamatan burung. Suasana mendung hanya bagus untuk jalan-jalan.

Namun, tiba-tiba Agus Satriyono berteriak sambil mengarahkan teropong, ”Eh ada burung mandi!” Jaraknya sekira 200 meter dari tempat kami berdiri ke arah pesisir pantai. Hamparan pasir hitam menutupi jalan menuju pantai. Pasir-pasir ini dari gunung Semeru, terbawa arus sungai Pejali dan sungai Mujur, mengalir ke rawa Watuk Pecak.

Penduduk setempat menambang pasir sungai, dikumpulkan dalam karung-karung goni, untuk kemudian dijual.
Angin bertiup makin kencang. Tulang-tulangku ngilu. Badan menggigil. Dari kejauhan terdengar deburan ombak. Begitu sampai rawa Watuk Pecak, terlihat dua orang laki-laki tengah berendam sambil mengambil pasir guna menimbun rawa.

”Udah ada pemiliknya ini, sudah ada yang ancer-ancer…” Telunjuk Sapari mengarah ke sawah-sawah yang dulu bekas rawa.


Lima tahun setelah ekspedisi Trulek Jawa Lumajang Selatan, kondisi rawa berubah drastis menjadi daratan. Iwan Londo, yang memimpin tim, pernah menginap satu hari di muara sungai Mujur. Tim lantas menuju arah timur ke rawa Tunggak, selama lima hari. Sapari cerita, pada 1990-an, di tempatnya kini berdiri adalah rawa-rawa. Sekarang daratan rata berpasir. Bahkan mobil bergardan dua sudah bisa masuk ke lokasi rawa.

Sewaktu kecil, dia biasa menangkap ikan-ikan. ”Sekarang umur saya sudah kepala dua… ndak ada,” katanya, setengah terkekeh. Selagi menikmati lanskap alam di areal rawa Watuk Pecak yang tersisa, di suatu tempat di kejauhan, seekor biawak berenang di tengah rawa!

Sapari bercerita meloncat-loncat. ”Sekarang sering lihat burung yang paruhnya merah, badannya item. Apa Jes, iku loh…sing paruhnya merah, sing gede loh… apa sih?”

”Mandar? Iku banyak di sini. Bukan paruhnya yang merah, iku pangkal paruhnya.” Agus Satriyono meralat penjelasan Sapari. Saya sempat bingung dengan deskripsi burung yang disebut Sapari. Saya membuka-buka buku panduan karya John MacKinnon, yang sengaja dibawa, demi memudahkan mengidentifikasi burung saat melakukan pengamatan.

”Burung itu loh, Jes…, manuk opo jenenge? Aku lali, Jes!” Sapari kembali mengingat nama burung, yang sering lupa namanya dan… lebih sering salah gambarannya. Setelah bolak-balik mengingat, Agus meralatnya dan yang dimaksud Sapari adalah burung Bentet kelabu.

Bentet kelabu adalah burung berwarna hitam, coklat dan putih. Ia berekor panjang. Ukurannya 25 sentimeter. Burung ini sering terlihat di perkebunan teh, padang rumput, perkebunan cengkeh dan daerah terbuka. Biasanya ia duduk di tenggeran rendah. Dan, dari matanya yang awas, ia bisa mendadak menyambar serangga yang terbang. Tapi ia lebih sering menyambar belalang dan kumbang di atas tanah.

Ia jenis burung yang banyak diperdagangkan. Orang-orang suka dengan bunyinya yang menciut parau, “terrr… terrr… to-wit”—yang nyaring dan serak. Kicauannya yang merdu sering ditiru jenis burung lain. Jika Anda perhatikan, situs media sosial twitter, tak lain dan tak bukan, mengambil gambaran dari burung bentet. Inilah fakta yang terang bagaimana kicauan si bentet menghipnotis komunikasi modern.

Sapari mengingat pertemuannya dengan Pupung Nurwatha dari Yayasan Pribumi Alam Lestari, satu lembaga nirlaba dari Bandung. Pupung mampir ke rumah Sapari untuk mencari informasi tentang Trulek Jawa. Dia mengikuti Pupung menelusuri areal Watuk Pecak hingga desa Bades, 24 kilometer dari desa Selok Awar-awar. Pupung menyadarkan kelakuan Sapari yang suka menangkap burung sejak anak-anak.

Dia mengingat ucapan Pupung bahwa Trulek Jawa hampir punah. ”Masak sih hampir punah,” katanya, dalam hati. ”Aku kepengen juga nyari, kalau punah gimana?” Sapari menundukkan kepala, malu-malu.

Hari pertama mendatangi Watuk Pecak, gerimis masih turun selagi kami berjalan kembali menuju rumah Sapari. Esoknya, mendung masih juga menggantung diiringi hujan deras. Kami menyewa mobil bak terbuka plus sopir. Tujuannya rawa Mujur, melintasi jalur selatan rute Malang–Banyuwangi. Suasana sepi. Sebagian jalan belum beraspal.

Selagi melintasi jalan berangkal tanah, melewati sawah-sawah dan kebun tembakau, terlihat ada burung Blekok sawah terbang di atas kebun cabai rawit yang terendam air hujan. Hujan terus mengguyur. Saya duduk di samping supir. Sapari, Agus Satriyono dan Hurbertus Buntoro Ajie basah kuyup di badan belakang mobil. Namun pandangan saya tetap menyapu ke segala penjuru.

Tak sia-sia, begitu menengok ke kanan, dari kejauhan terlihat burung di tengah-tengah sawah. Itu tampak seperti bangau. Saya hanya melihat kepala botak si burung. Saya tak yakin jenisnya.
”Agus, itu burung bangau ya? Bangau tongtong bukan?” Saya mulai menebak-nebak. ”Ya, Mbak, itu Bangau tongtong. Mau turun dulu nggak?” tanya Agus, menawarkan.

Namun hujan tambah deras. Saya bilang, terus saja jalan, mencari tempat teduh. Saya menekan keinginan untuk mengamati perilaku lima ekor bangau tongtong itu.

Menurut John MacKinnon, Bangau tongtong termasuk jenis burung dengan kategori rentan. Habitatnya banyak ditemukan di sawah, padang rumput terbuka, lumpur yang gosong dan hutan pantai. Saya terakhir kali melihat Bangau tongtong saat melakukan pencarian di Segara Anakan, Cilacap. Saat itu saya pergi bersama Sahabat Burung Indonesia, simpatisan BirdLife Indonesia, organisasi pelestari dan habitat burung yang berbasis di Bogor.

Burung ini dikenal sebagai si penerbang kuat dan pelayang tangkas. Seringnya ramai-ramai, seperti sekumpulan pawai, Burung tongtong terbang dengan mengikuti aliran udara panas. Mereka terbang tinggi berputar. Gelembung udara panas dipakai semacam bahan bakar mereka guna memudahkan dalam mencari tempat makan. Burung ini berwarna campuran hitam dan putih. Paruhnya besar. Warna hitam menyapu bagian sayap, punggung dan ekor. Tubuh bagian bawah dan kalung leher berwarna putih. Kepalanya botak. Mereka biasanya diam. Mereka hanya berdesis di sarang. Atau bunyinya muncul dari kepakan sayap dan suara paruh yang parau.

Mobil berhenti di dekat gubug petani. Itu sudah terlalu jauh dari tempat lima sekawan burung tongtong. Kami lantas berjalan melintasi muara sungai Mujur di sebelah barat rawa Watuk Pecak. Pasir hitam menutupi sebagian lahan pertanian.

Sapari kembali menjadi penuntun. Dia mengarahkan telunjuknya, ke arah lokasi rawa Mujur sebenarnya, hampir dua kilometer dari tempat kami berdiri. Pada 2000, banjir melanda muara sungai Mujur. Kini sebagian muaranya mengalami pendangkalan hingga menjadi daratan. Kondisi ini telah mendorong habitat Trulek Jawa terkikis. Pada 2005, saat Sapari mengikuti ekspedisi bersama Iwan Londo, rawa Mujur masih tersisa sedikit. Kondisinya kian menyusut, dari tahun ke tahun, menyisakan daratan yang ditanami padi, tembakau, cabai dan jagung.

”Ayo Jes… ngono Jes… ke rawa Tunggak,” Sapari membuyarkan lamunan saya di tengah hujan yang mengguyur deras. Angin bertiup makin kencang. Namun kami lebih memilih kembali ke gubug petani. Kami enggan bertaruh dengan hujan, yang bisa merusak peralatan pengamatan burung. Ada kerbau-kerbau berendam di tengah genangan air. Nafas kami terengah-engah selagi melawan angin campur hujan lebat.

Saat kami memandangi muara Sungai Mujur, dari kejauhan tampak seorang lelaki bercaping, menyeberangi muara, diguyur hujan. Saya lantas mencegatnya. Saya memperlihatkan buku panduan.
”Pernah lihat, ini burung segoro itu… ya putih, gede ya…burung segoro ya?” Dia menunjuk salah satu gambar, tapi yang ditunjuk bukan gambar nomor 170, notabene Trulek Jawa, melainkan gambar nomor 169. Ini lebih mirip burung-burung laut yang sering dilihat sehari-hari oleh penduduk setempat.

Di bawah guyuran hujan, jari-jari saya mulai keriput. Apalagi jari kaki, mulai hitam terselipi pasir dan lumpur sawah. Jijik sekali! Di gubuk, kami melewati setengah hari sambil menikmati kacang kulit. Saya terus mencoba mengarahkan teropong ke tengah sawah. Menyapu hamparan terong di antara gumpalan eceng gondok dan ngarai jagung. Namun tak ada tanda-tanda atau cerita dari satu orang pun yang pernah melihat trulek jawa.

Dusun Meleman

Pada mulanya hutan yang dibelah sebatang sungai. Pada 1965 berdiri tambak udang triwindu. Sebagian hutan menjadi rawa-rawa. Gumuk-gumuk pasir dan ladang tebu terdapat di sebelah timur tambak. Kekayaan habitat di Meleman menyebarkan aneka ragam populasi jenis burung.

Meleman terletak di kecamatan Yosowilangun. Dari kecamatan Pasarian, menggunakan mobil bak terbuka, perlu waktu tempuh sekitar 1,5 jam. Anang Ritarno, kolega saya dari Jember, bersedia menemani saya. Sapari sendiri pernah mendatangi Meleman pada ekspedisi tahun 2005 itu.

Kabarnya, Trulek Jawa pernah terlihat di dusun Meleman. Ia sempat menghebohkan para pengamat burung. Kabar inilah yang membawa tim gabungan dari Jakarta, Bogor dan Surabaya segera melakukan penyisiran. Penemunya adalah Anang Ritarno pada 2005. Sayangnya, dia tak memiliki bukti otentik yang mendokumentasikan hasil pengamatannya. Di satu rumah penduduk Meleman, saya dibawa Anang ke belakang. Di sanalah, di rawa-rawa, dia melihat Trulek Jawa.

Permukiman Meleman gersang. Jalan berpasir hitam dan berdebu. Banyak tanaman kamboja Jepang di halaman rumah. Debu menempel kaki terbungkus kaos sepatu. Di perjalanan menuju rawa, kami menjumpai satu warga yang membuat kandang burung merpati. Dia menyapa Anang Ritarno. Dia cerita, dia sering mencari rumput. Dia juga kerap menangkap burung dengan senapan angin. Segala jenis burung pernah dia tangkap, dari perkutut sampai truwok.

Pada 2004 dia pernah menembak mati seekor burung, yang memiliki embel-embel alias jengger merah, lantas digoreng dan disantap. Dia menyebut nama burung itu sebagai blurik, berwarna agak-agak kuning.

Dalam penggambaran dari seorang penduduk Meleman itu, saya dijelaskan Anang Ritarno bahwa warga setempat sering menyebut trulek Jawa dengan truwok. Ada juga menyebutnya plirik, dikenali dari bunyinya. Memang, presisi bunyi dan warna adalah deskripsi dominan untuk menebak-nebak jenis burung. Variasi nama burung banyak diambil dari warna.

Kami terus melanjutkan perjalanan menuju rawa-rawa. Hamparan pasir berdebu memberatkan kaki-kaki saya melangkah. Kepala cekit-cekit. Namun Anang Ritarno, seperti seorang bocah mengenalkan mainan barunya, bercerita terus tentang kecintaannya pada dunia satwa liar. Katanya, dia mulai mencari-cari Trulek Jawa pertama kali saat sering camping di Nanggelan, Meru Betiri, akhir 1990-an. Nanggelan adalah satu kawasan di pinggir pantai dan sekitar hutan. Ada rawa-rawa dan padang rumput savana —salah satu tempat favorit Trulek Jawa.

”Lihat Trulek itu aneh terbangnya, ngawur. Asal terbang… nabrak pohon. Jatuh. Kejar lagi. Maunya ditangkep waktu itu, mau diambil gambarnya… terbang lagi…” Dia mengingat kembali pertemuan dengan trulek Jawa. Hingga pulang dia gagal menangkap Trulek guna difoto. Dia lantas mencari referensi tentang burung yang dilihatnya. Anang berhasil menemukan sebuah buku sketsa dari temannya di Surabaya.

Hanya sketsa hitam-putih terbitan jaman Hindia Belanda. Sampai akhirnya buku panduan burung karya John MacKinnon terbit. Namun dia menemukan perbedaan warna Trulek Jawa. Dia sempat ragu. Ingatannya pada Trulek Jawa berbeda dengan gambaran burung dalam buku tersebut. Cetakan buku terjemahan MacKinnon ini memang buruk dalam mengimplementasikan warna asli burung.

Anang terus berusaha. Penelusurannya diperluas ke sekitar pesisir Jawa Timur. Sampailah dia ke dusun Meleman, satu daerah yang masih menyimpan rawa-rawa, salah satu habitat si plirik van Java.
Pada 15 Mei 2005, dia menjumpai burung yang dianggap Trulek Jawa. Saat itu dia hendak pergi memancing.

Rawa masih luas. Ada sebuah gubuk dekat rawa tempat dia mancing. Itu pagi hari. Saat dia duduk menongkrong, dia melihat dua ekor burung. Dia tak membawa binokuler, peralatan wajib dalam meneliiti detail burung.

Dia menggambarkan posisinya, ”Pasir, lalu rawa-rawa terus lahan tebu. Juga ada kolam dan aliran sungai-sungai. Kemungkinan si Trulek bergeser-geser. Jadi, lihat burung itu ndak bisa berdiri begini, tapi masuk ke pohon-pohon tebu,” Anang berdiri memperagakan dirinya lima tahun lalu.

Saya mengernyitkan dahi, masih meragukan ceritanya. Bagaimanapun Anang tak membuat catatan serta dokumentasi berupa foto; sesuatu yang maha penting jika Anda pernah menjumpai burung langka.

Menyusuri dusun Meleman, Anang membawa saya pada perkebunan tebu dekat rawa. Ada tambak udang. Ada kolam pemancingan umum. Menjelang sore hari, beberapa motor lalu-lalang melewati jalanan di pinggir tambak. Orang-orang pergi memancing.

”Karakter yang muncul itu biasanya begini: Kareo padi dulu yang muncul, terus…. agak lama, disusul Bubut alang-alang. Ini sepertinya indikasi kalau daerah itu safe. Aman dari gangguan. Entah dari orang lewat atau apapun,” kata Anang sambil terus berjalan.

Menurutnya, saat dia melihat burung yang dianggap Trulek Jawa itu, dia tak sendirian. Dia ditemani para kolega dari Klub Indonesia Hijau, satu lembaga nirlaba dari Bogor. ”Lihat semua, stay ngamatin… Lihat utuh sosoknya. Bisa tanya ke anak-anak itu, mereka lihat sendiri di sana,” sambil telunjuk Anang mengarah ke rawa, tepat di samping tambak udang, yang masih tersisa rumput tipah.

Di dusun ini pula tim ekpedisi yang dikomandani Iwan Londo pernah melihat burung yang misterius. Burung ini berwana coklat muda pada bagian ekor dan tungging. Warna kaki kuning kehijauan. Sayapnya berwarna coklat. Bulunya terlihat lebih halus tapi memiliki bercak. Sayangnya, mereka hanya melihat setengah badan dari burung tersebut, di bagian belakang, sambil berjalan dengan posisi badan membungkuk di antara daun pandan.

Kini, di dusun Meleman, Anang Ritarno menemani saya demi apa yang diburunya sejak 1993. Usianya bertambah sementara jumlah Trulek Jawa makin berkurang dan berada entah di suatu tempat di mana. Kenyataannya, dengan mengikuti rute pengamatannya bertahun-tahun, yang saya lihat adalah gumuk pasir dan perkebunan tebu semata. Pencarian ini telah menyeret saya pada pandangan mata yang menyakitkan. Rupaya garis pantai sepanjang kira-kira 30 kilometer sudah didominasi gumuk pasir, rumput angin dan tapak kuda.

Saya menelusuri Trulek Jawa berdasarkan informasi yang sudah dirintis sebelumnya. Kami kembali ke desa Selok Awar-awar, kampung halaman Sapari. Pada 1992, secara tak sengaja, ada desas-desus penduduk setempat pernah memelihara burung itu selama dua hari. Tapi setelah itu mati dalam kandang burung.

Penemuan ini membawa satu ekpedisi selanjutnya. Pupung Nurwatha, dari Yayasan Pribumi Alam Lestari, dan Biodiversity Conservation Indonesia melakukan pencarian. Lokasinya sekitar pesisir pantai Lumajang. Penduduk yang menemukan itu bernama Minto Ekowiadi, yang tak lain adalah kakak ipar Sapari.
Saya diantar Sapari menemuinya.

Minto orangnya murah senyum, ”Ya, saya pernah lihat burung yang ini, tapi bulunya agak keemasan, ndak kuning gini,” sembari ia menunjuk salah satu gambar burung dalam buku John MacKinnon. Telunjuknya tepat mengarah pada gambar nomor 170, gambar burung Trulek Jawa.

”Saya menemukan burung itu di pantai Watuk Pecak. Dekat rawa-rawa. Dulu ada rawa besar. Rawa semua di sini. Eceng gondok semua. Ndak bisa masuk orang ke sana… Rawanya dalam. Eceng gondok kecil-kecil itu banyak. Apu-apu. Teratai putih banyak,” tangan Minto menunjuk ke arah laut tempat dia menemukan Trulek Jawa.

Sore itu, dia sedang mencari belut dan ikan gabus, menggunakan setru. Tahu-tahu dia menjumpai burung langka itu. Dia menyebut burung itu aneh tapi terlihat bagus. Dia bawa pulang. Itu bukan burung kuntul, katanya, yang sering dia lihat. Badan si burung kurang kecil, kurang kurus, kurang tipis.

”Apa sebesar tikus?” Agus Satriyono menimpali. Minto bilang, badan burung kurang besar dari tikus. Dia membandingkan dengan burung Kareo padi, burung sri rombok. Dia pernah mendapatkan dua ekor Kareo padi. Kareo padi bisa hidup di kandang. Dia mengingat dia menemukan jenis burung ini pada musim hujan. Selain warna badannya yang keemasan, bagian bawah burung berwarna hitam saat terbang.

”Itu kuning keemasan, ini bukan merah gini, agak biru terang gitu. Kalau dilihat dari depan, putih pucat. Bisa berubah itu warna gelambirnya. Ndak pernah bunyi,” kembali tangannya menunjukkan pada gambar Trulek Jawa, menegaskan warna gelambir yang dia lihat saat memeliharanya.

Minto cerita bahwa Trulek Jawa tidak takut sama manusia. Tapi saat dia mengejar, burung itu terbang. Pengejaran terus dilakukan dengan menggunakan lampu pelor. Dengan bantuan Poniman, kakak Sapari, burung itu berhasil ditangkap dengan jala ikan. Sampai di rumah, Minto memberi makan burung dengan pakan ayam. Sayangnya, pagi-pagi di hari ketiga, burung itu mati dalam sangkar.

Kabar penemuan Minto membuat Pupung Nurwatha bergerak mencari kebenaran ini. Minto menemani Pupung hingga ke desa Meleman, terus ke arah barat sampai desa Tengker Sari. Namun keduanya tak pernah menemukan lagi jenis burung yang sempat ditangkap Minto.

Bangkai Trulek jawa yang pernah dipelihara selama dua hari oleh Minto,tak pernah dilihat oleh Pupung Nurwatha. Hanya Minto dan istrinya saja, menyaksikan si Plirik terbujur kaku disangkarnya.
Rupanya, perubahan habitat di sekitar rawa Watuk Pecak telah menggeser populasi burung Trulek Jawa. Laut dan rawa kian sempit, berganti hamparan pasir. Ladang-ladang padi. Pantai yang dulu berdekatn dengan rumah orangtua Sapari dan Minto Ekowiadi pun makin menjauh.

Kini kebiasan Minto mencari ikan sudah lama ditinggalkan. Selain mencari ikan, dulu ia juga suka mencari burung-burung kecil seperti Branjangan. Jenis branjangan tersebar di seluruh dunia. Terbangnya lemah. Ekor pendek. Paruh tebal. Beberap jenisnya memiliki jambul pendek tegak. Di Sunda Besar hanya ada dua jenis branjangan, yaitu Baranjangan Jawa dan Branjangan-langi kecil. Makanan dan tempat bersarang branjangan di atas tanah.

Sesungguhnya, berbagai keterangan tentang keberadaan Trulek Jawa terlalu samar-samar. Para pengamat burung, baik amatir maupun profesional, perlu satu medium untuk lebih memastikan penemuan jenis burung. Binokuler salah satu alatnya. Dan tanpa foto, binokuler juga tak cukup memastikan orang lain percaya pada penemuan tersebut. Inilah kesalahan Anang Ritarno lima tahun lalu.

Namun, bagaimanapun, manusia tak cukup tahu bahwa di luar sana ada satu jenis burung yang sedang menanti dipotret atau diteliti kecantikannya. Hal yang pasti, penandaan habitat telah menyederhanakan pencarian populasi burung. Jalur habitat populasi menjadi area penjelajahan para pengamat burung; mereka menyusurinya seperti memperlakukan suatu hobi. Apa yang saya lakukan adalah jenis hobi macam itu.

Namun, di sisi lain, manusia sering luput akan keberadaan burung. Ukurannya yang kecil membuat manusia terkadang lebih mengenal hewan-hewan gede macam banteng, sapi atau gajah atau harimau. Pada hakikatnya, seekor burung akhirnya tak lebih dari seekor capung atau segala jenis insekta—kecuali kita tahu mereka berkicau. Buku panduan burung karya John MacKinnon adalah upaya menghidupkan kehadiran burung-burung, yang seringnya terlupakan. Ia juga mengikis pengertian habitat yang salah-kaprah tentang seekor hewan yang melayang di udara, di luar jangkauan manusia.

Melihat kawasan rawa yang berubah, tak mengherankan jika Trulek Jawa susah ditemukan kembali. Perubahan perilaku serta aktivitas manusia menyebabkan habitatnya semakin berkurang. Perilakunya pun bergeser. Tak tampak sedikitpun tanda-tanda kehadiran si plirik. Rawa berubah menjadi lautan pasir hitam. Namun, rawa-rawa di dusun Meleman masih menyediakan pakan plirik, seperti udang-udang kecil dan sejenis keong. Tak semua rawa-rawa di pesisir pantai Lumajang menyediakan jenis pakan ini.

Perjalanan terakhir kami lewatkan dengan mengunjungi area shooting range. Ini tempat latihan sasaran tembak pesawat tempur milik angakatan udara. Ia terletak di desa Jatimulyo. Tak ada rawa sama sekali. Hanya gumuk pasir dan aliran kali Klutuk yang ditumbuhi eceng gondok. Burung-burung yang kami jumpai hampir sama dengan daerah sebelumnya. Sempat melihat Raja udang biru, Apung tanah, Bubut alang-alang, Trinil semak, Kirik-kirik laut, Gemak loreng dan Kareo padi.

Kami menghibur diri selama perjalanan pulang ke desa Nguter, tempat bertugas Agus Satriyono, sambil mendengarkan Sapari berceloteh tentang keinginannya menikah. Selepas mengikuti Ekspedisi Trulek Jawa pada 2005, Sapari sempat mengikuti sekolah komputer dan bekerja di Surabaya. Namun, merasa sedikit penghasilannya, dia pun pulang dan memutuskan bertani. Teropong miliknya raib dari laci lemari baju. Dia tak pernah lagi mengamati burung. Saya senang lima tahun kemudian saya bisa bertemu kembali dengan Sapari. Dia terlihat bahagia dengan jalan hidupnya sekarang.

Selama tujuh hari melakukan pelacakan Trulek Jawa, awal Oktober 2009, kami pun mencatat sedikitnya ada 44 jenis burung yang tersebar di sepanjang Watuk Pecak hingga Meleman. Setidak-tidaknya pencarian ini tak sia-sia; betapapun bidikan utama kami, sekali lagi, tak pernah sekalipun ditemukan. Si plirik van Java, primadona para pengamat burung, hanya hadir dalam cerita-cerita. Ia menampilkan dirinya sebagai satu sosok yang kabur bak hantu di tengah-tengah habitatnya yang tergerus — tahun demi tahun. (*)

Daftar Jenis Burung di Sepanjang Pesisir Lumajang, Jawa Timur

Nama Melayu Nama Latin Nama Bahasa Inggris
1 Apung tanah Anthus novaeseelandiae Common pipit
2 Bambangan kuning Ixobrychus sinensis Yellow bittern
3 Bambangan merah Ixobrychus cinnamomeus Cinnamon bittern
4 Bangau tongtong Leptoptilos javanicus Lesser adjutant
5 Belibis batu Dendrocygna javanica Lesser whistling-duck
6 Bondol Jawa Lonchura leucogastroides Javan munia
7 Bentet kelabu Lanius schach Long tailed shrike
8 Blekok sawah Ardeola speciosa Javan pond heron
9 Bubut alang-alang Centropus bengalensis Lesser Coucal
10 Cabai Dicaeum sp Flowerpecker
11 Cabak maling Caprimulgus macrurus Large-tailed Nightjar
12 Cabak kota Caprimulgus affinis Savannah nightjar
13 Cangak abu Ardea cinerea Grey Heron
14 Cangak merah Ardea purpurea Purple Heron
15 Cekakak Jawa Halcyon cyanoventris Javan kingfisher
16 Cekakak suci Halcyon chloris Collared Kingfisher
17 Cekakak sungai Halcyon sancta Sacred Kingfisher
18 Cerek kernyut Pluvialis fulva Pacific golden plover
19 Cerek pasir Mongolia Charadrius mongolus Mongolian plover
20 Cici merah Cisticola exilis Golden-headed cisticola
21 Cikalang Fregata Frigatebird
22 Cipoh kacat Aegithina tipia Common iora
23 Gelatik batu Parus major Great tit
24 Gemak loreng Turnix suscitator Barred Buttonquail
25 Jingjing batu Hemipus hirundinaceus Black-winged flycatcher shrike
26 Kareo padi Amaurornis phoenicurus White breasted waterhen
27 Kirik-kirik laut Merops philippinus Blue-tailed bee-eater
28 Kuntul kecil Eggreta garzeta Little egret
29 Kuntul kerbau Bubulcus ibis Cattle egret
30 Layang-layang batu Hirundo tahitica Pacific swallow
31 Mandar batu Gallinula gallinula Common Moorhen
32 Mandar besar Porphyrio porphyrio Purple swamphen
33 Merbah cerukcuk Pycnonotus goiavier Yellow vented bulbul
34 Raja udang biru Alcedo coerulescens Cerulean kingfisher
35 Remetuk laut Gerygone sulphurea Golden bellied gerygone
36 Sepah hutan Pericrorotus flameus Scarlet minivet
37 Tekukur biasa Streptopelia cinensis Spotted dove
38 Tikusan alis putih Poliolimnas cinerea White browed crake
39 Tikusan merah Porzana fusca Ruddy-breasted crake
40 Titihan telaga Tachybaptus ruficollis Little grebe
41 Trinil kaki hijau Tringa nebularia Common greenshank
42 Trinil pantai Actitis hypoleucos Common sandpiper
43 Trinil semak Tringa glareola Wood sandpiper
44 Walet linchi Collocalia linchi Cave swiflet