<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Dawala&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://dawala.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dawala.wordpress.com</link>
	<description>Kuliner,Curhat, Ngomel-ngomel, Ngejeplak...</description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 Nov 2009 10:25:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='dawala.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/432ebb3cd921470c0fbfb05d8671de1e?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Dawala&#039;s Blog</title>
		<link>http://dawala.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Migrasi Burung Pemangsa, Setiap Tahun Perlu di Cek Populasinya</title>
		<link>http://dawala.wordpress.com/2009/11/11/migrasi-burung-pemangsa-perlu-tahun-perlu-di-cek-populasinya/</link>
		<comments>http://dawala.wordpress.com/2009/11/11/migrasi-burung-pemangsa-perlu-tahun-perlu-di-cek-populasinya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 10:21:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dawala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Obrolan Kamis Sore]]></category>
		<category><![CDATA[IAR]]></category>
		<category><![CDATA[Migrasi burung]]></category>
		<category><![CDATA[Paralayang - Puncak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dawala.wordpress.com/?p=333</guid>
		<description><![CDATA[Tak bosan rasanya mendengar cerita di Obrolan Kamis Sore. Selalu ada berita baru yang terjadi di ranah konservasi. Pada pertemuan ketiga, tepatnya tanggal 15 Oktober 2009, Asman Adi Purwanto dari International  Animal Rescue (IAR) bercerita tentang “Migrasi Burung Pemangsa”.Topik yang menarik. Pas betul dengan kondisi alam saat ini, Oktober adalah bulannya burung-burung pemangsa (raptor) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dawala.wordpress.com&blog=954324&post=333&subd=dawala&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Tak bosan rasanya mendengar cerita di Obrolan Kamis Sore. Selalu ada berita baru yang terjadi di ranah konservasi. Pada pertemuan ketiga, tepatnya tanggal 15 Oktober 2009, Asman Adi Purwanto dari International  Animal Rescue (IAR) bercerita tentang “Migrasi Burung Pemangsa”.Topik yang menarik. Pas betul dengan kondisi alam saat ini, Oktober adalah bulannya burung-burung pemangsa (raptor) dan burung pantai bermigrasi dari belahan bumi utara menuju selatan. Dalam presentasinya, Asman menjelaskan tentang migrasi raptor secara umum, pola migrasi, serta waktu migrasi. Beberapa jenis raptor yang setiap tahunnya melintas di kawasan Puncak, Bogor, seperti Sikep-madu asia <em>(Pernis ptilorhynchus)</em>, Elang-alap cina <em>(Accipiter soloensis)</em>, Elang-alap jepang (<em>Accipiter gularis)</em>, Elang kelabu <em>(Butastur indicus)</em>, dan Baza hitam (<em>Aviceda leuphotes</em>).</p>
<p>Berkaitan dengan fenomena alam tersebut, pengamat burung di Bogor mengadakan monitoring di Bukit Paralayang, Puncak, setiap Sabtu dan Minggu, selama bulan Oktober. Selain mengamati, mereka juga menghitung jumlah burung-burung pemangsa yang melintas di kawasan tersebut . Tergantung cuacanya, jika mendung, burung-burung tersebut seakan enggan menampakan diri, melewati Puncak. Tapi, saat cuaca cerah, dengan panas matahari, burung-burung itu, bisa puluhan sekali melintas di atas kepala.</p>
<p>“Mengamati migrasi burung pemangsa, sebetulnya bisa merupakan bisnis tersendiri, bila dikaitkan dengan kegiatan ekowisata,” jelas Asman, mengingat fenomena ini amat langka dan beberapa pengamat burung dari luar negeri sudah mulai ikut mengamati migrasi ini di kawasan Puncak. Selama pengamatan di Puncak kadang ditemukan pula jenis burung pantai seperti Terik asia dalam rombongan migrasi raptor tersebut, namun hal ini dimungkinkan (bahkan burung ini juga beberapa kali pernah terlihat di kawasan perkotaan di Bogor) karena jenis tersebut merupakan burung pemakan serangga yang banyak terdapat di daratan.</p>
<p>Penghitungan jumlah dan jenis raptor yang melintas di kawasan Puncak juga dilakukan. Penghitungan ini bisa dengan metode hitung langsung atau dengan pembandingan jumlah individu yang terlihat dalam bulatan lensa (binocular) vs jumlah bulatan lensa dalam suatu kelompok burung. Penghitungan dengan metode terakhir juga bisa dilakukan secara tidak langsung, artinya kelompok burung tersebut dibuat dokumentasinya (foto/video) terlebih dahulu. Namun bila menggunakan cara ini memerlukan jenis kamera/videocam yang cukup baik, agar kelompok burung tersebut bisa terlihat jelas.</p>
<p>Di Jawa, pada saat datang jalur migrasi kelompok raptor terpecah menjadi 2-3 jalur, tetapi saat kembali (spring migration), jalur migrasinya cenderung ke utara.  Jalur yang dilalui raptor biasanya mengikuti punggungan bukit, agar memudahkan mereka mendapat makanan dan beristirahat di hutan-hutan. Informasi rinci mengenai jalur yang pasti dilalui oleh raptor ini masih dalam penyusunan dan masih memerlukan banyak informasi lagi. Karenanya diperlukan suatu koordinasi dalam melakukan pengamatan migrasi raptor ini pada seluruh pengamat burung di Indonesia.</p>
<p>Di Indonesia sendiri ada beberapa jenis raptor yang menetap (resindent). Jenis ini tidak melakukan migrasi, walaupun kadang mereka terlihat berbiak di suatu tempat, dan di saat lainnya tidak terlihat. Jenis-jenis ini hanya berkelana di dalam daerah teritorinya saja (home range). Bagi sebagian pengamat burung, perilaku ini dikategorikan dalam migrasi lokal. Kegiatan berpindah tempat itu sendiri bisa disebut migrasi bila ada tekanan (misalnya berkurangnya jumlah pakan saat musim dingin) dan sifatnya teratur.</p>
<p>Di penghujung Obrolan Kamis Sore, Hasudungan Pakpakan, menggelitik Raptor Indonesia [RAIN] melalui Asman tentang trend migrasi burung pemangsa, di mana saja lokasi singgahnya dan apakah setiap tahun populasinya bertambah atau berkurang? “Seperti halnya negara Cina, mereka lebih peduli dalam mengamati raptor, karena kalau jumlah populasi raptor yang kembali ke negaranya semakin menurun, mereka kuatir populasi tikusnya akan melonjak berkali lipat ….,”. Mungkin komentar ini patut dipertimbangkan bagi para pengamat raptor di Indonesia agar lebih serius dalam mengumpulkan informasi mengenai migrais raptor ini. [Irma Dana &amp; Jeni Shannaz]</p>
Posted in Lingkungan, Obrolan Kamis Sore Tagged: IAR, Migrasi burung, Paralayang - Puncak <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dawala.wordpress.com/333/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dawala.wordpress.com/333/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dawala.wordpress.com/333/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dawala.wordpress.com/333/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dawala.wordpress.com/333/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dawala.wordpress.com/333/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dawala.wordpress.com/333/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dawala.wordpress.com/333/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dawala.wordpress.com/333/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dawala.wordpress.com/333/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dawala.wordpress.com&blog=954324&post=333&subd=dawala&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dawala.wordpress.com/2009/11/11/migrasi-burung-pemangsa-perlu-tahun-perlu-di-cek-populasinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c561c3b32c7782d0c43d20152b6bae7?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">dawala</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kekurangan di Saat Kemarau, Kelebihan di Saat Hujan</title>
		<link>http://dawala.wordpress.com/2009/11/11/kekurangan-di-saat-kemarau-kelebihan-di-saat-hujan/</link>
		<comments>http://dawala.wordpress.com/2009/11/11/kekurangan-di-saat-kemarau-kelebihan-di-saat-hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 08:09:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dawala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Obrolan Kamis Sore]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Cibanteng]]></category>
		<category><![CDATA[IISES]]></category>
		<category><![CDATA[Situ Cinangneng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dawala.wordpress.com/2009/11/11/kekurangan-di-saat-kemarau-kelebihan-di-saat-hujan/</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Oktober selain waktunya burung-burung pemangsa dan burung pantai melakukan migrasi, juga merupakan bulan yang penuh dengan curahan air hujan, paling tidak itulah yang terjadi di kota Bogor.“Kekurangan di Saat Kemarau, Kelebihan di Saat Hujan”, ya, itulah isu yang disampaikan oleh Septiva Elin dari Indonesia Initiative for Social Ecology Studies (IISES) pada Obrolan Kamis Sore [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dawala.wordpress.com&blog=954324&post=323&subd=dawala&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Bulan Oktober selain waktunya burung-burung pemangsa dan burung pantai melakukan migrasi, juga merupakan bulan yang penuh dengan curahan air hujan, paling tidak itulah yang terjadi di kota Bogor.“Kekurangan di Saat Kemarau, Kelebihan di Saat Hujan”, ya, itulah isu yang disampaikan oleh Septiva Elin dari Indonesia Initiative for Social Ecology Studies (IISES) pada Obrolan Kamis Sore 15 Oktober lalu, yang menyinggung masalah air di Desa Cibanteng, Bogor.</p>
<p>IISES saat ini tengah memusatkan perhatiannya pada masalah air, karena air adalah salah satu hak manusia terkait dengan kebutuhan dasar manusia dan sebagai sumber kehidupan. Di sebagian daerah di Indonesia pun saat ini tengah mengalami kekeringan. Sebagai informasi, bahwa pada tahun 1995, Pulau Jawa mengalami defisit air sebesar 32,3 juta m3, pada 2000 sebanyak 52,8 juta m3, sedangkan pada 2005 sebanyak 34,1 juta m3. Hal ini disebabkan antara lain oleh menurunnya kualitas air, distribusi air yang tidak merata sepanjang tahun, distribusi air antar komunitas yang tidak merata dan akses masyarakat terhadap air tidak sama.</p>
<p>Desa Cibanteng diambil sebagai daerah contoh karena merupakan daerah sub-urban yang memiliki dua sisi kehidupan (kota/perdagangan dan tradisional/pertanian). Desa Cibanteng dilewati oleh Sungai Cinangneng dan memiliki Situ Cinangneng sebagai sumber airnya. Untuk keperluan rumah tangga, air didapat dari sumur-sumur maupun mata air, sedangkan untuk kegiatan pertanian dan perikanan air didapat dari sungai maupun situ yang dialirkan melalui susukan (selokan kecil). Di desa ini terdapat fenomena di mana pada bulan-bulan tertentu air mongering atau berlimpah.</p>
<p>IISES menganalisa, penyebab dari kekeringan dan kelimpahan air ini adalah adanya penurunan volume air di susukan karena volume air di situ yang berkurang, adanya kerusakan pada infrastruktur, distribusi air tidak adil (makin jauh orang tinggal dari situ, makin sedikit dia mendapat air), pengelolaan susukan yang tidak efektif, sampai ada perubahan pada tata guna lahan di desa tersebut, di mana banyak daerah resapan air berubah menjadi pemukiman atau usaha perindustrian.</p>
<p>Akibatnya adalah, “Pada saat musim kering, sumurnya kering, kalau hujan, airnya berlimpah, sampai harus mengangkat pompa air dari dalam sumur. Sedangkan saat kemarau datang, mereka harus menambah kedalaman sumur, bagi yang cukup mampu bisa membeli air dalam kemasan galon. Bagi yang tidak mampu, tetap harus ke sungai atau mata air untuk mencuci”, papar Elin. Artinya adalah terjadi peningkatan pengeluaran rumah tangga, beban kerja (bagi perempuan) bertambah, kesehatan dan sanitasi lingkungan menurun dan terjadi perubahan komoditas perikanan dan pertanian (jenis yang ditanam/disebar merupakan jenis yang dapat bertahan pada saat tersebut).</p>
<p>Kondisi kekeringan terparah di Cibanteng dimulai sejak tahun 2000. Tidak dapat dipungkiri bahwa pertumbuhan kota membawa dampak bagi penghidupan masyarakat Cibanteng, pemukiman (terutama untuk tempat kost) marak bermunculan dengan sendirinya ruang resapan air menyempit, yang artinya pasokan air untuk situ dan sungai semakin berkurang.</p>
<p>IISES sendiri yang peduli akan pelestarian sumber air melihat bahwa Situ Cinangneng tetap harus dijaga kelestariannya, tetapi kesejahteraan ekonomi masyarakat juga penting. Saat ini IISES berusaha bernegosiasi antara dua kepentingan di atas, dalam arti masyarakat tidak bisa serta merta dilarang untuk tidak mengubah fungsi lahan, tetapi jalan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya air bagi keberlanjutan hidup mereka perlu terus ditingkatkan. Karena dalam pikiran masyarakat, air Situ tidak akan mengering selama masih ada air yang mengalir di susukan.</p>
<p>IISES berupaya mengomunikasikan hal tersebut dengan pihak Desa, mulai dari tingkatan RT dan RW, kelompok-kelompok pengajian. Selain itu pula IISES melakukan dokumentasi (pembuatan film) tentang kehidupan warga Desa Cibanteng sehari-harinya dengan penekanan pada penggunaan dan kondisi sumber daya air yang dimilikinya, termasuk segala persoalan yang muncul dari padanya. Film tersebut kemudian diputar kembali pada berbagai pertemuan kelompok masyarakat. Masyarakat cukup terperangah dengan film tersebut, karena hal-hal yang mereka temukan sehari-hari, tampak sangat berbeda dalam film, bagaimana mereka melihat sampah maupun kerusakan infrastruktur perairan di desa mereka. Mungkin diperlukan pula gambaran berapa nilai Situ Cinangneng beserta fungsi ekologis dan sosialnya bila dirupiahkan, agar masyarakat menyadari arti penting Situ tersebut.</p>
<p>Saat ini beberapa mata air di Situ Cinangneng yang tersisa hanya berada pada area di sekitar sungai, telah mongering lebih dari 50%, sejak tahun 1990-an. Harapan IISES adalah, pada saat meninggalkan Desa Cibanteng telah ada program dan tersedia air bersih yang mandiri.</p>
<p>“Persoalan kelangkaan air, antara alin adalah semakin meningkatnya konsumen air. Indonesia sedang mengalami krisis energi, pangan dan air,” demikian Elin menutup tanya jawab di Obrolan Kamis Sore.<br />
[Irma dana &amp; Jeni Shannaz]</p>
Posted in Lingkungan, Obrolan Kamis Sore Tagged: Desa Cibanteng, IISES, Situ Cinangneng <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dawala.wordpress.com/323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dawala.wordpress.com/323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dawala.wordpress.com/323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dawala.wordpress.com/323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dawala.wordpress.com/323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dawala.wordpress.com/323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dawala.wordpress.com/323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dawala.wordpress.com/323/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dawala.wordpress.com/323/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dawala.wordpress.com/323/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dawala.wordpress.com&blog=954324&post=323&subd=dawala&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dawala.wordpress.com/2009/11/11/kekurangan-di-saat-kemarau-kelebihan-di-saat-hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c561c3b32c7782d0c43d20152b6bae7?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">dawala</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gambut ada di mana-mana</title>
		<link>http://dawala.wordpress.com/2009/11/11/gambut-ada-di-mana-mana/</link>
		<comments>http://dawala.wordpress.com/2009/11/11/gambut-ada-di-mana-mana/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 08:06:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dawala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Obrolan Kamis Sore]]></category>
		<category><![CDATA[Gambut]]></category>
		<category><![CDATA[Wetlands International]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dawala.wordpress.com/?p=321</guid>
		<description><![CDATA[Obrolan Kamis Sore kembali digelar di Auditorium Yayasan Gibbon Indonesia pada 10 September 2009 lalu. Kali ini selain berbicara mengenai isu gambut dan perubahan iklim, juga mengenai bebersih sampah di S. Ciliwung.
Yus Rusila Noor dari Wetlands International Indonesia Programme mengawali presentasi tentang “Gambut dan Perubahan Iklim” dengan menyajikan beberapa slide mengenai fenomena mencairnya gunung es [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dawala.wordpress.com&blog=954324&post=321&subd=dawala&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Obrolan Kamis Sore kembali digelar di Auditorium Yayasan Gibbon Indonesia pada 10 September 2009 lalu. Kali ini selain berbicara mengenai isu gambut dan perubahan iklim, juga mengenai bebersih sampah di S. Ciliwung.</p>
<p style="text-align:justify;">Yus Rusila Noor dari Wetlands International Indonesia Programme mengawali presentasi tentang “Gambut dan Perubahan Iklim” dengan menyajikan beberapa slide mengenai fenomena mencairnya gunung es di beberapa negara. Mulai dari G. Jayawijaya di Papua, sebagai salah satu gunung es di wilayah tropis, lalu G. Kilimanjaro di Kenya, hingga kota Montreal (Kanada) yang berdekatan dengan Kutub Utara.</p>
<p style="text-align:justify;">Gambut adalah tumpukan tumbuhan yang meluruh dan tidak terdekomposisi secara sempurna, biasanya terdapat di lahan berawa. Karena kadar keasaman yang tinggi atau kondisi anaerob di perairan setempat, tidak mengherankan jika sebagian besar tanah gambut tersusun dari serpih dan kepingan sisa tumbuhan, daun, ranting, bahkan kayu-kayu besar, yang belum sepenuhnya membusuk. Kadang-kadang ditemukan pula, sisa-sisa bangkai binatang yang turut terawetkan di dalam lapisan-lapisan gambut.</p>
<p style="text-align:justify;">Lahan gambut sendiri merupakan lahan produktif karena dapat digunakan sebagai ladang penggembalaan ternak, sumber makanan, sumber energi, sumber matapencaharian, memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi serta bisa mencegah terjadinya banjir, atau sebaliknya.  Dalam kaitannya dengan isu perubahan iklim global, lahan gambut adalah salah satu rimba yang masih tersisa di bumi dan diketahui merupakan ekosistem terrestrial yang paling efisien dalam menyimpan karbon. Namun, bila rimba ini rusak (terdegradasi) maka gambut juga merupakan sumber emisi antropogenik utama, juga berpengaruh pada kehidupan jutaan manusia yang hidup di bumi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Gambut ada dimana-mana. Sebaran gambut terluas di daerah yang beriklim sedang ada di Rusia dan Amerika, sedangkan di daerah tropis ada di Indonesia (Jambi, Berbak, Kalimantan, Papua) dan Cina. Di negara empat musim banyak gambut yang tidak terlihat, dan dijadikan pengembalaan kambing dan sapi,”  jelas Yus Rusila. Yus juga menyinggung  bahwa manajemen gambut di dua kawasan berbeda tidak bisa disamakan. Manajemen gambut di negara empat musim tidak cocok bila diterapkan di Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Gambut juga ada di udara yang kita hirup. Seperti Kalimantan Selatan yang selalu dilanda kebakaran karena lahan gambutnya terbakar.  Penduduknya selalu mengalami sesak napas, hidung berair, mata perih dan rambut kesat. Sementara di beberapa negara di Eropa, seperti Bolivia dan Finlandia, gambut sudah dijadikan bahan bakar. Dan Kalimantan Barat sudah mulai membangun tenaga listrik gambut.</p>
<p style="text-align:justify;">Intisari permasalah di lahan gambut disebabkan pembalakan liar, kebakaran hutan dan lahan, drainase dan perubahan tata guna lahan. Antara tahun 1970 – 2000, Indonesia  kehilangan sekitar 3,7 juta hektar lahan gambut, terutama di Sumatra dan Kalimantan.  Lahan gambut menyimpan 528.000 juta ton karbon (30% karbon terrestrial, 75% karbon di atmosfir) atau sekitar 70 kali emisi tahunan global saat ini yang berasal dari pembakaran bahan bakar fossil. Isu drainase di daerah tropis memiliki masalah tersendiri. Drainase (pengeringan) lahan gambut sampai 1 meter, setara dengan emisi  90 ton CO2/ha/tahun.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengaruh kebakaran pada lahan gambut tahun 1997/98 seluas 1,5-2,2 juta ha menghasilkan emisi antara 3.000-9.000 juta ton CO2 atau sekitar 40% emisi CO2 global. Belum lagi kerugian di bidang kesehatan, kerugian waktu kerja dan sekolah, kerugian SDA, bisnis dan property, kerugian di bidang sosial (kemiskinan, ketegangan sosial).</p>
<p style="text-align:justify;">Belum lagi investasi dalam menghindari emisi CO2, bila di Indonesia disediakan dana sebesar € 0,15 per ton untuk gambut seluas 3,4 juta ton CO2/th, bayangkan berapa biaya yang terbuang dengan percuma bila lahan tersebut terbakar. Padahal dana tersebut bisa digunakan pula untuk pengentasan kemiskian, mitigasi perubahan iklim, konservasi biologi, dan melawan kerusakan lahan. Karenanya perlu dilakukan pembangunan, pendekatan pro-rakyat miskin (pengembangan alternatif pekerjaan dan pendapatan), menguangkan nilai internasional lahan gambut (Bio-rights, Carbon credits), mengatasi akar masalah di lahan &amp; hutan gambut (Pembalakan liar, pembangunan tdk berkelanjutan), komitmen dunia internasional, keamanan sosial &amp; finansial untuk masyarakat lokal dan good governance.</p>
<p style="text-align:justify;">Di tingkat lokal, solusi masalah di lahan gambut ini (kasus di Kalimantan) yang paling efektif adalah dengan restorasi hidrologi. Kebakaran biasanya terjadi karena permukaan air menurun, sehingga gambut mengering dan mudah terbakar (sebab alami atau karena campur tangan manusia). Di Kalimantan Tengah dilakukan penabatan (dari bahasa Dayak yang artinya penyekatan). Dengan dilakukan penyekatan ini maka tingkat permukaan air bisa terus terjaga. Dengan penabatan juga memungkinkan orang untuk bercocok tanam tanaman pangan maupun pohon yang bernilai ekonomi di atas lahan gambut, bahkan pembuatan tabat serupa kanal juga bisa mengatasi pencurian kayu dari lahan gambut. Di Kalimantan Tengah, penabatan dilakukan berdasarkan pengetahuan lokal yang dimiliki masyarakat setempat dan menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitarnya. Masyarakat diuntungkan dengan pemanenan ikan maupun pohon yang bernilai ekonomi tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Adanya Perda di Kalimantan Tengah mengenai Zero Burning belum sepenuhnya bisa terlaksana, mengingat kurang gencarnya kampanye yang dilakukan pemda. Perda tersebut hanya efektif pada 3 – 4 tahun pertama dan kini cenderung menurun penegakan hukumnya. Masih ada kesan saling menyalahkan antar instansi pemerintah. Masyarakat harus diajak berpartisipasi dalam menjaga kawasan hutan di sekitarnya dari kebakaran, karena hutan adalah “milik” mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Reza Lubis, dari Wetlands International juga menambahkan dalam beberapa tahun sudah ada kemajuan dari praktisi dan LSM seperti Kepres No. 30/1990 yang berisi rumusan hukum dalam mengatasi masalah di lahan gambut. Dan beberapa tahun ini ada peraturan tambahan, Inpres untuk menjadi contoh bagaimana pengelolaan gambut di tingkat lingkungan hidup, saat ini sedang dibuat untuk mengatasi tekanan terhadap gambut. Di beberapa daerah bahkan ada tim-tim khusus yang menangani hal ini. [Irma Dana &amp; Jeni Shannaz]</p>
Posted in Lingkungan, Obrolan Kamis Sore Tagged: Gambut, Wetlands International <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dawala.wordpress.com/321/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dawala.wordpress.com/321/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dawala.wordpress.com/321/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dawala.wordpress.com/321/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dawala.wordpress.com/321/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dawala.wordpress.com/321/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dawala.wordpress.com/321/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dawala.wordpress.com/321/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dawala.wordpress.com/321/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dawala.wordpress.com/321/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dawala.wordpress.com&blog=954324&post=321&subd=dawala&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dawala.wordpress.com/2009/11/11/gambut-ada-di-mana-mana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c561c3b32c7782d0c43d20152b6bae7?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">dawala</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nabuburit Sambil Mungut Sampah dan Ngamatin Burung</title>
		<link>http://dawala.wordpress.com/2009/09/14/nabuburit-sambil-mungut-sampah-dan-ngamatin-burung/</link>
		<comments>http://dawala.wordpress.com/2009/09/14/nabuburit-sambil-mungut-sampah-dan-ngamatin-burung/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 13:16:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dawala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[sungai ciliwung]]></category>
		<category><![CDATA[taman kencana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dawala.wordpress.com/2009/09/14/nabuburit-sambil-mungut-sampah-dan-ngamatin-burung/</guid>
		<description><![CDATA[Ngabuburit adalah ritual wajib saat bulan ramadhan. Ada yang pergi cari makanan untuk berbuka, nonton bioskop atau sekedar window shooping. Malahan, dengan maraknya kendaraan bermotor, selepas jam empat sore orang beramai-ramai menyalakan mesin motornya berkeliling kota. Raungan mesin motor, yang kadang memekakan telinga, meliak-liuk memenuhi jalan raya.
Lantas, kalau tidak punya kendaraan bermotor, seperti saya ini, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dawala.wordpress.com&blog=954324&post=316&subd=dawala&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft size-medium wp-image-319" title="IMG_0057" src="http://dawala.files.wordpress.com/2009/09/img_00571.jpg?w=300&#038;h=225" alt="IMG_0057" width="300" height="225" />Ngabuburit adalah ritual wajib saat bulan ramadhan. Ada yang pergi cari makanan untuk berbuka, nonton bioskop atau sekedar window shooping. Malahan, dengan maraknya kendaraan bermotor, selepas jam empat sore orang beramai-ramai menyalakan mesin motornya berkeliling kota. Raungan mesin motor, yang kadang memekakan telinga, meliak-liuk memenuhi jalan raya.</p>
<p>Lantas, kalau tidak punya kendaraan bermotor, seperti saya ini, ngabuburitnya kemana? Selama dua minggu ini ikut teman-teman mengisi rohani dengan keindahan alam yang sudah semakin carut marut. Pertama, ikutan mulung sampah plastik dengan Komunitas Peduli Ciliwung, di Kelurahan Sempur, Bogor. Sejak jam empat sore, teman-teman yang konsisten dan peduli Ciliwung, mengambil karung goni untuk mengumpulkan sampah plastik.</p>
<p>Mulai dari plastik kantong keresek hingga pampers yang belum dibersihkan, masuk dalam karung goni. Baju dan celana pun tak menolak masuk karung goni. Ya, walaupun bulan puasa, Komunitas Peduli Ciliwung tetap melakukan aksi mulung sampah plastik. Teman-teman yang hadir lumayan banyak, tanggal 30 Agustus 2009 lalu, ada 15 orang yang hadir, dan menghasilkan 20an karung sampah plastik. not bad!</p>
<p>Selain mulung sampah plastik di Ciliwung, hari Minggu, 6 September 09 kemaren, diajak temen-temen komunitas SBI-InFo, para pencinta burung di alam bebas untuk pengamatan burung di Taman Kencana, Bogor.</p>
<p>Tak banyak yang hadir, karena mungkin males datang atau sibuk. Tapi, ada Yus Rusila Noor, Asman, Putri, Panca, Hadi dan selepas bedug buka puasa, Iwan Londo dan Ninik datang menyusul. Walaupun burungnya sedikit yang berhasil diamati, hanya Cabe jawa, burung gereje, kutilang, dan kacamata, ngabuburit sore itu sangat berbeda. Kenapa?</p>
<p>Taman Kencana, yang setiap weekend selalu dipenuhi dengan penujual makanan, saat bulan puasa sejak siang sudah banyak yang berjualan untuk berbuka puasa. Ada kolek biji salak, mie glosor yang cuma ada di Bogor, bakwat dan kerekote, es buah dan banyak lagi.</p>
<p>Juga, anak-anak muda yang bergaya dengan skateboardnya&#8230;walaupun cuma sekedar meluncur, semua tumpah ruah di Taman Kencana. Dengan banyaknya manusia yang menghabiskan waktu di sana, banyak juga sampah yang numpuk. Lagi-lagi sampah&#8230;.burung dan sampah. Ya, tidak ada tempat sampah yang cukup untuk menampung pembungkus makanan. Tempat sampahnya diletakkan di luar area Taman Kencana&#8230;.dan jadi kotor. Let&#8217;s action for our city&#8230;..</p>
Posted in Lingkungan Tagged: sungai ciliwung, taman kencana <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dawala.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dawala.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dawala.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dawala.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dawala.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dawala.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dawala.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dawala.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dawala.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dawala.wordpress.com/316/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dawala.wordpress.com&blog=954324&post=316&subd=dawala&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dawala.wordpress.com/2009/09/14/nabuburit-sambil-mungut-sampah-dan-ngamatin-burung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c561c3b32c7782d0c43d20152b6bae7?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">dawala</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dawala.files.wordpress.com/2009/09/img_00571.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0057</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>It&#8217;s Personal Benefit dan Pamali</title>
		<link>http://dawala.wordpress.com/2009/09/01/its-personal-benefit-dan-pamali/</link>
		<comments>http://dawala.wordpress.com/2009/09/01/its-personal-benefit-dan-pamali/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 04:30:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dawala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dawala.wordpress.com/?p=314</guid>
		<description><![CDATA[“ Ah, orang kita emang ada-ada saja pertanyaannya. It’s personal benefit irma…,” celoteh Ibu Titi saat kami memulai percakapan tentang kesibukannya. Personal benefit, kalimat ini menarik dan indah didengar. Kata ini terlontar saat saat temannya Bu Titi bertanya, kapan Ia pergi ke Mekkah, untuk ibadah haji. It’s personal benefit, selalu terngiang ditelinga saya.
It’s personal benefit, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dawala.wordpress.com&blog=954324&post=314&subd=dawala&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>“ Ah, orang kita emang ada-ada saja pertanyaannya. It’s personal benefit irma…,” celoteh Ibu Titi saat kami memulai percakapan tentang kesibukannya. Personal benefit, kalimat ini menarik dan indah didengar. Kata ini terlontar saat saat temannya Bu Titi bertanya, kapan Ia pergi ke Mekkah, untuk ibadah haji. It’s personal benefit, selalu terngiang ditelinga saya.</p>
<p>It’s personal benefit, sebetulnya kalimat yang sopan untuk menghalau beberapa pertanyaan “pamali” hukumnya ditujukan kepada seseoran. Belum lama,pertanyaan haram itu sempat juga ditujukan pada saya.<br />
“ Udah berapa anak lo Ma? Belum juga ya….wah! kurang bisa kali ya….apa perlu bantuan?” yang bertanya adalah teman laki-laki.<br />
“ Gw akan bilang kalau perlu bantuan ya….gw selektif orangnya, gak bisa sembarang orang, apalagi model kaya lo, ” sambil berseloroh jawaban itu keluar dari mulut saya.</p>
<p>Terkadang saya jawab dengan senyum dan minta didoakan. Atau seperti tadi, dengan bercanda. Dulu siy, sempet suka mangkel dalam hati. Orang ini kok nanya, seenaknya aja. Apa gak tahu, yang ditanya hatinya teriris-iris bahkan pengen nangis?</p>
<p>Belum punya anak atau sudah, bukan keinginan setiap pasangan loh. Banyak faktor yang menyebabkan pasangan yang satu dengan yang lainnya beda. Si A cepet punya anak…si B harus menunggu 2 tahun…bahkan Tantowi Yahya saja harus 11 tahun menunggu, baru lahir anaknya. [maaf ya contohnya artis]</p>
<p>Kenapa “pamali”? Tidak sepatutnyalah menanyakan hal-hal “kapan nikah, kapan punya anak, atau kapan naik haji, padahal sudah mampu.” Dipikir-pikir kok gak ada habisnya ya hidup ini. Selesai yang satu, dituntut punya yang lain….dulu sebelum nikah, ditanya kapan kamu nikah Irma? Gimana mau nikah, punya pacar malah dia mutusin saya hehehehehe</p>
<p>Nikah atau tidak, punya anak atau blom….itu kembali pada rencana hidup masing-masng orang. Setiap orang punya pilihan, dan setiap orang juga tidak bisa menentang kuasa Tuhan. Apalagi sudah dibarengi berbagai usaha, untuk melengkapi pertanyaan-pertanyaan tadi.</p>
<p>Beberapa teman wanita juga sering curhat, dia belum ada jodoh. Bahkan sudah beberapa kali ganti pacar, tak sampai ke pelaminan juga. Jawabannya, belum waktunya…semua akan indah pada waktunya. Kok bisa?</p>
<p>Buktinya, bulan lalu, seorang teman perempuan, yang usianya lebih tua beberapa tahun dari saya, akhirnya menikah. Dan kemaren, satu lagi teman, bercerita sudah punya pacar. Dan tahun depan mereka merencanakan pernikahan. Tuh kaaaaan….kalau sudah waktunya, semua indah dan lancar.</p>
<p>Terus, saya tanya sama Bu Titi. Kalau orang bule, ketemu temen itu apa siy yang ditanya Bu?<br />
“ ya mereka gak nanya gituan lah…itu tadi it’s personal benefit. Paling nanya how about the wheater….atau sibuk apa sekarang….gak nanya masalah pribadi.”</p>
<p>Dan pertanyaan-pertanyaan itu memang pamali buat saya ajukan ke teman-teman. Menurut kamu, “pamali” gak pertanyaan itu?</p>
Posted in Cerita Cinta  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dawala.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dawala.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dawala.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dawala.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dawala.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dawala.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dawala.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dawala.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dawala.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dawala.wordpress.com/314/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dawala.wordpress.com&blog=954324&post=314&subd=dawala&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dawala.wordpress.com/2009/09/01/its-personal-benefit-dan-pamali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c561c3b32c7782d0c43d20152b6bae7?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">dawala</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ngobrol Kamis Sore Bicara Tentang Burung dan Tumbuhan Obat</title>
		<link>http://dawala.wordpress.com/2009/08/27/ngobrol-kamis-sore-bicara-tentang-burung-dan-tumbuhan-obat/</link>
		<comments>http://dawala.wordpress.com/2009/08/27/ngobrol-kamis-sore-bicara-tentang-burung-dan-tumbuhan-obat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 05:34:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dawala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Burung-burung Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Etnobotani]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung Halimun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dawala.wordpress.com/?p=312</guid>
		<description><![CDATA[Kedatangan teman-teman dari LSM di Bogor di Auditorium CICO membuat suasana sore itu menjadi hangat. Yayasan Gibbon Indonesia (YGI) dengan Jaringan Pendidikan Lingkungan (JPL) mengundang  mereka untuk  berbagi cerita dalam “Obrolan Kamis Sore”  yang akan digelar setiap satu bulan sekali. Dan tanggal 13 Agustus 2009, merupakan langkah pertama kegiatan ini.
“Obrolan Kamis Sore” [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dawala.wordpress.com&blog=954324&post=312&subd=dawala&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kedatangan teman-teman dari LSM di Bogor di Auditorium CICO membuat suasana sore itu menjadi hangat. Yayasan Gibbon Indonesia (YGI) dengan Jaringan Pendidikan Lingkungan (JPL) mengundang  mereka untuk  berbagi cerita dalam “Obrolan Kamis Sore”  yang akan digelar setiap satu bulan sekali. Dan tanggal 13 Agustus 2009, merupakan langkah pertama kegiatan ini.</p>
<p>“Obrolan Kamis Sore” kali ini  membicaraka dua isu, antara lain: Peranan Ruang Terbuka Hijau bagi Habitat Burung di Jakarta, yang disampaikan oleh Ady Kristanto dari Jakarta Birdwatching Community. Dan Penggalian Etnobotani, Studi Kasus : Masyarakat Desa Sirnarasa, Gunung Halimun, yang disampaikan Oleh Mega dari PEKA Indonesia.</p>
<p>“Ide acara Ngobrol Kamis Sore adalah, karena di Bogor, beberapa tahun yang lalu pernah ada kegiatan serupa, seperti Bogor Bird Evening dan Bogor Informal Meeting. Saya dari Bandung, setiap satu bulan sekali selalu menyempatkan diri untuk hadir dalam acara ini. Sampai harus menyisihkan uang kuliah, mudah-mudahan kegiatan ini bisa memperat kembali teman-teman LSM, “ kenang Hasudungan Pakpahan, Direktur Yayasan Gibbon Indonesia, saat membuka Ngobrol Kamis Sore.</p>
<p>Rupanya, yang hadir sore itu pun, kebanyakan sudah saling mengenal satu sama lain. Dan sudah cukup lama bergaul di lingkungan LSM. Ada dari Wetlands International, PEKA Indonesia, KKI-IPP, IISES, PILI, WCS, Jakarta Green Monster, Yayasan BOS, Burung Indonesia, KIH, UKF-IPB dan Universitas Indonesia. </p>
<p>Lantas, Ady Kristanto pun menjabarkan isi presentasinya. Dimana sejak tahun 2004, bersama Jakarta Birdwatching Community melakukan pengamatan burung untuk kebutuhan kuliah. Akhirnya, membuahkan hasil, salah satunya mengenai burung-burung yang ada di kawasan Monumen Nasional (Monas). Di sana ada 23 jenis burung.  Beberapa burung yang mudah dikenali di kawasan Monas ada Caladi ulam, Kepodang, Takur ungkut-ungkut.  Dan salah satu burung pindahan dari Muara Angke, yaitu Punai Gading.</p>
<p>Kenapa Punai gading pindah ke Monas dari Muara Angke?<br />
“Dugaan kami, pakan Punai Gading di Muara Angke berkurang. Banyak pohon-pohon yang sudah tua. Di Muara Angke kawasannya semakin menipis, terutama sejak adanya pembangunan Pantai Indah Kapuk. Sementara di Monas, bisa ditemukan ratusan individu Punai gadin,”  jelas Ady Kristanto.</p>
<p>Selain kawasan Monas, burung-burung di sekitar Jakarta juga bisa ditemukan di Taman  Senopati, paling banyak adalah burung Gereja dan menyebabkan burung-burung lainnya menyingkir dari sana. </p>
<p>Dari Kota Jakarta, dimana pengembangan kawasan ruang terbuka hijaunya masih kurang priotas, karena masih mengedepankan pengembangan dibisang bisnis. Obrolan Kamis Sore pun dilanjutkan ke kawasan Gunung Halimun.</p>
<p>Mega dari PEKA Indonesia, menjabarkan bahwa Etnobotani adalah hubungan timbal balik antara masyarakat dengan tumbuh-tumbuhan.  Selama ini Penggalian Potensi Etnobotani di Halimun, dengan studi kasus pada Masyakat Sirnarasa Sukabumi melalui tiga kegiatan, antara lainL Pendidikan Lingkungan Hidup, Community Development dan riset.</p>
<p>Desa Sirnarasa, memiliki tujuh dusun. Saat ini masyarakat di Desa Sirnarasa lebih mengenal obat-obatan warung ketibang obat tradisional.<br />
“Jarang sekali yang menanam tanaman obat di halaman rumahnya, sudah seperti dikota. Sama seperti sayuran, semuanya di supply dari Pelabuhan Ratu dibawa ke atas. “ cerita Mega.</p>
<p>“Berkaitan dengan obat-obatan dan pemanfaatan hasil hutan di kawasan Halimun,  saat ini paling hanya Mak Beurang (dukung beranak) dan Bengkong (tukang sunat) yang masih menggunakan obat-obatan tradisional. Mereka mendapatkan ilmu pengobatan itu dari orangtuanya secara turun temurun, dan hanya mengandalkan ingatan saja, tidak pernah dicatat.”</p>
<p>Tidak hanya pekarangan rumah saja yang jarang ditanami tumbuhan obat, sekolah-sekolah di sekitar Sirnarasa pun  hanya menanam  tumbuhan yang menarik dan banyak bunganya saja. Kalaupun ada tumbuhan obat, biasanya ditemukan dipinggir-pinggir got, seperti kumis kucing.</p>
<p>Sebetulnya tidak hanya di Desa Sirnarasa saja fenomena ini berkembang, di perkotaan pun sama. Halaman sekolah hanya memberikan keindahan pandangan mata, buka pada fungsi tanaman bagi manusia atau pun lingkungan.</p>
<p>Dari cerita Mega, ada tambahan yang menarik dari Hasudungan Pakpahan. Seharusnya ada kerjsama dengan lembaga yang mempunya program ecotourism, untuk menjaga dan melestarikan etnobotani di tiap wilayah. Contohnya Kampung Naga. Dan harus ada apresiasi yang bisa mengenerate income terhadap hal-hal tadi. Gunung Halimun mempunyai potensi besar untuk tujuan wisata.</p>
<p>Usai sudah berbagi cerita tentang burung-burung di kota Jakarta dan tumbuhan obat di kawasan Gunung Halimun. Puas rasanya mendengarkan cerita dari Ady dan Mega. Siapa berikutnya yang akan berbagi cerita? Jangan ragu klik www.gibbon-indonesia.org </p>
<p>Ngobrol Kamis Sore Bicara Tentang Burung dan Tumbuhan Obat</p>
<p>Kedatangan teman-teman dari LSM di Bogor di Auditorium CICO membuat suasana sore itu menjadi hangat. Yayasan Gibbon Indonesia (YGI) dengan Jaringan Pendidikan Lingkungan (JPL) mengundang  mereka untuk  berbagi cerita dalam “Obrolan Kamis Sore”  yang akan digelar setiap satu bulan sekali. Dan tanggal 13 Agustus 2009, merupakan langkah pertama kegiatan ini.</p>
<p>“Obrolan Kamis Sore” kali ini  membicaraka dua isu, antara lain: Peranan Ruang Terbuka Hijau bagi Habitat Burung di Jakarta, yang disampaikan oleh Ady Kristanto dari Jakarta Birdwatching Community. Dan Penggalian Etnobotani, Studi Kasus : Masyarakat Desa Sirnarasa, Gunung Halimun, yang disampaikan Oleh Mega dari PEKA Indonesia.</p>
<p>“Ide acara Ngobrol Kamis Sore adalah, karena di Bogor, beberapa tahun yang lalu pernah ada kegiatan serupa, seperti Bogor Bird Evening dan Bogor Informal Meeting. Saya dari Bandung, setiap satu bulan sekali selalu menyempatkan diri untuk hadir dalam acara ini. Sampai harus menyisihkan uang kuliah, mudah-mudahan kegiatan ini bisa memperat kembali teman-teman LSM, “ kenang Hasudungan Pakpahan, Direktur Yayasan Gibbon Indonesia, saat membuka Ngobrol Kamis Sore.</p>
<p>Rupanya, yang hadir sore itu pun, kebanyakan sudah saling mengenal satu sama lain. Dan sudah cukup lama bergaul di lingkungan LSM. Ada dari Wetlands International, PEKA Indonesia, KKI-IPP, IISES, PILI, WCS, Jakarta Green Monster, Yayasan BOS, Burung Indonesia, KIH, UKF-IPB dan Universitas Indonesia. </p>
<p>Lantas, Ady Kristanto pun menjabarkan isi presentasinya. Dimana sejak tahun 2004, bersama Jakarta Birdwatching Community melakukan pengamatan burung untuk kebutuhan kuliah. Akhirnya, membuahkan hasil, salah satunya mengenai burung-burung yang ada di kawasan Monumen Nasional (Monas). Di sana ada 23 jenis burung.  Beberapa burung yang mudah dikenali di kawasan Monas ada Caladi ulam, Kepodang, Takur ungkut-ungkut.  Dan salah satu burung pindahan dari Muara Angke, yaitu Punai Gading.</p>
<p>Kenapa Punai gading pindah ke Monas dari Muara Angke?<br />
“Dugaan kami, pakan Punai Gading di Muara Angke berkurang. Banyak pohon-pohon yang sudah tua. Di Muara Angke kawasannya semakin menipis, terutama sejak adanya pembangunan Pantai Indah Kapuk. Sementara di Monas, bisa ditemukan ratusan individu Punai gadin,”  jelas Ady Kristanto.</p>
<p>Selain kawasan Monas, burung-burung di sekitar Jakarta juga bisa ditemukan di Taman  Senopati, paling banyak adalah burung Gereja dan menyebabkan burung-burung lainnya menyingkir dari sana. </p>
<p>Dari Kota Jakarta, dimana pengembangan kawasan ruang terbuka hijaunya masih kurang priotas, karena masih mengedepankan pengembangan dibisang bisnis. Obrolan Kamis Sore pun dilanjutkan ke kawasan Gunung Halimun.</p>
<p>Mega dari PEKA Indonesia, menjabarkan bahwa Etnobotani adalah hubungan timbal balik antara masyarakat dengan tumbuh-tumbuhan.  Selama ini Penggalian Potensi Etnobotani di Halimun, dengan studi kasus pada Masyakat Sirnarasa Sukabumi melalui tiga kegiatan, antara lainL Pendidikan Lingkungan Hidup, Community Development dan riset.</p>
<p>Desa Sirnarasa, memiliki tujuh dusun. Saat ini masyarakat di Desa Sirnarasa lebih mengenal obat-obatan warung ketibang obat tradisional.<br />
“Jarang sekali yang menanam tanaman obat di halaman rumahnya, sudah seperti dikota. Sama seperti sayuran, semuanya di supply dari Pelabuhan Ratu dibawa ke atas. “ cerita Mega.</p>
<p>“Berkaitan dengan obat-obatan dan pemanfaatan hasil hutan di kawasan Halimun,  saat ini paling hanya Mak Beurang (dukung beranak) dan Bengkong (tukang sunat) yang masih menggunakan obat-obatan tradisional. Mereka mendapatkan ilmu pengobatan itu dari orangtuanya secara turun temurun, dan hanya mengandalkan ingatan saja, tidak pernah dicatat.”</p>
<p>Tidak hanya pekarangan rumah saja yang jarang ditanami tumbuhan obat, sekolah-sekolah di sekitar Sirnarasa pun  hanya menanam  tumbuhan yang menarik dan banyak bunganya saja. Kalaupun ada tumbuhan obat, biasanya ditemukan dipinggir-pinggir got, seperti kumis kucing.</p>
<p>Sebetulnya tidak hanya di Desa Sirnarasa saja fenomena ini berkembang, di perkotaan pun sama. Halaman sekolah hanya memberikan keindahan pandangan mata, buka pada fungsi tanaman bagi manusia atau pun lingkungan.</p>
<p>Dari cerita Mega, ada tambahan yang menarik dari Hasudungan Pakpahan. Seharusnya ada kerjsama dengan lembaga yang mempunya program ecotourism, untuk menjaga dan melestarikan etnobotani di tiap wilayah. Contohnya Kampung Naga. Dan harus ada apresiasi yang bisa mengenerate income terhadap hal-hal tadi. Gunung Halimun mempunyai potensi besar untuk tujuan wisata.</p>
<p>Usai sudah berbagi cerita tentang burung-burung di kota Jakarta dan tumbuhan obat di kawasan Gunung Halimun. Puas rasanya mendengarkan cerita dari Ady dan Mega. Siapa berikutnya yang akan berbagi cerita? Jangan ragu klik www.gibbon-indonesia.org </p>
Posted in Lingkungan Tagged: Burung-burung Jakarta, Etnobotani, Gunung Halimun <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dawala.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dawala.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dawala.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dawala.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dawala.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dawala.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dawala.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dawala.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dawala.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dawala.wordpress.com/312/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dawala.wordpress.com&blog=954324&post=312&subd=dawala&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dawala.wordpress.com/2009/08/27/ngobrol-kamis-sore-bicara-tentang-burung-dan-tumbuhan-obat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c561c3b32c7782d0c43d20152b6bae7?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">dawala</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kejutan Menjelang Puasa</title>
		<link>http://dawala.wordpress.com/2009/08/21/kejutan-menjelang-puasa/</link>
		<comments>http://dawala.wordpress.com/2009/08/21/kejutan-menjelang-puasa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 03:50:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dawala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dawala.wordpress.com/?p=308</guid>
		<description><![CDATA[Kalau dipikir-pikir, menjelang puasa ini banyak sekali kejutan buat saya. Entah yang menyenangkan atau yang menyebalkan. Tapi, kita bicara yang menyenangkan saja ya&#8230;pamali ngomong yang menyebalkan, apalagi mau puasa.
Mulai dari pengumuman beasiswa untuk penulisan naskah panjang yang disponsori oleh Eka Tjipta Foundation, sim kuring kapilih jadi salah sahiji penerimanya&#8230;ini berita baik buat saya, sekaligus menanggung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dawala.wordpress.com&blog=954324&post=308&subd=dawala&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kalau dipikir-pikir, menjelang puasa in<img class="alignleft size-medium wp-image-309" title="IMG_0011" src="http://dawala.files.wordpress.com/2009/08/img_0011.jpg?w=240&#038;h=180" alt="IMG_0011" width="240" height="180" />i banyak sekali kejutan buat saya. Entah yang menyenangkan atau yang menyebalkan. Tapi, kita bicara yang menyenangkan saja ya&#8230;<em>pamali </em>ngomong yang menyebalkan, apalagi mau puasa.</p>
<p>Mulai dari pengumuman beasiswa untuk penulisan naskah panjang yang disponsori oleh Eka Tjipta Foundation, <em>sim kuring kapilih jadi salah sahiji penerimanya&#8230;</em>ini berita baik buat saya, sekaligus menanggung beban berat&#8230;kenapa beban, karena disini saya bersama enam orang lainnya harus mampu &#8220;menciptakan&#8221;  bukan menjadi &#8220;tukang&#8221;, seperti komentar Mas Andreas Harsono di Fesbuk.</p>
<p>Terus, kejutan lainnya tanggal 18 Agustus 09 kemaren, saya ketemu sama temen-temen jaman baheula,  saat masih suka nongkrong di Jembatan Merah, tepatnya di samping Bharata, studio photo. Anak-anak nongkrong ini, menamakan dirinya basecamp&#8230;kumpulan anak-anak yang seneng nongkrong selepas pulang dari kampus masing-masing. Sekumpulan lelaki berambut gondrong dan pencinta musik metal&#8230;.wah! mantaplah pokoknya mah:)</p>
<p>Pertemuannya itu di rumah Zinul, dia mengadakan syukuran karena terpilih menjadi wakil rakyat alias duduk di kursi DPR Kota Bogor, dari partai PPP. Alhamdulillah, semoga jadi wakil rakyat yang amanah ya&#8230;.</p>
<p>Dan, tadi malam adalah kejutan yang betul-betul kejutan&#8230;tiba-tiba Een Irawan, dari Komunitas Peduli Ciliwung minta saya jadi MC di acara penyerahan hadiah lomba Ciliwung bersih&#8230;.ah! ada-ada aja&#8230;.sudah lama gak jadi MC niy Een&#8230;.</p>
<p>Akhirnya, tadi pagi jadilah saya MC dadakan&#8230;lumayan siy, manggung di Kelurahan Sempur, gak banyak yang <em>ngeh</em>, kalau saya banyak salah jadi MC&#8230;itulah kejutan-kejutan yang menyenangkan&#8230;.</p>
Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dawala.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dawala.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dawala.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dawala.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dawala.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dawala.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dawala.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dawala.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dawala.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dawala.wordpress.com/308/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dawala.wordpress.com&blog=954324&post=308&subd=dawala&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dawala.wordpress.com/2009/08/21/kejutan-menjelang-puasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c561c3b32c7782d0c43d20152b6bae7?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">dawala</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dawala.files.wordpress.com/2009/08/img_0011.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0011</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Komunitas Wiken Tanpa Ke Mall</title>
		<link>http://dawala.wordpress.com/2009/06/15/komunitas-wiken-tanpa-ke-mall/</link>
		<comments>http://dawala.wordpress.com/2009/06/15/komunitas-wiken-tanpa-ke-mall/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 07:49:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dawala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dawala.wordpress.com/?p=302</guid>
		<description><![CDATA[Awalnya sering ngumpul bareng. Seperti waktu 17 Agustus, kami buat Kemah Merah Putih. Terus, waktu Nopember ada Kemah Pelangi. Kegiatan ini dibuat tanpa membedakan SARA. Siapa pun boleh ikut. Orang kota kadang mengalami kejenuhan, liburan harus ke mall terus, mahal juga beli makannya. “
<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dawala.wordpress.com&blog=954324&post=302&subd=dawala&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignright size-medium wp-image-303" title="WTM_01" src="http://dawala.files.wordpress.com/2009/06/wtm_01.jpg?w=300&#038;h=201" alt="WTM_01" width="300" height="201" />Ragunan, di hari libur penuh dengan pengunjung yang hendak piknik. Apalagi menjelang akhir tahun ajaran sekolah. Di setiap ruang terbuka Ragunan, nampak anak-anak kecil berseragam taman kanak-kanak [TK] memadati lapangan rumput. Ya, Ragunan juga dijadikan ruang perpisahan atau pembagian buku rapot anak-anak TK di Jabodetabek.</p>
<p>Tak hanya anak-anak TK yang meramaikan Ragunan pada Sabtu, 13 Juni 2009 kemarin. Ada komunitas pencinta liburan alternatif, yang menamakan dirinya komunitas Wiken Tanpa Ke Mall [WTM] yang bermain di Ragunan. Nama yang unik dan menggelitik rasa ingin tahu. Komunitas ini diprakarsai oleh Iwan Esjepe dan Indah Esjepe, pasangan suami istri yang sama-sama menyukai kegiatan alam bebas dan peduli dengan Indonesia. Dibawah rimbunnya pohon, sambil duduk di atas tikar bekas banner, Indah Esjepe berbagi cerita tentang WTM ini.</p>
<p>“Awalnya sering ngumpul bareng. Seperti waktu 17 Agustus, kami buat Kemah Merah Putih. Terus, waktu Nopember ada Kemah Pelangi. Kegiatan ini dibuat tanpa membedakan SARA. Siapa pun boleh ikut. Orang kota kadang mengalami kejenuhan, liburan harus ke mall terus, mahal juga beli makannya. “  Kaos kuning, bertuliskan “Jangan Ragu Ragunan”  dikenakan seluruh peserta WTM sangat pas dengan cuaca  hari itu. Matahari menebarkan sinarnya di Ragunan.   &#8220;Jangan Ragu Ragunan&#8221;  adalah  kegiatan perdana  WTM.</p>
<p>Aditiyayoga, seorang graphic desain,  hari itu didaulat menjadi ketua pelaksana kegiatan. Ia  menjelaskan alasan kenapa Ragunan yang dipilih.  “Ya, dulu orang beranggapan Ragunan itu buruk banget. Ternyata sekarang fasilitasnya sangat mendukung. Ragunan sudah beradab lah…Sudah ada halte-halte, jadi kalo ke ujanan bisa berteduh. Ruang terbukanya juga sudah banyak. Ya, Ragunana memberikan kemudahan, sanagt diluar perkiraan selama ini,” jelas Aditiya.</p>
<p>Lantas kemana saja rute WTM I di Ragunan ini?</p>
<p>Peserta datang sendiri-sendiri menuju Ragunan dan berkumpul di pintu utama, dekat halte Trans Jakarta. Kira-kira jam 07.30 mereka berangkat menuju pos pertama. Yaitu kandang ular.</p>
<p>“Di sini, ada SIOUX, komunitas pencinta ular yang membantu menjelaskan perihal ular. Selama ini ular dianggap menakutkan, padahal ular juga menjadi penyeimbang alam, terutama untuk hama tikus,” jelas pria berambut gondrong ini.  Dari kandang ular, peserta WTM, melanjutkan perjalanannya ke kandang burung. Ada permainan ular tangga ukuran 4 x 4 meter yang dimainkan peserta di sana.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-304" title="WTM_02" src="http://dawala.files.wordpress.com/2009/06/wtm_02.jpg?w=300&#038;h=293" alt="WTM_02" width="300" height="293" />Plus beberapa quiz yang jawabannya bisa ditemukan di kandang burung. Selepas dari kandang burung, peserta yang dibagi menjadi 10 kelompok ini, diajak melihat orangutan di rumah Ulrike von Mengden. Dari rumah orangutan,  peserta WTM membuat mainan tradisional dari daun kelapa, yaitu keris. Dan bermain galah asin, untuk semua tim. Seru!  Lalu apalagi yang dilakukan pesertanya? Di pos terakhir, tepatnya di lapangan sebelah Pusat Primata Schmutzer, masing-masing kelompok melukis tong sampah.</p>
<p>Tong-tong sampah dari drum sudah disipakan panitia, berjejer di lapangan rumput. Juga kaleng-kaleng cat berwarna biru, merah dan kuning serta kuas.  Setiap kelompok dengan asyiknya, melukis tong sampah bekas drum yang sudah diberi cat dasar berwarna putih. Ada jugaa yang mengganti cat dasarnya dengan warna kuning, baru membuat sketsa gambar binatang. Kelompok lain ada yang langsung menyapukan kuasnya ke atas tong sampah. Sekelompok anak-anak kecil yang ditemani oleh pendampingnya, Rangga , terlihat tak sabar dan ribut ingin segera menyapukan kuasnya ke atas tong sampah.</p>
<p>Kaleng-kaleng cat pun segera dibuka dan dicampur dengan warna-warna yang tersedia. Tetesan cat tumpah ke atas rumput. Sayang, tidak disediakan alas untuk kaleng-kaleng cat itu, sehingga mengotori rumput di Ragunan.  Jalan-jalan ala Wiken Tanpa Ke Mall, relatif murah biayanya. Keliling di Ragunan, kemarin, biayanya Rp. 75.000,-/orang. Dewasa dan anak-anak sama harganya. Mereka dapat kaos, snack pagi dan makan siang. Banyak hal yang bermanfaat bisa dibawa pulang peserta.</p>
<p>Ya, sesuai dengan tujuan Wiken Tanpa Ke Mall, bahwa liburan tidak harus ke mall, tapi harus ada nilai pendidikannya. Seperti permainan tradisional dan melukis tong sampah tadi. Hasilnya mereka sumbangkan ke Ragunan.  Lantas kemana acara Wiken Tanpa Ke Mall berikutnya? Kata Aditia masih rahasia, mungkin saja ke musium. Kalau tidak mau ketinggalan acara Wiken Tanpa Ke Mall, coba klik : http://wikentanpakemall.multiply.com. Kemana liburan weekend Anda kali ini? Ingat! Tidak harus ke mall!!!</p>
Posted in Lingkungan  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dawala.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dawala.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dawala.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dawala.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dawala.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dawala.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dawala.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dawala.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dawala.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dawala.wordpress.com/302/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dawala.wordpress.com&blog=954324&post=302&subd=dawala&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dawala.wordpress.com/2009/06/15/komunitas-wiken-tanpa-ke-mall/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c561c3b32c7782d0c43d20152b6bae7?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">dawala</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dawala.files.wordpress.com/2009/06/wtm_01.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">WTM_01</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dawala.files.wordpress.com/2009/06/wtm_02.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">WTM_02</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Laskar Karung membersihkan Tjiliwoeng</title>
		<link>http://dawala.wordpress.com/2009/05/15/laskar-karung-membersihkan-tjiliwoeng/</link>
		<comments>http://dawala.wordpress.com/2009/05/15/laskar-karung-membersihkan-tjiliwoeng/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 04:39:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dawala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Ciliwung]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Induk Jambu Dua]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Geulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dawala.wordpress.com/2009/05/15/laskar-karung-membersihkan-tjiliwoeng/</guid>
		<description><![CDATA[Author : Irma Dana
VIVAnews &#8211; Setiap Sabtu pasti ada SMS masuk ke handphone, isinya ajakan untuk bersih-bersih kali Ciliwung di hari Minggu setiap jam 7.30 pagi. Pengirimnya biasanya Hapsoro dan Hari Kikuk. Dua orang inilah yang pertama kali saya kenal di komunitas Tjiliwoeng Dreams.
Nah! Aksi mulung sampah plastik yang ke delapan, tepatnya tanggal 3 Mei [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dawala.wordpress.com&blog=954324&post=298&subd=dawala&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Author : Irma Dana</p>
<p>VIVAnews &#8211; Setiap Sabtu pasti ada SMS masuk ke handphone, isinya ajakan untuk bersih-bersih kali Ciliwung di hari Minggu setiap jam 7.30 pagi. Pengirimnya biasanya Hapsoro dan Hari Kikuk. Dua orang inilah yang pertama kali saya kenal di komunitas Tjiliwoeng Dreams.</p>
<p>Nah! Aksi mulung sampah plastik yang ke delapan, tepatnya tanggal 3 Mei 2009 lalu, lokasinya di bawah jembatan Lebak Kantin, persis di sebelah lapangan Sempur, Bogor. Tidak sulit menuju lapangan Sempur, cukup sekali naik angkot saja dari Jl. Ahmad Yani, Bogor tempat saya tinggal.</p>
<p>Paling sulit adalah mencari celah untuk parkir dan duduk saat tiba di lapangan Sempur. Kenapa? Karena setiap hari Minggu, di lapangan Sempur penuh sesak dengan tukang jualan segala macam barang. Semua warga Bogor seperti mau manasik haji di lapangan Sempur. Sambil menunggu Laskar Karung, sebutan untuk relawan yang mau gabung mengambil sampah plastik di bantaran sungai Ciliwung.</p>
<p>Nampak Hapsoro, Zaki dan Hendri berdiri dekat lapangan basket. Zaki menjadi koordinator lapangan aksi mulung ke delapan ini. Sambil menunggu relawan yang datang, saya sarapan bubur. Tapi, hampir satu jam lamanya menunggu, relawan Laskar Karung belum juga bertambah. Memang sih, setiap minggu jumlahnya selalu berubah. Seperti halnya saya, yang bisa dua minggu sekali ikut bersih-bersih Ciliwung.</p>
<p>Tak lama datang Muslih (26), salah satu relawan yang tinggal di Tegallega &#8211; Bogor. Dia sudah delapan tahun tinggal di Bogor. Sejak kuliah di Kehutanan &#8211; Institut Pertanian Bogor. Kenapa Muslih Peduli dengan Ciliwung, padahal dia bukan asli orang Bogor?</p>
<p>&#8220;Di mana kita tinggal kita harus aware dengan lingkungan dan memberikan sesuatu sama masyarakat sekitar. Ide awalnya kegiatan ini dari Hapsoro dan Hari Kikuk, mereka suka jalan-jalan di Ciliwung, karena sering ngobrol-ngobrol, terus mau ngapain? jadi tertantang untuk membuat aksi nyata di Ciliwung,&#8221; kata Muslih saat ditanya kenapa peduli dengan Ciliwung.<span id="more-298"></span></p>
<p>Dari delapan kali kegiatan mulung sampah ini, saya hanya ikut empat kali saja. Selain di Lebak Kantin, pernah juga ikut mulung di Pulau Geulis dan Pasar Induk Jambu Dua, Bogor. Masing-masing lokasi punya ciri khas tersendiri. Misalnya, saat mulung di Pulau Geulis, Pasar Bogor. Lokasinya tepat di antara pemukiman penduduk. Laskar Karung dibagi ke dalam dua kelompok saat mulung di Pulau Geulis. Jadi, kami bersebarangan.</p>
<p>Tepat di lokasi saya mulung, banyak kotoran manusia yang mengalir ke Ciliwung. Bahkan masih berserakan di bantaran serta dinding rumah penduduk. Bahkan Raifi, sempat tak sengaja tangannya kena kotoran manusia. Saya sendiri sempat mual-mual mencium bau tak sedap dari kotoran itu.</p>
<p>Walaupun masih ada yang buang air besar ke Ciliwung, anak-anak kecil yang tinggal di Pulau Geulis tetap asyik berenang di sungai. Bahkan mereka sempat membantu kami mengambil karung-karung sampah menyebrangi sungai. Padahal di hulu ada seorang pria yang sedang buang hajat. Duh Gusti! Apes bener anak-anak itu. Sempat kapok, tidak mau ikutan aksi mulung lagi. Kapok nyium dan lihat tahi.</p>
<p>Kalau di Pulau Geulis, banyak tahi di pinggiran kali. Saat aksi mulung keenam di Pasar Induk Jambu Dua, yang banyak adalah sampah pasar. Mulai dari sayuran, buah, juga ikan busuk. Tak luput sampah plastik pembungkus jeruk. Pedagang buah dengan seenaknya membuang jeruk mandarin busuk yang masih terbungkus plastik ke bantaran sungai. Ada juga tumpukan pepaya yang membusuk. Bahkan saya sempat mual, mencium ikan busuk di dalam kantong plastik.</p>
<p>Saat mulung sampah di Pasar Induk Jambu Dua ini kami agak kerepotan untuk turun ke bantaran sungai. Kami harus menggunakan tangga bambu untuk turun ke bantaran. Cuma itu satu-satunya cara. Secara bergantian kami turun. Sementara di bawah nampak tumpukan pepaya yang sudah membusuk.</p>
<p>Selain relawan yang sudah biasa ikutan mulung. Saat di Pasar Induk, saya sempat berkenalan dengan karyawan Perfetti van Melle. Mereka datang sekitar 10 orang. Ketika ditanya kenapa ikutan mulung, ternyata HRD menjadikan aksi mulung di Ciliwung masuk dalam program dua minguan untuk lingkungan. Pesertanya juga selalu bergantian. Tergantung libur karyawan.</p>
<p>Di mulung ke delapan inilah saya baru sempat mewancarai Hari Kikuk si empunya ide. Hari Kikuk dengan rambut keritingnya, setiap kali mulung selalu semangat. Nggak pernah kelihatan cape, mukanya selalu sumringah.</p>
<p>Waktu ditanya kenapa Hari semangat dengan aksi mulung sampah, dengan logat jawanya yang masih kental, dia mencurahkan perasaannya. &#8220;Aku kan tinggal di Bogor, buang sampah di Bogor, BAB di Bogor, cari nafkah juga di Bogor. Aku ingin kontribusi. Masyarakat masih buang ke sungai, khususnya di bantaran. Padahal ada bak sampah. Apa bak sampah harus disediakan di setiap rumah? Bogor kan kota hujan, sampah di manapun pasti larinya ke sungai,&#8221; kata Hari terus nyerocos mencurahkan isi hatinya.</p>
<p>Hari berpikir, pemerintah harus serius menangani masalah sampah di Bogor. Hari juga berpikir, selama ini sampah yang diambil oleh petugas kebersihan hanya sampah yang ada dipinggir jalan saja. Lantas, sampah rumah tangga yang ada di gang bagaimana?</p>
<p>Pria berumur 30 tahun ini sedang menanti kelahiran bayinya. Apakah istrinya marah, dengan aksi mulung sampah setiap minggu? &#8220;Istriku nggak marah, rela, ikhlas. Harapanya, sungai Ciliwung bisa bersih, gak gatel kalau dipakai mandi. Masih banyak anak-anak dan orang dewasa mandi di sungai Ciliwung, tetapi banyak limbah dibuang ke sungai. Pokoknya perlu dukungan semua kalangan untuk aksi Ciliwung,&#8221; kata Hari.</p>
<p>&#8220;Aku dari kecil kan mulung sampah, sampai SMP buat biaya sekolah. Setelah itu berhenti, jadi buat aku mulung sampah itu biasa,&#8221; jelas Hari sambil memilah-milah sampah plastik.</p>
<p>Aku jadi termangu dan tersadar. Hari yang bukan orang Bogor asli mau peduli dengan kebersihan sungai Ciliwung. Lantas bagaiamana dengan orang Bogor, terutama masyarakat yang tinggal di dekat bantaran sungai Ciliwung?</p>
<p>Ahmad Hafid (54) Ketua RT 03 RW 06, Lebak Kantin, Bogor yang sempat saya temui di warung gado-gado. Tepat di atas bantaran sungai Ciliwung bercerita bahwa di Lebak Kantin ada kerja bakti sebulan sekali. Tetapi bukan membersihkan sungai Ciliwung.</p>
<p>Warga hanya membabat rumput yang sudah tinggi. &#8220;Pengin Ciliwung bersih, tidak ada sampah. Sekarang masih ada yang mandi di sungai. Masih ada yang buang saluran kamar mandi ke sungai. Ada juga yang punya septic tank,&#8221; jelas Ahmad saat ditanya tentang pembuangan sampah ke Ciliwung.</p>
<p>Menurut Ahmad, banyak warga yang buang saluran kamar mandi ke sungai karena rumah yang berdempetan, dan masih menggunakan sumur. Warga khawatir, kalau membuat septic tank resapannya akan masuk ke dalam sumur, sehingga airnya tidak bisa diminum. Walhasil, warga Lebak Kantin masih ada yang buang ke sungai Ciliwung. Ironis!</p>
<p>Sambil melepas lelah, saya duduk di atas bebatuan. Tiba-tiba pandangan mata tertuju pada tiga gadis remaja yang menenteng karung. Rasanya, saat berangkat mulung sampah dari lapangan basket Sempur, saya tak sempat melihat tampang ketiganya.</p>
<p>Iseng-iseng saya menghampiri ketiganya. Masih imut-imut. Tak salah, mereka masih duduk di bangku SMP. Setelah saya tegur, mereka memperkenalkan dirinya. Ada Reni, Desta dan Lela alias Cule. Ketiganya baru selesai menjalani ujian akhir nasional.</p>
<p>Pagi itu, mereka berolah raga di lapangan Sempur. Saat melintasi jembatan dan mata memandang ke bawah jembatan, ada yang menarik perhatian mereka. &#8220;Dikira lagi main-main waktu dilihat dari atas, kok pada ngambilin sampah. Penasaran turun aja. Terus minta karungnya. Asyik juga ternyata ya. Sebenernya jijik, tapi kalau buat lingkungan kenapa nggak?&#8221; lontar Cule.</p>
<p>Reni, Desta dan Cule biasanya berolah raga ke Cibinong. Tapi minggu lalu, mereka sengaja ingin mampir ke Bogor. Ketiganya memiliki hobi yang sama. Ya, sama-sama suka jalan pagi. Atau sekedar berjalan-jalan ke kebun, sungai sekedar main saja. Mereka senang kegiatan alam bebas. Saat ditanya, tidak takut hitam karena terkena sinar matahari, Reni menjawab, &#8220;Nggak lah, kan sudah hitam, jadi nggak takut lagi,&#8221; sambil menunjukkan tangannya. Ketiganya memang hitam manis. Jadi mereka tidak peduli dengan panasnya Bogor saat kegiatan mulung kemarin.</p>
<p>Anda mau menjadi relawan laskar karung seperti Reni, Desta dan Cule? Silahkan buka http://www.tjiliwoeng.co.cc.</p>
Posted in Lingkungan Tagged: Ciliwung, Pasar Induk Jambu Dua, Pulau Geulis <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dawala.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dawala.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dawala.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dawala.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dawala.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dawala.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dawala.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dawala.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dawala.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dawala.wordpress.com/298/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dawala.wordpress.com&blog=954324&post=298&subd=dawala&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dawala.wordpress.com/2009/05/15/laskar-karung-membersihkan-tjiliwoeng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c561c3b32c7782d0c43d20152b6bae7?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">dawala</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hari Kikuk, Tak Kikuk Saat Mulung Sampah</title>
		<link>http://dawala.wordpress.com/2009/05/07/hari-kikuk-tak-kikuk-saat-harus-mulung-sampah/</link>
		<comments>http://dawala.wordpress.com/2009/05/07/hari-kikuk-tak-kikuk-saat-harus-mulung-sampah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 May 2009 08:23:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dawala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Ciliwung]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan Ciliwung]]></category>
		<category><![CDATA[Sampah di Ciliwung]]></category>
		<category><![CDATA[Tjiliwoeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dawala.wordpress.com/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[Setiap sabtu pasti ada sms masuk ke hp, isinya mengajak untuk bersi-bersih kali Ciliwung. Nah! Aksi mulung sampah plastik yang ke delapan ini, kembali ke jembatan Lebak Kantin, persis di sebelah lapangan Sempur, Bogor.
Tidak sulit menuju lapangan, Sempur, cukup sekali naik angkot saja dari Warung Jambu. Paling sulit adalah mencari celah untuk duduk di lapangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dawala.wordpress.com&blog=954324&post=286&subd=dawala&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft size-medium wp-image-293" title="hari-kikuk1" src="http://dawala.files.wordpress.com/2009/05/hari-kikuk1.jpg?w=225&#038;h=300" alt="hari-kikuk1" width="225" height="300" />Setiap sabtu pasti ada sms masuk ke hp, isinya mengajak untuk bersi-bersih kali Ciliwung. Nah! Aksi mulung sampah plastik yang ke delapan ini, kembali ke jembatan Lebak Kantin, persis di sebelah lapangan Sempur, Bogor.</p>
<p>Tidak sulit menuju lapangan, Sempur, cukup sekali naik angkot saja dari Warung Jambu. Paling sulit adalah mencari celah untuk duduk di lapangan basketnya. Kenapa? Karena setiap hari Minggu, di lapangan Sempur penuh sesak dengan tukang jualan segala macam barang. Semua warga Bogor sepertinya tumpah ruah, mau umroh di lapangan Sempur.</p>
<p>Balik ke acara mulung sampah 3 Mei 09. Begitu sampai di lapangan basket Sempur, sudah ada Hapsoro, Zaki dan Hendri. Rencanya mulung sampah sekitar 07.30, hingga jam setengah sembilan, belum juga dimulai.</p>
<p>Setelah Hari Kikuk membagikan karung, dan Zaki memberikan pengarahan, dia kebagian jadi koorlap mulung ke delapan, relawan pun langung menuju jembatan Lebak Kantin. Namanya juga sukarela, jadi ya peserta mulung kali ini pun tidak terlalu banyak. Selalu turun naik pesertanya. Aku pun hanya dua minggu sekali bisa gabung dengan teman-teman.</p>
<p>Colek sana, colek sini. Sampah plastiknya semakin banyak. Lilitannya pun semakin tebal. Rasanya baru dua bulan lalu, ikut mengais sampah di bawah jembatan Lebak Kantin. Tapi, sampahnya tetap saja banyak.</p>
<p>Iseng-iseng aku tergelitik mewawancar Hari Kikuk. Setiap kali mulung dia selalu semangat. Gak pernah kelihatan cape, mukanya selalu sumringah.  Waktu ditanya kenapa Hari semangat dengan aksi mulung sampah. Dengan logat jawanya yang masih kental, dia mencurahkan perasaannya.</p>
<p>“ Aku kan tinggal di Bogor, buang sampah di Bogor, BAB di Bogor, cari nafkah juga di Bogor. Aku ingin kontribusi. Masyarakat masih buang ke sungai, khususnya di bantaran. Padahal ada bak sampah. Apa bak sampah harus disediakan di setiap rumah? Bogor kan kota hujan, sampah dimanapun pasti larinya ke sungai,” Hari terus nyerocos mencurahkan isi hatinya.</p>
<p>Hari juga berpikir, pemerintah harus serius menangani masalah sampah di Bogor. Hari berpikir, selama ini sampah yang diambil oleh petugas kebersihan hanya sampah yang ada dipinggir jalan saja. Lantas, sampah rumah tangga yang ada di gang bagaimana?</p>
<p>Pria berumur 30 tahun ini sedang menanti kelahiran bayinya. Apakah<img class="alignright size-medium wp-image-294" title="hari-kikuk-21" src="http://dawala.files.wordpress.com/2009/05/hari-kikuk-21.jpg?w=300&#038;h=225" alt="hari-kikuk-21" width="300" height="225" /> istrinya marah, dengan aksi mulung sampah setiap minggu?</p>
<p>“ Istriku gak marah, rela, ikhlas. Harapanya, sungai Ciliwung bisa bersih, gak gatel kalo dipake mandi.  Masih banyak anak-anak  dan orang dewasa mandi di sungai Ciliwung, tapi banyak limbah dibuang ke sungai. Pokoknya perlu dukungan semua kalangan untuk aksi Ciliwung,” Jawab Hari.</p>
<p>Anda mau menjadi relawan seperti Hari?  Silahkan buka http://www.tjiliwoeng.co.cc</p>
Posted in Lingkungan Tagged: Ciliwung, Lingkungan Ciliwung, Sampah di Ciliwung, Tjiliwoeng <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dawala.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dawala.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dawala.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dawala.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dawala.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dawala.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dawala.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dawala.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dawala.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dawala.wordpress.com/286/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dawala.wordpress.com&blog=954324&post=286&subd=dawala&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dawala.wordpress.com/2009/05/07/hari-kikuk-tak-kikuk-saat-harus-mulung-sampah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c561c3b32c7782d0c43d20152b6bae7?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">dawala</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dawala.files.wordpress.com/2009/05/hari-kikuk1.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">hari-kikuk1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dawala.files.wordpress.com/2009/05/hari-kikuk-21.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">hari-kikuk-21</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>