Lika Liku Hidup Putu Oka Sukanta

image004“ Kok seperti di kelurahan mau mendengarkan Babinsa ngomong ya,” celetuk Putu Oka Sukanta saat hendak memulai acara diskusi di rumahnya. Akhirnya, kami bersama-sama membetulkan kursi membentuk setengah lingkaran.

Pria berambut putih ini, sudah berusia 70 tahun. Masih terlihat segar dan energik. Taman Sringanis di Cipaku, Bogor adalah, kebun obat seluas 1000 meter persegi yang dia kunjunginya sewaktu-waktu saja. Putu Oka lebih banyak mengisi harinya di Rawamangun, Jakarta.

“ Anda mau tahu apa sih tentang saya? Apa Anda pernah baca tulisan saya?” pertanyaan itu dilontarkan Putu Oka pada peserta kursus Penulisan Narasi dari Eka Tjipta Foundation.

Belum sempat Fahri Salam, moderator, membuka acara, pertanyaan dari Elisa membuka diskusi pagi itu.

“Bapak sering bicara tentang tahun 65, kami angkatan 80, apa yang terjadi? Kami hanya tahu dari film G 30 SPKI saja”.

“Tidak ada yang tahu, siapa yang buat skenario film itu. Anda mau baca Merajut Harkat, akan tahu,” Ia menyebutkan salah satu novelnya. Putu Oka melanjutkan penjelasannya seputar G 30 SPKI.

“30 SPKI sebenarnya 1 Oktober 65, diculik dan dibunuhnya beberapa jenderal oleh Cakrabirawa. Tanggal 2 Oktober 65, fase kedua bentuk kekerasan negara pada pada rakyat oleh serdadu yang memobilisasi milisi sipil. Tidak punya KTP, dianggap PKI, di penjara. Di Bali, 120 ribu orang dibunuh. Fase tiga, ditahan, diperiksa diadili. Kelompok dua dibunuh, ketiga dibuang ke Pulau Buru, selama 10 tahun ”

“Jadi, sebelum RPKAD datang dan masuk di suatu wilayah, tidak pernah ada kekerasan. Semacam skenario bahwa di rumah-rumah PKI ada lubang-lubang untuk menguburkan korban. Skenario ini seragam, tidak hanya di Indonesia saja, juga di Chile,” dengan runut Putu menceritakannnya pada kami.

Selama di penjara, tidak tersedia pensil dan kertas. Untuk menulis, hanyalah awan dan langit. Siksaan yang berat, selama di penjara tidak boleh kreatif. “Masa mengambang selama 32 tahun, mendengar nama komunis saja orang takut, apiori. Anda dicuci, dari takut jadi benci.”

Dengan semangat, Putu Oka terus bercerita saat tahun 1965. Bahkan dia pernah menyandang gelar ex-tapol di KTPnya. Akibat gelar ex-tapol di KP, T Putu Oka dan istrinya, Endah memutuskan tidak punya anak, karena akan terus merembet dan melekat pada anak cucunya nanti. Putu juga tidak pernah percaya akan ada rekonsiliasi politik, selama watak kekuasaan di Negara ini tidak berubah.

Julukan ex-tapol menghadang seseorang untuk berkiprah dibidang formal, seperti penulis, kombucahapendeta, guru. Masyarakat diberi legitimasi untuk memperlakukan mereka sesukanya, karena ex-tapol. Kode ex-tapol di KTP memang sudah dihapus, entah diganti dengan kode apa.

‘ Situasi itulah yang menjadi inspirasi, sumur bagi saya yang tidak pernah kering. Saya melakukan fight to be human again, saya tidak mau menjadi lalat oleh orba. Saya bayar pajak, saya menciptakan lapangan kerja,” terpancar semangat di wajahnya saat menceritakan perjalanan hidupnya selama menjalani hidup dengan embel-embel ex-tapol.

Saat pemerintahan Soeharto, sebagaian tulisan Putu Oka tidak beredar di Indonesia, tapi di Jerman dan Australia. Tulisannya sering dimuat dalam antologi dan pernah diterbitkan Kalyana Mitra sesuai dengan isu perempuan.

Apakah Putu pernah menggunakan nama samaran?

“ Beban buat saya, saya gak mau pake topeng, betapa tersiksanya pake topeng, siksaan berat,” tegas Putu, alasan Ia tidak memakai nama samaran untuk menulis novel-novelnya.

Dalam novel Merajut Harkat, ada tokoh Nio. Ia adalah cerminan pacarnya saat Putu Oka menjalani hukuman dalam penjara selama 10 tahun. Dimana Ia memberikan pilihan pada pacarnya, dan Nio, seperti dalam novelnya, memutuskan meninggalkan Putu. Ya, perjalanan 10 tahun di penjara, ia tulis dalam novel. Menurutnya banyak hutang pada keluarga selama Ia dipenjara, yaitu hutang kebaikan.

Kembali pada masa 1965 dan PKI. Putu menyarankan untuk melihat film-film documenter yang sudah diproduksinya untuk melihat gambaran masa itu. Putu yang anggota LEKRA, banyak menghasilkan karya-karya sastra dibidang menulis. Pernah jadi guru dan berjualan obat nyamuk juga tukang cukur untuk menyambung hidup. Putu merasa, selama menjadi tahanan Ia tidak punya akses hidup.

Selama menulis, Putu mencari media untuk tulisannya dan banyak dimuat di luar Indonesia. Tak heran, Putu kurang dikenal di Indonesia. “Saya menggunakan media-media yang mungkin memberikan peluang bagi saya,”

Seperti pada tahun 1985, dimana Goethe Institute memberikan peluang pada Putu untuk membacakan puisi dan cerpennya. Banyak teman-temannya datang untuk melihat. Jangan harap Putu bisa mentas di TIM.

“ Saya tidak pernah melepaskan imajinasi dan realitas, realitas adalah ibu kandung dari imajinasi,” terucap dari bibir Putu Oka. Saat menjawab pertanyaan dari peserta yang menyinggung tentang realitas dan imajinasi. Dan Putu pun membacakan sebaris puisinya tentang patung liberty. “ patung liberty, teringat saya di bui”

Putu merasa sesuatu itu puisi tidak bisa diolah menjadi cerpen. Dan sesuatu itu cerpen tidak bisa diolah jadi puisi. Baginya, menulis bukan hobi, menulis adalah media perjuangan buat seorang Putu Oka.

Ia menulis sejak usia 16 tahun. Dirangsang oleh pelajaran mengarang. Guru bahasa Indonesianya mengajarkan agar Putu menuliskan apa yang dialaminya. Awalnya Putu menulis hal-hal yang nakal dan menyentil kebiasaan orang Bali. Mulai dari batu bata yang dimpuk dan dikasih sesajen. Kenapa? Tidak ada yang bisa menjawabnya.

Birokrat di Negara ini tidak kompak memandang keahlian Putu Oka. Buktinya, Departemen Kesehatan memberikan peluang bagi Putu untuk bisa seminar dan membagi keahliannya pada masyarakat, berbeda dengan cara pandang Departemen Dalam Negeri terhadap putu.

Sekali lagi Ia menegaskan,” saya bukan PKI, saya Lekra. Lekra itu sebauh paguyuban seninam-seniman yang punya cita-cita ingin mengembangkan tradisi rakyat dan anti feodalisme. Kenapa? Karena tanah ini dikuasai oleh feodal. “

“Lekra bagi saya bukan menjadikan saya seniman, saya sudah jadi penulis, bukan karena Lekra.” Cita-cita Putu adalah ingin mengekspresikan diri. Menurutnya, tugas intelektual, cendekiawan dan ilmuwan itu sama, melakukan investigasi, eksplorasi hal-hal yang substansi di belakang fenomena. Dengan tegas dia bilang, kalau jadi pameo, peniru itu cuma tenga administrasi saja. Intelektual itu harus mampu mengekplorasi.

Putu juga menyinggung tentang Manifestasi Kebudayaan dan Lekra. Kedua institusi ini menyadari ada kekuasaan lain di atas Lekra dan Manifestasi Kebudayaan. Persamaan mendasar dari keduanya bisa dibaca pada salah satu buku yang ditulis oleh Gunawan Muhammad.

Saat ditanya, apakah ada kebencian dalam diri Putu Oka? Jawabannya, “ tidak ada kebencian. Hanya buang energy saya, Saya tidak menggunakan fasilitas kebencian dalam diri saya. Urusan orang benci saya, lain hal.”

Keahliannya dalam akupuntur dan tanaman obat telah membawanya keliling dunia di 23 negara. Seorang tahanan komunis ini pernah dua kali di undang ke Amerika.

“jangan bertanya apa makna hidup ini, tapi berikan makna pada hidup ini”

****

About these ads

13 thoughts on “Lika Liku Hidup Putu Oka Sukanta

  1. Saya kenal pak Putu tahun 2000, ketika sama2 aktif dikegiatan “Anti Kekerasan Terhadap Perempuan” bareng sama Nurul Arifin & Jajang Pamungkas.

    Pak Putu orangnya menyenangkan seperti perpustakaan berjalan, sy mengoleksi dua bukunya Merajut Harkat dan satu lagi tetantang HIV.

    Bonus jalan sama beliau adalah dpt terapi jarum gratis… :D

    Pernah juga bareng rombongan ke Taman Sringganis…menyenangkan lokasinya juga suasananya nyaman banget…

    Semoga sehat selalu pak Putu, salam buat keluarga dirumah dr Yudhistira

  2. Saya mendapat informasi dari teman koresponden saya di Bali bahwa pak Putu juga melakukan praktek akupuntur, kl mas penulis tau alamatnya dimana, saya mohon diinformasikan. Terima kasih

  3. Hi Diara….saya tulen cewek niy hehehehe
    Pak Putu Oka memang buka akupuntur juga, lokasinya di Taman Sringganis, di Cipaku.
    Bisa cari di google kok…hehehehe

  4. Hi Yudhis…
    iya taman Sringganis tuh menyenangkan ya…banyak tanaman obat
    apalagi kami mendapat kesempatan mendengarkan cerita masa lalu pak Putu yang dianggap PKI:)

  5. Ivone, setahu saya selain di Taman Sringganis, Batu Tulis Bogor di rumah beliau di Rawamangun Jakarta beliau dan istri juga buka praktek akupuntur.

  6. buku2 pak putu bagus. terima kasih banyak pak putu atas hadiah bukunya.

  7. Bangga memiliki seorang “Kakek” seperti Beliau..
    Pengetahuan dan falsafah hidup Beliau, begitu mengagumkan..
    Saya bukan seorang seniman maupun penulis seperti Beliau, tapi mendengar cerita dan bisa berhadapan langsung dengan Beliau, memiliki makna tersendiri bagi hidup saya..
    Semoga Beliau tetap eksis dan bisa membimbing generasi muda di Tanah Air, khususnya di Bali, di tanah kelahiran Beliau menjadi lebih ber-“warna”..

    Suksma..

  8. sbg orang singaraja, say amerasa bangga dan sangat ingin bila ada kesempatan bisa mewawancarai beliau….

  9. jadi pak putu sekarang tinggal dimana ya? saya ada proyek untuk membahas karya2 beliau. mohon tanggapan

  10. masih banyak yang perlu lg kita ketahui dalam ketimpangan kebijakan keadilan atas tragedi 1965. apa lagi kalian dah liat film’a the act of killing, bagus banget kalo buat bahan diskusi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s